JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Setelah malang melintang di dunia seni peran (film dan sinetron), aktris Elma Theana tak mau berhenti berkiprah. Juga bukan hal muskil manakala ekspetasinya ingin lebih dari yang pernah dilakukan. Tak sekadar sebagai pemain, tapi kini melangkah dengan menjadi produser film.
Keseriusan itu lantaran dalam kehidupannya selalu concern atau peduli pada anak-anak yatim. Dari situlah kemudian menginspirasi bagi Elma untuk diangkat menjadi sebuah karya film layar lebar. Pembuktiannya dengan kini melakoni debut sebagai produser untuk kali pertama lewat film ‘Anak-anak Bambu’.
Begitu rampung dan diperkenalkan pada awak media hiburan lewat press screening, film ‘Anak-anak Bambu’ dijadwalkan tayang bertepatan dengan Hari Anak Nasional (HAN) pada 23 Juli 2026 besok. Yakni dengan menghadirkan kisah inspiratif tentang keluarga, persahabatan, kepedulian terhadap anak yatim serta filosofi bambu sebagai simbol karakter bangsa Indonesia.
Saat hadir di acara peluncuran film di XX1 Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu (15/7/2026) sore, Elma bilang bahwa film ‘Anak-Anak Bambu’ lahir dari kisah nyata yang terinspirasi dari Rumah Bambu dan sosok Abah Jatnika yang selama ini dikenal sebagai pembina anak-anak sekaligus penggagas senam berbasis budaya Indonesia.
“Iya, ini merupakan film pertama (debut)saya sebagai produser. Ceritanya diangkat dari kisah-kisah yang memang ada di Rumah Bambu. Malah, saya ingin mengangkat cerita di balik Rumah Bambu ini. Syukur alhamdulillah, misi ini mendapat sambutan baik dari para eksekutif produser,” tegasnya.
Masin menurut penuturan Elma, film bukan hanya menjadi karya layar lebar semata. Tetapi, juga bagian dari gerakan sosial yang mengajak masyarakat lebih peduli kepada anak-anak yatim. Selama masa promosi, dirinya telah berkeliling ke lebih dari 10 kota, yakni untuk mengajak anak-anak yatim menonton film di bioskop.
“Harapannya, mudah-mudahan saja dari teman-teman media, bisa ikut membantu memperkenalkan film ini. Kami juga mengajak anak-anak yatim menonton bersama sebagai bagian dari gerakan yang ingin kami bangun,” paparnya lagi, panjang lebar.
Dengan segala pengalamannya bergelut di dunia sinetron, Elma berharap filmnya yang digarap menjadi film yang dapat mengetuk masyarakat dalam memperhatikan anak anak yatim. “Sementara saya belum berharap film ini nantinya laris penonton atau nggak. Tapi yang pasti, film ini bermanfaat untuk keluarga dan anak anak khususnya anak yatim,” ungkapnya.
FILOSOFI BAMBU SEBAGAI PONDASI KARAKTER BANGSA
Sedangkan sosok atau tokoh inspiratif di balik film ini, Abah Jatnika, turut menjelaskan bahwa pesan utama lewat film ‘Anak-Anak Bambu’ adalah guna membentuk generasi yang tangguh, tidak mudah menyerah serta memiliki karakter yang kuat.
Bahkan Abah pun menilai bambu merupakan simbol kehidupan yang sarat makna. “Pokoknya, jangan sampai kita membangun generasi yang lembek dan tidak tahan banting. Bambu mengajarkan kita tentang kebersamaan, kekuatan, manfaat, karya dan keindahan. Serumpun bambu sejuta makna, sejuta manfaat, sejuta karya dan sejuta pesona,” urainya.
Selanjutnya, Abah juga memperkenalkan senam ciptaannya yang menggabungkan gerakan pencak silat dari berbagai daerah di Indonesia. Sebut saja seperti pencak silat Cimande, Cikalong, Kumango, Randai hingga teknik pernapasan berbasis budaya Nusantara.
Dalam pandangannya bahwa senam tersebut menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia yang juga dan perlu diperkenalkan dalam film.
SUTRADARA : FILM INI BUKAN SEKADAR HIBURAN
Seperti diakui sutradara Dyan Sunu Prasetyo, dirinya langsung tertarik ketika diminta menggarap film tersebut, karena memiliki misi sosial yang kuat. Apalagi, baginya di film ‘Anak-Anak Bambu’ ingin menyampaikan bahwa setiap anak, termasuk anak-anak panti asuhan, berhak memperoleh kasih sayang. Termasuk kebahagiaan serta masa depan yang lebih baik.
“Film ini adalah gerakan kecil agar anak-anak Indonesia memiliki harapan. Filosofi bambu juga sangat kuat. Bambu itu lentur ketika diterpa badai, tetapi akan kembali berdiri tegak. Itu simbol karakter bangsa Indonesia,” sebutnya.
FILM ANAK DENGAN NILAI EDUKASI
Hal senada juga diungkapkan Eksekutif Produser, Jo dan Nugroho, dimana berharap film ‘Anak-Anak Bambu’ dapat menjadi tontonan keluarga yang menghadirkan edukasi tanpa menghilangkan unsur hiburan. “Justru, kami ingin menghadirkan film anak yang berbeda dari biasanya, penuh pelajaran hidup namun tetap nyaman dinikmati semua kalangan,” ucap dia.
Adapun film ‘Anak-anakBambu’ turut dibintangi sejumlah aktor dan aktris ternama. Antara lain Ayushita, Irgi Fahrezi, Indra Birowo, Sonny Septian, Fairuz A. Rafiq, Muhammad Adhiyat, Nadhira serta penampilan spesial King Faaz.
Perlu diketahui bahwa Ayushita yang memerankan karakter Bunda Neta, mengaku banyak melakukan pendalaman psikologis bersama sutradara agar karakternya terasa manusiawi. “Jadi, saya percaya, tidak ada manusia yang sepenuhnya jahat atau baik. Semua memiliki proses dan latar belakang masing-masing,” bilangnya.
Irgi Fahrezi menilai film ‘Anak-anak Bambu’, mengutamakan kualitas cerita dan pesan moral dibanding sekadar mengejar aspek komersial. “Film ini bicara tentang support system, keluarga, lingkungan dan bagaimana Rumah Bambu membentuk anak-anak yang berkualitas,” katannya.
Begitu pula aktor cilik Muhammad Adhiyat yang memerankan sosok Gebang, menyebut pengalaman bermain di Rumah Bambu memberikan pelajaran berharga tentang arti keluarga. “Bagi saya satu kata yang menggambarkan film ini adalah keluarga. Keluarga tidak harus memiliki hubungan darah, tetapi orang-orang yang membuat kita merasa aman dan nyaman,” jelasnya.
Nadhira, yang juga membawakan soundtrack film, menyebut tema besar film tersebut adalah persahabatan dan semangat untuk selalu bergembira. Sedangkan Indra Birowo merangkum pesan film dengan satu kalimat singkat, “Rumah adalah segalanya.”
Sonny Septian ikut menambahkan bahwa film tersebut mengajarkan makna kebahagiaan yang sederhana. “Seperti bambu, ketika diterpa badai kita tidak perlu melawan angin. Kita cukup tetap berakar kuat dan akan kembali berdiri tegak setelah badai berlalu,” ujarnya.
Sementara itu Fairuz A. Rafiq menilai seluruh karakter dalam film memang tidak digambarkan sempurna, namun dipersatukan oleh kekuatan cinta. “Kami semua di film ini tidak sempurna. Tetapi, kami mempunyai cinta. Pada akhirnya, cintalah yang membuat semuanya menjadi utuh,” tegas putri dari seniman dan penyanyi melayu dangdut legenda, A. Rafiq.
TAYANG BERTEPATAN DI HARI ANAK NASIONAL
Dengan mengangkat nilai kemanusiaan, pendidikan karakter, budaya Indonesia, serta kepedulian terhadap anak yatim, Anak-Anak Bambu diharapkan menjadi alternatif tontonan keluarga yang menginspirasi.
Film produksi perdana dari Elma Theana sebagai produser ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 23 Juli, bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional (HAN). Malah diharapkan bisa ditonton jutaan anak-anak Indonesia, baik di kota-kota besar maupun daerah. ® RED/AGUS SANTOSA