JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Keluarga Ayma Nabila (siswa korban) yang merupakan putri dari pasangan praktisi kesehatan tradisional Chandra Wahyu dan influencer Sylvia Nabila, berharap pihak sekolah serius menangani dugaan perundungan (bullying). Bahkan meminta penyelesaian bersikap adil dan bijaksana.
Keinginan atau harapan tersebut di atas, disampaikan setelah Chandra Wahyu dan Sylvia Nabila yang didampingi kuasa hukum Ekky Zakiah Aziz SH dan Siti Rohayati, SH MH mendatangi SMA Perguruan Cikini di Jalan Duren Tiga Raya No.14, Pancoran, Jakarta Selatan, guna meminta penjelasan dari pihak sekolah terkait peristiwa yang menimpa putri mereka.
Diceritakan Sylvia Nabila, perubahan sikap Ayma mulai terlihat ketika putrinya pulang sekolah dalam keadaan murung. Bahkan tidak berselera makan dan juga memilih memendam apa yang dirasakannya. Tentu sebagai seorang ibu, Sylvia berusaha mengajak Ayma berbicara hingga akhirnya sang putri tak kuasa menahan tangis.
“Padahal, aku tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Tapi, kenapa mereka menuduh aku bersikap yang tidak-tidak,” ungkap Ayma kepada ibunya.
Dalam celurhuatannya, Ayma mengaku sempat didatangi oleh sejumlah kakak kelas di area kantin sekolah dan mendapat teguran di hadapan banyak orang, disertai kalimat-kalimat yang menurutnya bernada provokatif. Beberapa hari sebelumnya, Ayma juga mengaku menerima pesan singkat yang berisi kata-kata yang dianggap tidak pantas.
Begitu tahu kondisi putrinya, Sylvia segera menyampaikan hal tersebut kepada suaminya, Chandra Wahyu yang saat itu sedang menangani pasien di kliniknya. Chandra kemudian meminta agar pihak sekolah dihubungi untuk memperoleh penjelasan dan sekaligus mencari solusi terbaik bagi semua pihak.
Tentu saja sebagai seorang pendidik di LKP Bonte Center Nusantara, Chandra Wahyu menegaskan bahwa dirinya selalu mengajarkan pentingnya tanggung jawab atas setiap tindakan dan keputusan.
“Selama ini, saya selalu mengajarkan kepada para peserta didik bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi. Kebiasaan menormalisasi kesalahan justru dapat membuat seseorang menganggap tindakan yang keliru sebagai sesuatu yang biasa. Nilai tanggung jawab harus ditanamkan sejak dini agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana,” ungkap Chandra.
Namun setelah mendengarkan penjelasan dari guru Bimbingan Konseling beserta jajaran guru yang mendampingi, Chandra menyampaikan bahwa keluarga tidak ingin persoalan ini hanya berakhir sebagai sebuah kesalahpahaman semata. Menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi pembelajaran bersama agar tidak terulang kepada siapa pun di masa mendatang.
Kemudian melalui kuasa hukumnya, Ekky Zakiah Aziz SH dan Siti Rohayati SH MH, keluarga Ayma meminta pihak sekolah mempertemukan seluruh pihak yang diduga terlibat beserta orang tua masing-masing. Pertemuan tersebut diharapkan dapat menghasilkan klarifikasi, permintaan maaf yang tulus apabila memang diperlukan. Selain komitmen bersama agar Ayma memperoleh rasa aman dan tidak lagi mengalami gangguan, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
Dalam pandangan kuasa hukum keluarga, persoalan dugaan perundungan terhadap anak merupakan isu yang mendapat perhatian serius dari negara karena menyangkut perlindungan hak-hak anak serta kesehatan mental mereka.
“Sebab, anak-anak itu merupakan tanggungjawab kita bersama. Di lingkungan sekolah mereka berada dalam tanggungjawab institusi pendidikan. Sedangkan jika di luar sekolah, justru menjadi tanggungjawab orangtua. Karena itu, setiap dugaan perundungan perlu ditangani secara profesional, objektif dan mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak,” tegas Ekky Zakiah Aziz.
Pada bagian lain, pihak keluarga juga meminta agar rekaman CCTV di area kantin serta dokumentasi video yang sempat beredar di kalangan siswa dapat dijadikan bahan klarifikasi. Menurut keluarga, beredarnya rekaman tersebut di media sosial berpotensi memberikan dampak yang lebih luas terhadap kondisi psikologis Ayma maupun masa depannya yang saat ini sedang merintis karier di dunia hiburan.
Sekarang ini, Ayma masih menjalani proses asesmen psikologis oleh psikiater. Menurut penuturan keluarganya, sejak kejadian tersebut Ayma menunjukkan perubahan perilaku yang cukup signifikan. Ia menjadi lebih mudah menangis, merasa cemas, dan mengalami ketakutan untuk tidur sendiri sehingga membutuhkan pendampingan dari ibunya.
Pihak keluarga pun berharap pihak sekolah tetap menjaga komitmen dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk perundungan. Mereka juga berharap setiap langkah penyelesaian dilakukan secara adil, edukatif, dan memberikan pembelajaran kepada seluruh siswa mengenai pentingnya menghormati sesama serta bertanggung jawab atas setiap tindakan.
Tapi, bagi pasangan Chandra Wahyu dan Sylvia Nabila, tujuan utama dari langkah yang mereka tempuh bukanlah memperpanjang persoalan, melainkan memastikan bahwa tidak ada lagi anak yang harus mengalami pengalaman serupa.
“Justru setiap anak berhak merasa aman ketika datang ke sekolah. Kami percaya pendidikan bukan hanya soal prestasi akademik, tetapi juga tentang membangun karakter, empati, dan rasa tanggung jawab. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak agar lingkungan sekolah benar-benar menjadi tempat yang aman bagi setiap anak untuk tumbuh dan meraih cita-citanya,” urai Chandra Wahyu, mengakhiri keterangannya. ® RED/AGUS SANTOSA