Tokoh Papua Sergius Womsiwor Ingatkan Pembagunan Strategis Harus Dimulai dari Pendidikan Anak

MERAUKE (POSBERITAKOTA) – Tokoh Pendidikan Papua, Sergius Womsiwor, mengingatkan bahwa percepatan pembangunan di Papua harus berjalan seiring dengan penguatan kualitas pendidikan masyarakat.

Dalam pandangannya bahwa pembangunan strategis akan memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan apabila dimulai dari pembangunan sumber daya manusia, khususnya melalui peningkatan akses pendidikan bagi anak-anak Papua.

Hal tersebut di atas dilontarkan Sergius dalam Konsultasi Publik bertajuk “Perumusan Model Pendidikan Nonformal Berbasis Komunitas, Pendampingan Belajar, dan Pengasuhan yang Berakar pada Budaya Lokal dalam Menjaring Aspirasi, Menyelaraskan Aksi, Mewujudkan Generasi Papua Unggul” yang diselenggarakan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di Aula Anim Ha, Merauke, Jumat (24/7/2026) kemarin.

Ditambahkan Sergius lebih lanjut bahwa hingga saat ini dunia pendidikan di Papua masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tingginya angka anak putus sekolah, keterbatasan akses pendidikan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), hingga belum optimalnya perhatian terhadap ketersediaan tenaga pendidik maupun pemenuhan kebutuhan dasar peserta didik.

“Sedangkan persoalan pendidikan di Papua tidak hanya berkaitan dengan keberadaan sekolah, tetapi juga menyangkut akses, ketersediaan guru, serta dukungan terhadap kebutuhan dasar anak-anak agar mereka dapat mengikuti proses belajar secara berkelanjutan,” tegas Sergius Womsiwor dalam keterangan kepada wartawan.

Dalam konteks pembangunan, termasuk berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tengah berlangsung di Papua, Sergius menilai perhatian terhadap pendidikan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap kebijakan pembangunan.

“Adapun pembangunan infrastruktur akan memberikan manfaat yang optimal apabila diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama bagi anak-anak masyarakat adat di wilayah yang mengalami transformasi pembangunan,” ujarnya.

Bisa jadi salah satu solusi, Sergius memperkenalkan model layanan pendidikan inklusif melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dengan pendekatan berbasis asrama. Model tersebut, menurutnya, telah memberikan kesempatan belajar bagi anak-anak yang selama ini belum mampu menjangkau pendidikan formal karena berbagai keterbatasan.

“Lewat PKBM berbasis asrama, anak-anak tetap dapat memperoleh layanan pendidikan sekaligus pembinaan karakter dalam lingkungan yang mendukung proses belajar mereka,” paparnya.

Sergius juga menjelaskan bahwa pendekatan tersebut telah menunjukkan hasil yang positif. Sejumlah peserta didik yang mengikuti program PKBM berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, memperoleh pekerjaan, bahkan mengabdikan diri sebagai aparatur negara.

“Pengalaman ini menunjukkan bahwa ketika akses pendidikan diberikan secara merata, anak-anak Papua memiliki kemampuan untuk berkembang dan memberikan kontribusi bagi masyarakat maupun negara,” ujarnya.

Sergius berharap pemerintah terus memperkuat kebijakan pendidikan melalui pengembangan PKBM, penyediaan tenaga pendidik yang memadai, pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, serta perluasan akses layanan pendidikan, terutama bagi masyarakat di wilayah 3T.

Dirinya menilai bahwa upaya tersebut memerlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, tokoh adat, dan masyarakat agar pendidikan berbasis komunitas dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Ketika pendidikan nonformal berbasis komunitas dikembangkan dengan baik dan didukung nilai-nilai multikultural, maka pendidikan tidak hanya memperluas akses belajar, tetapi juga memperkuat modal sosial dan budaya masyarakat. Inilah fondasi penting untuk mewujudkan pembangunan kampung yang berkeadilan, inklusif, dan tetap berakar pada identitas budaya Papua,” tutup Sergius. ® RED/APRILIO RIZKI /EDITOR : GOES

Related posts

Ucapan Presiden Prabowo Menyita Perhatian Publik, Ketika Wartawan Dilabeli ‘Londo Ireng’

Tampil Anggun dan Menyala, Perancang Busana Migi Rihasalay Pakai ‘Kebaya Merah’ di Perayaan HKN 2026

Bukan Narasi Perlebar Jurang Perbedaaan, Akademisi ‘UMI’ DR RASMINTO: Papua Butuh Kebijakan yang Berbasis Data