OLEH : MUTAWAKKIL ABU RAMADHAN II
PERNAHKAH kita merenung? Kapan sebenarnya rakyat ini benar-benar diperlukan oleh para elit negeri? Jawabannya sederhana, yaitu hanya ketika mereka butuh legitimasi, butuh tenaga, butuh suara dan butuh rakyat sebagai tameng.
Di luar itu, rakyat seringkali dianggap sekadar angka suara, massa yang bisa digerakkan, lalu ditinggalkan begitu saja. Sementara penghasilan para elit itu sudah mencukupi biaya hidup mereka dan keluarganya.
Lihatlah kenyataan di lapangan, rakyat hidup dalam serba kekurangan, dikejar pajak, dicekik Pinjol, harga naik, pekerjaan sulit, PHK mengancam, rakyat yang terjepit itu sering dihina hina baik oleh sesama rakyat maupun elit itu sendiri, sementara para elit bergelimang kenyamanan.
Ironisnya, rakyat justru seolah-olah dibuat merasa membutuhkan para elit. Padahal faktanya terbalik: tanpa rakyat, para elit itu hanyalah nama kosong tanpa pengaruh. Mereka nggak bakal dapat suara, nggak bakal dapat gaji besar, nggak bakal punya status sosial, dan nggak bakal punya jaringan kuat untuk mempertahankan kepentingannya.
Yang membuat lebih miris, rakyat dipaksa menunduk dengan retorika indah, visi-misi manis, dan janji-janji yang mengunci pikiran rakyat yang sederhana. Demokrasi yang mereka agung-agungkan ternyata lebih sering menjadi panggung sandiwara untuk menutup ambisi, kenyamanan hidup dan bahkan kerakusan mereka.
Kerusuhan akhir-akhir ini adalah cermin telanjang. Rakyat turun ke jalan karena perut lapar dan hidup yang makin terjepit, karena aspirasi yang mereka sampaikan tampak jelas, tetapi nyatanya tak kunjung diwujudkan.
Lebih parah lagi, suara rakyat yang diekspresikan lewat aksi kemarin dibajak oleh penyusup bayaran yang, bila dilihat dengan akal sehat, justru sedang mengabdi pada kepentingan elit.
Mereka membuat onar, membakar fasilitas umum, menjarah rumah rumah, itu untuk merusak citra rakyat, lalu opini pun dipelintir. Rakyat dituduh anarkis, padahal yang diperjuangkan hanyalah hak untuk hidup layak dan bertahan.
Liciknya, ada agenda lebih besar di balik semua itu: menciptakan kekacauan untuk melemahkan pemerintah yang mulai berani mengeluarkan kebijakan pro rakyat. Akhirnya rakyat kembali jadi korban, dijadikan bidak dalam perang elit melawan elit.Allah sudah mengingatkan dalam firman-Nya :
وَيُرِيدُ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلشَّهَوَٰتِ أَن تَمِيلُوا۟ مَيْلًۭا عَظِيمًۭا
“Orang-orang yang mengikuti hawa nafsu itu ingin sekali agar kamu menyimpang sejauh-jauhnya.” (An-Nisa: 27)
Bukankah jelas, bahwa banyak elit justru mengikuti syahwat kekuasaan dan kekayaan, dan rakyat didorong untuk menyimpang dari kesadaran hakikinya?
Menjelang Pemilu, drama ini berulang. Rakyat menjadi lahan subur untuk doktrin, mulai dari janji sejahtera, jargon keadilan, sampai iming-iming recehan. Bahkan kini, iming-iming pun tak perlu, pengalaman panjang para elit itu menjadi sanggup membekap rakyat dengan retorika kosong yang menghanyutkan.
Mereka sudah terbiasa membalik kata-kata, seakan hidup mereka menderita demi rakyat. Padahal sesungguhnya itu adalah dusta, hidup mereka jauh lebih tenang, lebih mapan dan lebih nikmat, meski tak korupsi sekalipun karena memakai anggaran negara. Anggota dewan, pejabat, konglomerat semuanya hidup dalam zona nyaman yang rakyat biasa hanya bisa mimpikan.
Rakyat hanyalah mesin produksi. Keringat rakyat adalah bahan bakar kemakmuran mereka. Ketika rakyat bergerak idealis, setelah masuk lingkaran kekuasaan, idealisme itu tinggal manis di mulut. Mulut dan tulisan mereka bisa menjatuhkan air mata, tapi air mata itu seringkali air mata buaya. Imam Abu Hasan al-Asy’ari pernah menegaskan dalam Maqalaat al-Islamiyyin :
الحق لا يُعرف بالرجال، اعرف الحق تعرف أهله
“Kebenaran itu tidak diukur dengan manusia, kenalilah kebenaran maka engkau akan tahu siapa yang menempuhnya.”
Kata-kata ini pas untuk kita renungkan. Rakyat tidak boleh lagi mengukur kebenaran dari mulut elit, melainkan dari wujud ketaqwaan dan keadilan yang nyata.
Maka hikmahnya, kita sebagai rakyat jangan lagi terbuai oleh rayuan kosong orang-orang yang mengejar kursi. Jalan kekerasan tentu bukan pilihan, tapi kita perlu belajar untuk menyadari kekuatan kita sendiri.
Pertanyaan terbesar yang harus kita jawab bersama adalah : Bagaimana caranya membuat para elit itu tunduk pada rakyat yang miskin dan lusuh? Mungkin jawabannya bukan di tangan satu orang, tapi dalam kesadaran kolektif rakyat yang mau saling mendengar, mau bersatu, dan mau berhenti ditipu. Dialog rakyat dengan rakyat, dan itulah jalannya. Dan di dalam dialog itu, posisi ulama tak boleh dikesampingkan. Rasulullah SAW telah bersabda :
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Ulama adalah pakem kuat dalam sistem ajaran kita. Mereka adalah cahaya yang menjaga agar suara rakyat tidak terseret dalam gelombang kebodohan dan tipu daya. Sayangnya, para elit sering merendahkan dan mempermainkan ulama dengan harta dan kuasa mereka.
Para sarjana non ulama kerap memandang rendah ulama karena mereka merasa sudah menguasasi semua ilmu akibat falsafah materialisme yang mereka serap baik secara sadar atau tidak selama mereka belajar. Justru rakyat jelata yang masih banyak menghormati ulama secara tulus…sangat tulus sekali.
Namun penting untuk ditegaskan, ulama dalam Islam sama sekali tidak bisa disamakan dengan posisi dukun dalam masyarakat yang menjual mitos dan kesaktian tanpa berpikir sehat. Risalah pertama ke-Nabian Muhammad SAW dimulai dari firman Allah SWT :
ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ • ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ
• عَلَّمَ ٱلْإِنسَـٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang mengajar dengan pena, mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq: 3-5)
Awal risalah Nabi SAW dimulai dengan Iqro’ (baca) dan Qalam (tulis). Dua kata ini sudah cukup menunjukkan bahwa jalan para ulama adalah jalan ilmu. Ulama tidak mewariskan kesaktian mandraguna para Nabi dan Rasul, melainkan ilmu tentang kebenaran, keadilan, jalan hidup yang lurus, cara berpikir yang sehat, istiqamah, dan ketakwaan. Semua itu lahir dari kedalaman khazanah keilmuan yang diwariskan secara estafet oleh para ulama selama lebih dari satu milenium.
Syekh Mahmoud Syaltut, mantan Grand Syekh Al-Azhar, pernah mengingatkan :
الأمة التي لا تحترم علماءها أمة محكوم عليها بالتيه والضياع
“Umat yang tidak menghormati ulamanya adalah umat yang ditakdirkan hidup dalam kesesatan dan kehilangan arah.” (Fatawa, h. 482)
Dan, Syekh Ahmad At Tayyib, Grand Syekh Al-Azhar saat ini, menegaskan dalam salah satu khutbahnya :
العلماء هم صمام الأمان لهذه الأمة، إذا سقطت هيبتهم سقطت الأمة كلها في فوضى وضياع
“Para ulama adalah katup pengaman umat ini. Jika wibawa mereka runtuh, maka seluruh umat akan jatuh dalam kekacauan dan kehilangan arah.”
Karena itu, kebangkitan rakyat hanya akan menemukan arahnya jika bersama ulama yang istiqamah membela kebenaran, bukan bersama mereka yang memperalat ilmu untuk melayani kepentingan kekuasaan. (***/goes)
(PENULIS : MUTAWAKKIL ABU RAMADHAN II adalah Ulama dan kini tinggal di Jawa Timur)

