BALI (POSBERITAKOTA) – Pengamat sosial dan politik I Gusti Putu Artha menyoroti rencana penutupan TPA Suwung. Ia menduga adanya kepentingan politik di balik langkah ini. Pernyataan tersebut disampaikan dalam talk show di Pantai Kelan, Kuta, Badung, Sabtu (23/5/2026) malam.
Artha membandingkan kondisi tempat pembuangan akhir (TPA) di Bali dengan TPA lain di Indonesia. TPA Bantargebang di Bekasi dan TPA Kebon Kongok di Mataram tidak mendapat tekanan serupa. “Ada dugaan kuat kepentingan politik di balik penutupan fasilitas ini,” kata Putu Artha. Ia melihat perbedaan perlakuan ini sebagai indikasi.
Ia mencurigai adanya titipan politik dalam isu penutupan ini. PT Bali Turtle Island Development (BTID) juga disebut terlibat dalam tekanan tersebut.
Perusahaan ini pernah meminta pembersihan kawasan TPA Suwung pada tahun 2023. Permintaan tersebut terekam jelas dalam jejak digital.
Langkah ini tanpa solusi alternatif sangat berisiko. Artha mengingatkan dampak buruk bagi masyarakat Bali. Kebijakan ini dapat menimbulkan masalah lingkungan baru serta kesulitan membuang sampah.
Namun, tekanan terkait isu pengelolaan limbah ini memiliki sisi positif. Hal ini dapat mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah. Pengelolaan sampah mandiri menjadi lebih penting dan mendesak.
Menteri Lingkungan Hidup diminta menunda penutupan fasilitas tersebut. Penundaan harus dilakukan hingga fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) beroperasi penuh. Rencana penutupan permanen TPA Suwung dijadwalkan 31 Agustus 2026.
Talk show “Bali Darurat Sampah: Lantas Gerak Apa yang Bisa Kita Lakukan?” diselenggarakan Aliansi BEM se-Bali Dewata Dwipa dan Malu Dong. Penulis Fabiola Dianira hadir sebagai pembicara. Pernyataan I Gusti Putu Artha dimuat di detikBali. ® RED/BALI 01

