PosBeritaKota.com
Daerah

Masa Penerimaaan Anggota Baru, KMHDI Buleleng Soroti Potensi Ketergantungan AI dalam Pendidikan

BALI (POSBERITAKOTA) – Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PC KMHDI) Buleleng menyoroti potensi ketergantungan AI pendidikan. Hal ini disampaikan dalam Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) ke-XXXI. Acara berlangsung di Aula Rektorat Institut Mpu Kuturan (IMK), Buleleng, Minggu (31/5/2026).

MPAB ke-XXXI mengusung tema “Membentuk Kader Kritis dalam Menjawab Tantangan Pendidikan Generasi Hindu”. Kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta. Perwakilan organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan turut hadir. Akademisi dan unsur pemerintah daerah juga hadir dalam acara tersebut.

Dr. Ayu Veronika Somawati menjadi salah satu narasumber. Beliau adalah Ketua Prodi Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan IAHN Mpu Kuturan. Ia menilai generasi saat ini sebagai “generasi scroll”. Mereka tumbuh di tengah derasnya arus informasi digital.

Pola konsumsi informasi cepat membentuk kebiasaan baru. Generasi muda terbiasa menerima banyak info singkat. Mereka memiliki rentang perhatian lebih pendek. Mereka cenderung bereaksi sebelum analisis mendalam. “AI dapat membantu proses pembelajaran,” ujar Dr. Ayu. “Namun, berpotensi menimbulkan ketergantungan jika tidak diimbangi berpikir kritis.”

Tantangan pendidikan tidak hanya soal teknologi. Rendahnya literasi dan lemahnya pendidikan karakter juga menjadi masalah. Orientasi pendidikan masih berfokus pada nilai dan ijazah. Oleh karena itu, berpikir kritis sangat penting bagi generasi muda. Kemampuan ini membantu memahami persoalan mendalam.

Dr. I Nyoman Suka Ardiyasa juga menekankan hal serupa. Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAHN Mpu Kuturan ini hadir sebagai narasumber. Ia menyoroti pentingnya budaya berpikir kritis. Ini krusial di tengah derasnya arus informasi digital.

Masyarakat perlu membiasakan verifikasi informasi. Ini dilakukan sebelum mempercayai atau menyebarkannya. “Di era digital, informasi menyebar sangat cepat,” kata Dr. Ardiyasa. “Kita perlu berpikir kritis agar tidak mudah tertipu hoaks.”

Dalam paparannya, Dr. Ardiyasa mengangkat konsep “Meboya”. Ini adalah budaya khas masyarakat Bali Utara. Meboya mengajarkan untuk tidak langsung menerima informasi. Proses pengecekan dan pembuktian harus dilakukan.

Budaya Meboya tumbuh dari sejarah Buleleng. Buleleng merupakan kawasan pelabuhan. Berbagai budaya, gagasan, dan kepentingan bertemu di sana. Ini membentuk karakter masyarakat yang kritis. Mereka terbiasa berdiskusi dan menguji informasi.

Dr. Ardiyasa mengajak generasi muda menerapkan prinsip sederhana di media sosial. Berpikir sebelum memberi tanda suka. Memeriksa sebelum membagikan informasi. Memahami sebelum berkomentar. Mencari fakta sebelum menghakimi.

Komang Dia Damayanti, Ketua PC KMHDI Buleleng, turut menyampaikan pandangannya. MPAB bukan hanya pengenalan organisasi. Ini juga wadah pembentukan kader yang kritis. Kader harus peka terhadap persoalan sosial.

Kaderisasi kuat diperlukan bagi generasi muda Hindu. Mereka harus mampu beradaptasi dengan zaman. Kemampuan berpikir mandiri tidak boleh hilang. “Kami berharap kegiatan ini menjadi awal kolaborasi,” ujar Komang Dia. Tujuannya menjawab tantangan generasi muda.

Melalui kegiatan ini, KMHDI Buleleng berupaya membangun generasi muda. Mereka tidak hanya melek teknologi. Namun juga memiliki kemampuan berpikir kritis. Ini penting untuk menghadapi potensi ketergantungan AI pendidikan secara bijak. ® RED/BALI 01

Related posts

Di Hari Amal Bhakti ke-64 Adhyaksa, KAJARI Berziarah ke TMP & Pendiri Indramayu

Redaksi Posberitakota

Tindak Tegas Jika Ada Penyimpangan, POLRES TARAKAN Kerahkan 221 Personel Kawal Aksi Damai Supir Truk

Redaksi Posberitakota

Setelah Presiden Jokowi, CAMELIA PANDUWINATA Sengaja Mampir Cicipi Bakmi & Nasi Goreng Pak Pele di Yogyakarta

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang