JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Perjalanan karier Henri Firdaus menjadi Direktur Utama PT PLN Energy Management Indonesia (PLN EMI) memang tak instan. Alumni Teknik Informatika Institut Teknologi PLN (ITPLN) angkatan 1999 itu mengaku sempat gagal saat mengikuti proses seleksi masuk PT PLN (Persero). Namun, kegagalan tersebut justru menjadi titik balik yang membawanya menjadi salah satu nakhoda transformasi energi di lingkungan PLN Group.
Saat bersilaturahmi dengan mahasiswa ITPLN, Henri menceritakan dirinya sempat gagal pada tahapan wawancara karena belum bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia.
“Saya masuk PLN itu setelah sempat gagal. Waktu wawancara saya bilang belum siap ditempatkan di seluruh Indonesia karena kondisi orangtua sedang sakit. Akhirnya saya tidak lolos,” ujar Henri di kampus ITPLN, belum lama ini.
Kesempatan kedua datang beberapa waktu kemudian. Kali ini Henri menyatakan kesiapannya untuk bertugas di mana pun. Ia berhasil lolos seluruh tahapan seleksi, termasuk tes kesehatan.
“Alhamdulillah akhirnya diterima di PLN dan ditempatkan di unit pertamanya yaitu PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu (S2JB). Bahkan, untuk menempuh perjalanan ke sebuah unit kerja pernah mencapai 20 jam lewat jalur darat,” katanya.
Karier Henri dimulai pada 2006 di PT PLN (Persero). Setelah bertugas di PLN S2JB, ia kembali ke Jakarta bertugas Asisten Manajer Perencanaan di Unit Pelaksana Pelayanan (UP3) di Cempaka Putih dan Ciputat sebelum dipercaya memimpin sebagai Manajer sejumlah wilayah pelayanan di Aceh (1,5Tahun), Banyuwangi (11 Bulan) dan Kediri (3 Tahun).
Di Jakarta melahirkan Inovasi Info PLN yang merupakan Cikal Bakal PLN Mobile.
Salah satu inovasi yang lahir dari gagasannya adalah Info PLN, platform digital layanan informasi pelanggan yang kemudian berkembang menjadi fondasi digital menuju aplikasi PLN Mobile. Transformasi digital tersebut menjadi salah satu tonggak perubahan pelayanan PLN dari sistem konvensional menuju layanan berbasis aplikasi yang kini digunakan jutaan pelanggan di seluruh Indonesia.
Penugasan di Aceh menjadi salah satu pengalaman paling berkesan. Wilayah kerja yang mencakup Aceh Barat Selatan yakni Singkil, Subulussalam, Kota Fajar, Tapak Tuan, Labuan Haji hingga Blangpidie membuat perjalanan pulang ke Jakarta dari kantor pelayanan terjauhnya bisa memakan waktu hingga 18 jam.

Menurut Henri, pengalaman bertugas di berbagai daerah membentuk cara pandangnya bahwa listrik bukan sekadar layanan, tetapi menjadi penggerak utama pembangunan ekonomi, agama, budaya, sosial serta pendidikan yang lebih baik untuk masyarakat.
Dalam perjalanan kariernya, Henri juga tercatat menghasilkan sedikitnya 12 karya inovasi nasional PLN, penghargaan Darma Karya kementrian ESDM, serta masuk dalam jajaran Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Nasional Kementrian PAN RB
Pencetus Electrifying Agriculture
Nama Henri juga dikenal sebagai salah satu penggagas konsep Electrifying Agriculture, program pemanfaatan listrik untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian.
Ia menceritakan pengalaman saat bertugas di Banyuwangi pada 2017–2018 ketika membantu petani buah naga memanfaatkan pencahayaan berbasis listrik.
“Dulu buah naga hanya panen satu kali dalam setahun. Setelah menggunakan pencahayaan listrik pada malam hari, tanaman bisa berbuah di luar musim hingga saat ini selalu tersedia. Dari situ kami melihat bagaimana listrik benar-benar mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani,” jelas Henri.
Menurutnya, keberhasilan elektrifikasi pertanian diperluas ke sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan pertambangan sebut menjadi embrio lahirnya program Electrifying Agriculture yang kemudian dikembangkan secara nasional oleh PLN.
Program tersebut kini menjadi bagian dari strategi PLN dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan konsumsi listrik produktif di sektor pertanian.
Komitmen Henri terhadap pengembangan sektor pertanian tidak berhenti pada implementasi di lapangan. Saat ini ia tengah menempuh pendidikan doktor di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan fokus riset mengenai strategi peningkatan ketahanan pangan nasional melalui efektivitas program elektrifikasi pertanian.
Ia meyakini pemanfaatan energi listrik akan menjadi salah satu solusi menghadapi tantangan ketahanan pangan Indonesia.

“Ke depan jumlah penduduk Indonesia akan terus meningkat hingga 300juta jiwa di tahun 2035. Tantangan terbesar nanti adalah pangan. Di sinilah energi memiliki peran sangat penting dalam meningkatkan produktivitas, menurunkan biaya operasi, meningkatkan produksi sekaligus nantinya kesejahteraan petani dan masyarakat,” tuturnya.
Henri juga menilai transisi energi dan dekarbonisasi akan membuka peluang besar bagi lahirnya green jobs yang membutuhkan sumber daya manusia dengan kompetensi di bidang energi baru terbarukan, manajemen energi, hingga keberlanjutan.
Kini, Henri Firdaus telah mengabdi lebih dari 20 tahun di PLN Group. Ia merupakan lulusan ITPLN tahun 1999, kemudian melanjutkan pendidikan Magister Manajemen di Universitas Sriwijaya dan saat ini menempuh program doktor Manajemen Teknologi di ITS.
Kariernya meliputi berbagai posisi strategis, mulai dari manajer pelayanan pelanggan di Aceh dan Banyuwangi, Vice President Market Intelligence and Economy Analytics di Kantor Pusat PLN, Senior Manager PLN UID Riau dan Kepulauan Riau, hingga akhirnya dipercaya menjabat Direktur Utama PT PLN Energy Management Indonesia pada 2025.
Selain aktif memimpin transformasi bisnis energi, Henri juga dikenal sebagai peneliti dengan lebih dari 14 publikasi nasional dan internasional di bidang inovasi, elektrifikasi pertanian, transisi energi, keberlanjutan, dan manajemen energi.
Henri berpesan agar generasi muda tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga aktif mengikuti seminar, forum ilmiah, dan konferensi serta asosiasi keilmuan dan praktisi teknologi untuk memperluas wawasan.
“Teman-teman sekarang sudah berada di jalur yang tepat. Transisi energi, dekarbonisasi, dan energi baru terbarukan akan menghadirkan peluang yang sangat besar bagi generasi mendatang,” pungkasnya. ® RED/RAMADHAN ALDIANSYAH/ EDITOR : GOES

