Indahnya Silaturahmi Religi dalam Ajang Majelis Dzikir Rutin di Blok AN VGH RW 25 Kebalen

BEKASI (POSBERITAKOTA) – Tak terasa sudah berjalan selama empat pekan – setiap malam Jumat – ajang silaturahmi religi bergulir di lingkungan RW 25 Blok AN warga RT 04 sampai 07 Perumahaan Villa Gading Harapan (VGH) Gerbang Timur, Kelurahan Kebalen, Babelan, Bekasi Utara.

Didasari oleh sebuah komitmen sejumlah warga yang ‘dipelopori’ Yayat dan Amin, kepengen mengaktualisasikan jati diri dalam konteks keagamaan. Tentu saja, tanpa ada yang merasa sebagai guru atau murid, tapi ingin belajar bersama dengan tujuan untuk meningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Mungkin belum ideal sebagai sebuah majelis atau minimal merupakan pengajian kecil yang punya rutinitas, tapi setidaknya niat baik yang dibangun bakal berbuah kebaikan maupun kemaslahatan bagi keluarga dan lingkungan para jamaah itu sendiri. Insya Allah niatnya bakal diijabah.

“Embrionya dari sebuah tempat tongkrongan di sebuah saung kecil di lingkungan Blok AN. Kami setiap malam nongkrong dan membicarakan banyak hal soal kehidupan. Nah, kalau kemudian terinspirasi bikin wadah pengajian seperti ini, Insya Allah karena digerakkan oleh hati dan jiwa,” ucap Yayat, sang penggagas.

Hal senada juga dituturkan Amin yang sementara dipercaya memimpin pembacaan surat yasin sampai berdzikir. Pria jebolan pesantren satu ini, memaknai wadah yang dibangun bersama sejumlah warga sebagai sebuah proses perjalanan hidup yang harus dilalui dan dilakoni.

Dalam filosofi kehidupan setiap manusia (orang) atau keluarga, menurut pekerja profesional di bidang otomotif tersebut, pasti memiliki tujuan yang sama yakni kenyamanan duniawi dan pada gilirannya akan membawa sesuatu untuk bekal di akherat nanti, yakni berupa amal dan ibadah.

“Pertanyaannya, sebagai manusia apa yang kita lakukan di dunia ini, ya merupakan bekal setelah kematian nanti. Jika oleh Sang Maha Pencipta diberi kehidupan satu hari selama 24 jam atau seminggu sampai 168 jam, kenapa tidak minimal seminggu disempatkan waktu cukup dua jam untuk membaca yasin dan berdzikir?” Begitu tutur Amin, menambahkan.

Padahal, ditegaskan dia lagi, cukup dua jam meluangkan waktu membaca yasin dan berdzikir setidaknya bisa menyelamatkan orang-orang tua kita atau keluarga yang telah meninggal dunia. Tentu untuk mendapat kiriman doa demi meringankan siksa kubur dari segala kesalahan atau dosa yang diperbuat semasa masih hidup dulu.

Pandy, salah seorang jamaah, malah menyebut bahwa hanya doa yang bisa ditransfer untuk orangtua atau keluarga maupun saudara-saudara kita yang sudah meninggal dunia. “Caranya, bisa dengan membaca surat yasin dan berdzikir seperti ini,” tuturnya.

Dari proses waktu mulai dari embrio sampai digelarnya rutinitas pengajian sebagai ajang silaturahmi religi, telah meraih komitmen beberapa warga. Mereka adalah Yayat, Amin, Haidir, Pandy, Anto, Usup, Moerwodo, Nanan, Didi Aray, Didi Sulaiman dan Agus. Ayo, siapa lagi yang mau menyusul untuk ikut bergabung? ■ Red/Goes

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here