Refleksi Akhir Tahun, KETUA MPR RI Ajak Media Rekatkan Kembali Persatuan

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Tahun 2018 yang sudah didepan mata, tak bisa dipungkiri sebagai tahun politik. Pasalnya, bakal digelar serentak 171 Pemilukada dan pendaftaran Capres-Cawapres. Selanjutnya, proses kampanye pun, bakal meningkatkan suhu politik.

Untuk menyikapi hal di atas dan sebagai bentuk refleksi, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengungkapkan harapannya, agar issue-issue SARA segera diredam atau ditinggalkan jauh-jauh.

“Persoalan SARA, perbedaan dan keragaman sudah selesai 72 tahun lalu. Jadi, jangan lagi kita mempersoalkan agama, suku, dan latar belakang. Tak perlu lagi kita mempersoalkan apa yang sudah disepakati 72 tahun lalu,” tegas Zulkifli kepada wartawan parlemen di Restoran Pulau Dua, Jakarta, Jumat (29/12).   

Karena itu pula, Zulkifl ingin mengajak kalangan media (cetak, online dan elektronik) untuk ikut berperan serta meredam bersama-sama issue-issue seperti SARA. Kalangan media perlu memberikan edukasi kepada masyarakat. Jika tidak diberi edukasi, masyarakat akan mempercayai media sosial.

“Mari kita bersama-sama untuk meredam. Tugas MPR adalah menjaga persatuan. Saya berharap media membantu MPR untuk meluruskan kembali janji-janji kebangsaan,” paparnya lagi.

Ketua Umum PAN tersebut juga menaruh harapan besar pada tahun politik di 2018. Kontestasi Pilkada tidak lagi mempertaruhkan segalanya. Jangan lagi Pilkada menghalalkan segala cara. Pilkada adalah adu konsep dan gagasan. Setelah persaingan, harus bersatu lagi sebagai saudara.

Bahkan dalam berbagai diskusi, Zulkifli selalu mendengungkan bahwa persoalan utama kita adalah kesenjangan dan social distrust. Publik tidak percaya pada lembaga parlemen (DPR), partai politik dan ormas-ormas besar secara struktural.
Ditambahkan dia karena DPR, parpol, dan ormas tidak memperjuangkan apa yang dirasakan masyarakat.

Selain itu, publik juga merasakan kehilangan pengamat politik dan ekonomi yang kritis. Peran pengamat politik dan ekonomi yang kritis sudah diambil alih para ulama dan penceramah agama. Kondisi ini diperparah degan Pilkada yang menggunakan issue SARA. 

“Nah, kondisi tersebut melahirkan saling curiga, saling menista dan nilai persaudaraan kebangsaan yang mulai memudar. Ini disebabkan mampetnya saluran aspirasi masyarakat,” tutupnya. ■ Red/DWI/Goes

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here