Bule Pungut Sampah, KAWASAN CAR FREE DAY Kini Jorok & Semrawut

JAKARTA (POSBERITAKOTA) ■ Kawasan Car Free Day (CFD) di Jl MH Thamrin dan Sudirman Jakarta Pusat kondisinya makin semrawut. Sepanjang jalan protokol dari Patung Kuda Monas sampai Tugu Pemuda Senayan kini tiap Minggu pagi berubah menjadi lautan PKL dan PMKS yang menyerobot hak warga yang hendak berolahraga.

Selain banyak lapak dan gerobak milik PKL yang berada di trotoar maupun badan jalan, juga ratusan kalangan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) mengamen seenaknya di kawasan tersebut. Ditambah lagi, kotoran sampah yang berserakan di badan jalan membuat kawasan CFD kini tak nyaman lagi. Warga DKI Jakarta mengharapkan ketegasan Gubernur DKI Jakarta untuk menciptakan kembali ketertiban umum yang kini nyaris tak ada lagi di kawasan tersebut.

Sejumlah orang bule dari beberapa negara, terpanggil hatinya untuk berpartisipasi membersihkan kotoran di lokasi tersebut. Mereka menenteng plastik dan alat penjepit untuk memungut serakan sampah berupa pembungkus makanan.

“Sebenarnya apa yang saya lakukan ini tidak mungkin bisa membuat jalanan jadi bersih. Karena kotoran sampah begitu banyak, dari ujung ke ujung,” ujar John Peterson di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jl MH Thamrin, Jakpus Minggu (21/10).

“Tapi kegiatan kami memungut sampah ini punya pesan moral dan sosial kepada masyarakat agar tidak buang sampah sembarangan. Tapi tampaknya mereka bebal,” tambah warga negara Australia yang bekerja sebagai guru di Jakarta.

John bersama sejumlah rekannya yang berasal dari Australia, Belanda dan Perancis, rajin berolahraga di CFD tiap Minggu pagi. “Tapi sejak awal tahun ini berolahraga, situasi berubah menjadi tidak nyaman buat warga yang hendak berolahraga maupun bersantai. Saya heran kenapa berbagai gangguan ketertiban umum ini tidak ditindak petugas,” kritik John sambil menunjuk kelompok pengamen musik bambu yang beraksi di tengah jalan sehingga memakan hampir seluruh arus jalan.

Budi Susilo, ketua komunitas olahraga Yayasan Jantung Sehat Jakarta (YJSJ) menambahkan kawasan CFD sekarang tak nyaman lagi. “PKL dan pengamen dengan suara berisik di mana-mana. Sampah berserakan di sana sini. Kami sudah melayangkan surat protes ke Gubernur, semoga segera ditertibkan,” tandasnya.

Yayasan yang dikelolanya secara rutin melakukan olahraga jalan kaki yang diikuti ratusan anggota. Kami sangat terganggu karena jalannya tersendat-sendat saking penuhnya PKL dan PMKS,” protesnya.

Salah satu PKL, Syukur, mengaku jualan di badan jalan lebih laris dibanding di trotoar. “Lapak kita langsung bersentuhan dengan pengunjung, sehingga mereka banyak yang beli. Saya dan pedagang lainnya senang bisa bebas berjualan di tengah jalan, karena gubernurnya baik yang memberi keleluasaan pada rakyat kecil.

Kadang-kadang ada petugas yang mengusir, tapi tak sampai menyita dagangan. Ya, kami minggir sebentar, lalu balik lagi,” ujar pedagang minuman yang sudah punya kios di Pasar Lenggang Monas.RED/JOKO

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here