Terkait Import Jagung, KETUA APJI Sebut Pukulan Telak Bagi Petani

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Lagi-lagi, Pemerintah berencana membuka kembali keran impor jagung dalam waktu dekat. Bahkan kebijakan tersebut sudah diputuskan dalam rapat koordinasi pangan di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, akhir pekan lalu. Alasannnya, langkah itu segera dilakukan sebagai upaya Pemerintah menekan harga jagung pakan ternak yang melambung tinggi.

Sebaliknya Ketua Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI), Sholahuddin, justru sangat menyayangkan terhadap keputusan tersebut. Dampaknya akan sama ketika sebulan lalu ramai diperdebatkan, terkait Pemerintah melakukan import beras.

“Yang pasti, kebijakan itu secara psikologis, dapat menjadi pukulan telak bagi petani. Apalagi kebijakan impor jagung ini diambil saat stok masih banyak. Secara langsung atau tidak langsung, saya khawatir kebijakan Pemerintah ini akan menurunkan semangat petani,” kata Sholahuddin melalui release yang diterima redaksi POSBERITAKOTA, Senin (5/11) kemarin.

Ia pun mengungkapkan kekagetannya terhadap rencana Pemerintah yang bakal melakukan import jagung. Bahkan menurut Sholahudin, sejak tahun 2017 lalu produksi jagung dalam negeri sudah mencukupi untuk kebutuhan pakan ternak.

“Seharusnya di tahun politik ini menjadi kesempatan Pemerintah untuk semakin menunjukkan keberpihakannya kepada petani,” tutur dia.

Pada bagian lain, Sholahuddin juga menyampaikan sebaran lokasi dan waktu tanam jagung bervariasi. Sebagian besar petani jagung di sentra produksi justru siap memasuki masa tanam. Pemerintah malah sebaliknya ingin mengimport jagung.

Sementara itu, sejumlah lokasi di Jawa Timur yang meliputi wilayah Jember, Tuban, Kediri, Jombang dan Mojokerto dalam dua pekan mendatang justru akan melakukan panen. Hal tersebut sekaligus menepis anggapan bahwa kenaikan harga pakan ternak diakibatkan oleh produksi jagung yang menurun.

“Jika ada yang menyebut import itu perlu dilakukan, karena stok menipis, kami justru bisa memtahkan pendapat tersebut. Saat ini pabrik pengering kami di Lamongan saja, masih ada stok 6.000 ton. Di Dompu juga masih stok banyak karena di sana masih ada panen,” papar dia lagi.

Karena itu, Sholahuddin menyayangkan kebijakan import yang dikeluarkan sekarang kemungkinan baru akan terealisasi di bulan Januari. Momentum tersebut justru akan bertabrakan dengan musim panen raya para petani jagung.

“Bukankah hal seperti itu tentunya akan menurunkan semangat petani yang sekarang masih menanam. Kalau import masuk saat panen, petani sudah bisa membayangkan harga jagung mereka akan anjlok. Sebab, import ketika panen raya, justru melanggar undang-undang,” telaah Sholahudin.

Pada bulan September 2018 lalu saja, sebut Sholahudin, penanaman jagung mencapai 5,86 juta hektar tersebar di wilayah Indonesia. Sedang sampai Oktober produksi jagung diperkirakan mencapai 25,97 juta ton.

“Mudah-mudahan dengan semangat petani untuk menanam, target 30,05 juta ton jagung di 2018 bisa tercapai. Dan semangat petani itu yang perlu kita jaga,” pungkasnya. ■ RED/SHANDOKO/GOES

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here