Demi Masyarakat Papua Sejahtera, PROGRAM BINMAS NOKEN POLRI Diresmikan

WAMENA (POSBERITAKOTA) – Dalam rangka untuk mensejahterakan masyarakat melalui pertanian, program Binmas Noken Polri pun diresmikan. Sedang pembukaannya dilakukan di Monumen Tokoh Pejuang Pepera, Kepala Suku Besar Lembah Baliem, Silo Soekarno Doga, di kampung adat Merah Putih Hulo Gatnem, 35 kilometer dari Wamena, Ibukota Kabupaten Jayawijaya Papua Kamis (14/3) petang kemarin.

Nampak hadir dalam kesempatan itu, Kepala Suku Lembah Baliem Alex Soekarno Doga yang merupakajln putra dari pejuang Pepera Silo Soekarno Doga, keluarga para perintis Pepera 1969, tiga kepala suku lain di Lembah Baliem, tokoh agama serta tokoh masyarakat lainnya.

Kepala Santuan Tugas (Kasatgas) Binmas Noken Polri yang juga Divisi Hubungan Internasional Polri, Kombes Pol Dr Eko Rudi Sudarto, mengungkapkan bahwa program Binmas Noken Polri yang dibentuk oleh Kapolri Tito Karnavian dan kemudian mulai dioperasikan pada April 2018 lalu, tidak lain adalah cara Polri dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat.

Melalui Binmas Noken Polri tersebut, pendekatannya dilakukan lewat pertanian untuk menyejahterakan masyarakat. Antara lain yang dielaborasi adalah beternak babi atau wam (sebutan akrab di Papua) dengan produktivitas tinggi, lebah madu, sapi, ayam pedaging, kopi dan sayur mayur.

Untuk sapi pertama adalah bibit sapi, pembuatan kandang dan ilmu pengetahuan bagaimana meningkatkan produktivitas sapinya. Untuk kopi, karena kopi Wamena termasuk kopi terbaik di dunia maka saat ini, sudah ada petani yang berhasil dapat meningkatkan produktivitasnya seperti salah seorang petani bernama Maximus Lani. Untuk pertanian akan menggunakan lahan-lahan tidur yang ada.

Karena itu pula, Kombes Pol Eko Rudi Sudarto, meminta agar kepada Kepala Suku Alex Doga untuk mengajak seluruh masyarakat adat di Lembah Baliem agar secara bersama-sama membantu program yang tujuan utamanya adalah menyejahterakan masyarakat ini.

Sedangkan Kepala Suku Alex Doga melalui kesempatan itu, justru mengajak masyarakatnya. Pertama untuk menerima program.Binmas Noken Polri dan menjadikannya sebagai bagian dari upaya diri sendiri untuk kesejahteraan ekonomi. Ia juga mengajak masyarakat untuk jangan bermalas-malasan lagi dengan menyebut nilai-nilai lokal yang hidup Lembah Baliem.

Baca Juga:  Sekda DKI Rapat RKPD, PROGRAM PEMERINTAH Harus Dikompilasi Aspirasi Warga

“Sebab, jika tangan tidak bergerak, mulut pun tidak akan bergerak. Jadi, kalau tangan bergerak, mulut pasti bergerak. Artinya, kalau tidak bekerja pasti tidak makan. Tangan bergerak baru bisa makan,” ucapnya.

Pada bagian lain, Alex juga menghimbau saudara-saudaranya yang masih memilih tinggal di hutan di gunung-gunung yang masih berseberangan pemikiran dengannya, supaya ikut bergabung bergandengan tangan dengan program yang menyejahterakan ini.

“Saya minta semua saudara-saudaraku yang masih tinggal di gunung-gunung dan masih berseberangan, ayo turun gunung sekarang. Mari kita sama-sama mau maju ekonomi kita yang sejahtera,” tegas Alex lagi.

Sementara itu tokoh masyarakat di Wamena, Haji Asis yang asli asal Sulawesi dan sudah tinggal selama 45 tahun di Papua, mengatakan dengan program ini justru yakin masyarakat Papua akan jadi juragan-juragan beras yang luar biasa kaya raya. Sebab, bila menggunakan sistem bagi hasil saja, mereka yang punya lahan tidur ratusan hektar, bagaimana mungkin tidak kaya raya.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa demi kesejahteraan Papua, dirinya bersedia mendatangkan tenaga kerja bila nanti menggunakan sistem bagi hasil sebutnya. Proyek Binmas Noken Polri di Papua bergandengan tangan dengan PPKRI (Persatuan Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia) dengan Ketuanya Stevanus Wetipo.

Sosok Stevanus Wetipo adalah cucu dari perintis dan pejuang Pepera, Silo Soekarno Doga. Menurut Alex Soekarno Doga, ayahnya dahulu (1950-an -sebelum Pepera – Penentuan Pendapat Rakyat 1969) diundang bertemu dengan Presiden pertama RI, Soekarno (3 x diundang). Pada pertemuan itu, keduanya saling bertukar nama. Nama Silo Doga, ditambahkan dengan nama Soekarno, demikian juga sebaliknya.

Sejak itu pula, nama Silo Doga menjadi Silo Soekarno Doga. Sekarang putranya Alex Doga juga demikian namanya ditambah menjadi Alex Soekarno Doga. Keluarga ini secara emosional sangat dekat terutama dengan keluarga Bung Karno, juga dekat dengan mantan Presiden RI kedua Soeharto dan Ibu Tien Soeharto, dan sering kali diundang ke Istana untuk mengikuti upacara 17 Agustus atau HUT Kemerdekaan RI. ■ RED/AGUS SANTOSA

Beri Tanggapan