Analisa Pilpres 2019 POSBERITAKOTA, PRABOWO Menang Bakal Ditentukan 30 Persen Suara Mengambang

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Puluhan survei terkait siapa yang bakal menang di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, masih sulit ditebak. Kenapa? Sebab, survei mereka masih secara subjektif ‘dicurigai’ sebagai pesanan masing-masing kubu, baik dari 01 (Jokowi) maupun 02 (Prabowo).

Jika mau melihat secara netral sampai menjelang sepekan dilaksanakannya Pilpres pada 17 April mendatang, peta kekuatannya nyaris sama. Jokowi dengan percaya diri masih keliling kampanye ke sejumlah daerah. Begitu pula Prabowo yang semakin mendapat simpatik dari masyarakat.

Berikut analisa POSBERITAKOTA, mencoba melihat secara jernih peta kekuatan serta kemungkinan Jokowi atau Prabowo yang bakal memenangkan ‘pertarungan’ Pilpres 2019 ini. Keduanya, jika dihitung dengan angka persentase, masing-masing sudah mengantongi 35 persen yang datang dari pendukung fanatiknya.

Nah, bagaimana soal 30 persen pemilih sisanya? Hal itu bisa terpengaruh oleh perkembangan berita-berita di media televisi, media online serta media sosial (Medos) yang setiap waktu selalu muncul dan dijadikan makanan masyarakat sebagai pemilih. Nalar atau akal sehat, bakal lebih berbicara.

Apabila dalam sepekan belakangan ini kecenderungan berita yang bergulir ‘negatif’ ke arah Jokowi, dipastikan pemilih bakal menaruh harapan kepada Prabowo dengan memberikan suaranya. Begitu pula sebaliknya. Peran Medsos terutama pada jaringan WhatApps (WA) sangat dinamis.

Nampaknya dari tim sukses masing-masing kubu 01 dan kubu 02, tak tinggal diam terutama untuk memanfaatkan suara mengambang sebesar 30 persen tadi. Mereka ada pada semua lapisan masyarakat. Mulai di tingkat perkotaan maupun pedesaan. Karena itu pula, peran tim sukses dan Caleg-caleg pendukung masing-masing kubu, tak bisa diabaikan begitu saja.

Dari pengalaman Pemilu-Pemilu sebelumnya, kalangan pemilih kelas atas dan juga pemilih pemula (anak remaja), justru sangat diwaspadai kubu Jokowi maupun Prabowo. Boleh jadi sebagai penentu di hari-hari terakhir.

Capres Jokowi yang digempur pemberitaan terkait sejumlah import dan korupsi, karena terbukti dari para petinggi partai pendukung, justru bakal melemahkan niat kedua kalangan pemilih (kelas atas dan remaja) di atas untuk memberikan suaranya.

Baca Juga:  Ingin Menyamai PDIP, GOLKAR Pasang Target Raih 28 Kursi di DPRD DKI

Sementara itu Prabowo justru masih diyakini mereka, punya beban masa lalu. Baik itu terkait kasus 98, penculikan aktifis maupun pelanggaran HAM – jelas menjadi beban berat jika ingin meraih dukungan dari kaum intelektual serta remaja itu tadi.

Sedangkan kelebihan atau nilai plus Prabowo, jelas tidak sedikit. Beliau bermain di orasi yang menyoroti sejumlah permasalahan di era Jokowi sebagai incumbent (Presiden RI). Justru permasalahan yang digulirkan, bisa disebut mencerminkan kalau beliau memiliki wawasan kebangsaan dan pantas jadi negarawan.

Berbeda dengan Jokowi, minim gagasan terkait bagaimana bangsa dan negara ini mau dibawa kemana ke depannya. Selalu mengagung-agungkan keberhasilan membangun infrastruktur (jalan tol), tak jadi jaminan masyarakat kemudian memberikan dukungan.

Apa pasalnya? Ternyata apa yang telah dilakukan, diketahui sebagai hutang negara kepada pihak asing, yakni China. Justru dari situ muncul kekhawatiran masyarakat, kalau Indonesia sudah benar-benar ‘tergadai’ wilayahnya. Masuknya sejumlah warga negara China sebagai pekerja asing ke Tanah Air, tentu dapat mencuatkan antipati kepada Jokowi.

Jangan dipikir masyarakat Indonesia tak tahu-menahu alias bodoh. Mereka membaca perkembangan berita tersebut dari Medsos. Kendati sebenarnya Prabowo mendapat perlakukan tak adil, karena nyaris luput dari pemberitaan di media-media mainstrem, cetak dan TV yang ada.

Lagi-lagi, suara 30 persen pemilih, bakal sangat menentukan siapa yang bakal menang di Pilpres 2019 ini. Boleh jadi masyarakat digiring akan situasi dan kondisi H-7 sampai H-1. Sedangkan dari situ, bisa saja antara 5 sampai 10 persen tak memilih alias golput. Selebihnya, ada kecenderungan yang ingin perubahan atau berharap munculnya Presiden baru. Layar akan berkembang pada 17 April mendatang. ■ RED/AGUS SANTOSA

Beri Tanggapan