Suksesi Ketum Golkar, ABDUL HAFID BASO Nilai Ada Konsensus & Manuver Jelang Munas

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Suksesi kepemimpinan bagi Ketua Umum (Ketum) Golkar, perlahan mulai menggahar dinamika internal partai. Kendati memiliki antrean panjang sosok yang layak ikut dalam bursa Musyawarah Nasional (Munas) mendatang, namun nama-nama yang sudah tersembul ke permukaan, salah satunya adalah Bambang Soesatyo (Bamsoet) yang kini duduk sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.

Pendapat tersebut dilontarkan Ketua Pimpinan Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (PP AMPG), Abdul Hafid Abusalim Baso, saat diwawancarai POSBERITAKOTA, Jumat (5/6) di Jakarta. Tidak bisa tidak bahwa persoalan suksesi kepemimpinan dalam tubuh Partai Golkar, bakal menjadi issue ‘seksi’ jelang digelarnya Munas serta demi menyikapi kemenangan Joko Widodo (Jokowi) yang kembali terpilih sebagai Presiden RI untuk periode 2019-2025.

Menurut Hafid Baso disaat yang sama, misteri pakta integritas antara Bamsoet dan Ketua Umum Golkar saat ini pun, ikut terkuak lewat pernyataan Rizal Malarangeng (Plt) DPD I DKI tentang kesepakatan politik Bambang Soesatyo dan Airlangga Hartarto yang kesannya dimentahkan, seiring keinginan Bamsoet mencalonkan diri sebagai Ketum Golkar.

“Nampaknya, tak bisa dinafikan bahwa di partai manapun, faksi-faksi politik internal selalu ada. Termasuk sirkulasi kekuasaan di pemerintahan atau power sharing, juga mengikuti polarisasi internal partai. Dengan begitu, publik dengan mudah mambaca bahwa jabatan yang diemban Bamsoet saat ini sebagai ketua DPR RI, jelas merupakan bagian dari proses faksionalisasi di tubuh Golkar. Dengan kata lain, Bamsoet berada dalam kelompok Airlangga Hartarto,” paparnya.

Dalam pandangan pria kelahiran Nusa Tenggara Timur (NTT) yang juga Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Muslim NTT satu ini, anasir-anasir politik yang dilancarkan Bamsoet, dapat dibaca secara ringkas sebagai penggembosan secara faksional terhadap kubu Airlangga yang digadang-gadang memiliki kans kuat sebagai petahana pada bursa Munas Golkar yang akan datang.

“Dus, terselip bahwa posisi Bamsoet saat ini sebagai Ketua DPR, tak luput dari konsensus politiknya dengan Airlangga Hartarto. Pun terkait dukungan dan standing position Bamsoet pada Airlangga Hartarto di Munas Golkar kelak,” jelas Hafid Baso, lagi.

Menurutnya dari konsensus Bamsoet pada Airlangga yang terbaca oleh khalayak kader Golkar, yakni dari elit hingga arus bawah dan kemudian menjadi polemik. Jangan-jangan, sikap Bamsoet tersebut menandakan bahwa dirinya secara serta-merta mementahkan apa yang telah disepakati bersama Airlangga. Tentu saja sebagai kompensasi atas jabatan yang diempunya (dimiliki-red) saat ini.

Karena itu menurut penilaian pria yang juga dikenal sebagai alumni Universitas Muhammadiyah Kupang, tentu secara politik bahwa manuver-manuver Bamsoet tersebut sah-sah saja. Kenapa? Sebab, ia pun memiliki hak sebagai kader untuk ikut dalam bursa pemilihan Ketua Umum Golkar.

“Hanya saja, secara etika sikap mengkhianati konsensus, akan menjadi habits dan preseden buruk bagi kader. Pada gilirannya bisa menggali ranjau-ranjau konflik yang justru membahayakan
dinamitas partai di kemudian hari,” pungkas Hafid Baso. RED/GOES

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here