Isi ‘Kajian Bada Magrib Bersama’, USTADZ NUR ALI Tampil di Masjid Jami Al-Ikhlas RW 25 VGH Kebalen

BEKASI (POSBERITAKOTA) – Sub kelembagaan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang secara struktur berada dibawah Yayasan Masjid Jami Al-Ikhlas di wilayah RW 25 Perumahan Villa Gading Harapan (VGH) Kebalen, selalu mengaktualisasikan program ‘Kajian Bada Magrib/Subuh Bersama’ setiap akhir pekannya. Selain menampilkan sejumlah ustadz-ustadz dari wilayah Babelan secara bergantian, pelaksanaannya juga telah berlangsung cukup lama atau sudah beberapa bulan belakangan.

Untuk kegiatan atau program ‘Kajian Bada Magrib Bersama’ Minggu (8/9) malam kemarin, menghadirkan penceramah ustadz Nur Ali S Sos I yang mengusung tema ceramah bertajuk Kitab Wasiatul Mustofa. Meski tergolong singkat, namun tausiah yang disampaikan cukup menyentuh tidak kurang dari 50-an jamaah yang memadati masjid.

Ustadz Nur Ali dalam membuka ceramahnya, menuturkan bahwa Allah SWT mempunyai banyak Malaikat. “Para Malaikat pun dikumpulin dan kemudian diberi tugasnya masing-masing. Salah satunya ada Malaikat yang harus muter untuk mencari orang atau menemukan segolongan orang yang tengah berdzikir,” ucapnya.

Setelah melaksanakan tugasnya, para Malaikat pun kembali menemui Allah SWT. Mereka dengan cara berdialog, kemudian memaparkan hal sebenarnya, tentu setelah turun ke bumi. Bahkan ditanya soal apa saja, terkait orang atau segolongan orang yang atau sudah dilihatnya.

“Hai Malaikat, apa yang diucapkan oleh hamba-Ku di bumi? Mereka duduk dan bersila bareng-bareng?” Begitu tanya Allah SWT kepada Malaikat yang telah diberi tugas atau memantau tersebut.

Sang Malaikat kemudian memberikan jawaban. “Ya Allah, mereka (hamba-Mu) bertakbir kepada Engkau. Juga mengangguk-anggukan kepala. Mereka meminta ampunan dengan cara bertahlil dan berdzikir. Bahkan mereka meminta surga-MU.”

Baca Juga:  Islam Sudah Mengatur, 5 RAMBU 'JANGAN' Luapkan Kemarahan dalam Menghukum Anak

Dari pemaparan yang lebih mendalam lagi, ustadz Nur Ali menyebutkan bahwa manusia sebagai hamba dari Allah SWT, jelas perlu menselaraskan antara pikir dan dzikir pada kehidupannya.

“Kalau berpikir itu kan berkaitan dengan alam atau pengetahuan. Sedangkan untuk berdzikir berkaitan dengan Illahiyah (Ketuhanan-red),” tuturnya saat diminta POSBERITAKOTA untuk menerangkan kembali makna dari ceramah yang telah disampaikan tadi.

Menurutnya, jika seseorang berdzikir, pasti akan mendapatkan ketenangan bathin. Segala permasalahan itu kecil dan akan dengan mudah dihadapi. “Dzikir bisa diterima manakala seseorang itu merasa hikmahnya atau Wakhosiat Warromah Wanazar Alkho Wasakinah. Jadi, berdzikir sama dengan memprotek diri, menata kehidupan dengan ketenangan bathin,” pungkas ustadz Nur Ali.

Dalam program rutin ‘Kajian Bada Magrib Bersama’ tersebut, nampak hadir unsur Ketua Pengurus yakni ustadz Robert Hidayat dari Yayasan Masjid Jami Al-Ikhlas, Ketua DKM ustadz Khoirul Anwar, ustadz Muhammad Andi, ustadz Azies, ustadz Hafiz, ustadz Djajang Permana, ustadz Wanito serta tidak kurang dari 50-an jamaah yang merupakan warga masyarakat setempat.

Sepakat apa yang disampaikan ustadz Nur Ali, jika melihat konteks atau program ‘Kajian Bada Magrib Bersama’, sejatinya harus pula dihadiri Ketua Umum Yayasan/Pembina sekaligus Pendiri Yayasan Masjid Al-Ikhlas yakni ustadz Drs HM Makhtum dan Sukoco selaku Ketua RW 25 – sebagai upaya menselaraskan warga/jamaahnya dalam kehidupan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. ■ RED/AGUS SANTOSA

Beri Tanggapan