Banyak Siswa Berprestasi Tak Masuk Negeri, ANGGOTA DPRD DKI JAKARTA Desak PPDB Diulang

JAKARTA (POSBERITAKOTA) ■ Memprihatinkan! Ada apa kok banyak siswa-siswi berprestasi di DKI Jakarta tak dapat kesempatan bisa masuk ke sekolah negeri? Boleh jadi ada yang salah dalam sistem pendidikan saat ini. Apalagi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) selalu ada saja cela yang merugikan masyarakat.

Kalangan wakil rakyat pun bersuara lantang. Bahkan mendesak agar sistem PPDB diulang. Salah satunya datang dari anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDIP, Hardiyanto Kenneth, karena menganggap justru sistem yang ada tak berpihak kepada masyarakat.

Menurut Kenneth, persyaratan PPDB yang memasukan syarat usia banyak mengorbankan siswa berprestasi. “Jujur, saya sangat prihatin dengan sistem PPDB di tahun ajaran sekarang ini. Banyak siswa yang terbukti berprestasi harus tersingkir untuk mendapatkan sekolah negeri,” celetuknya, lantang.

Kenneth peduli dan kemudian mengantar Aristawidya Maheswari, salah seorang siswa berprestasi yang harus tersingkir dari sekolah negeri dan akhirnya mendaftar di SMA Muhammadiyah 11, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (16/7/2020).

Dalam pandangannya, Aristawidya Maheswari merupakan korban dari PPDB. Remaja berstatus yatim piatu dan alumni SMPN 92 Jakarta Timur itu, harus terdepak karena kalah dengan seleksi umur.

“Semua ini jadi bukti kalau PPDB tahun ini menjadi sisi kelam peraturan pendidikan di Jakarta. Arista jadi bukti, siswi dengan segudang prestasi tingkat daerah dan nasional ini, harus tersingkir dari sekolah negeri dan akhirnya harus masuk sekolah swasta,” beber dia.

Atas dasar itulah, pihaknya meminta dan berharap PPDB di Jakarta bisa diulang degan mempertimbangkan banyak faktor. Salah satunya terkait dengan banyaknya siswa berprestasi yang harus tersingkir. Tentu saja gara-gara belum cukup usia yang selisihnya cuma itungan bulan.

“Saya perlu ingatkan, juga buat Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta, kalau membuat aturan baru itu harus disosialisasikan dengan baik. Kisruh PPDB ini terjadi karena Disdik DKI tidak melakukan sosialisasi secara masif,” ungkapnya, ceplas-ceplos.

Pada bagian lain, Kenneth pun berharap menyikapi kasus anak berprestasi tak bisa diterima di sekolah negeri, jelas sebagai sesuatu yang ganjil. Karena apa? Arista tidak bisa mendapat sekolah negeri yang diimpikannya.

“Saya pun mengucapkan banyak terimakasih, khususnya kepada pihak Sekolah Muhammadiyah 11 Rawamangun, Jakarta Timur. Masih punya perhatian khusus kepada Arista, siswa yang yatim piatu dengan membebaskan segala biaya sekolah sampai selesai pendidikan,” tutup Kenneth. ■ RED/GOES

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here