Bisa Berperan Besar, ‘ISLAM WASATHIYAH INDONESIA dalam Pergaulan Islam Global’

OLEH : HANNOENG M. NUR (Bagian Pertama)

AGAMA Islam mulai masuk ke wilayah Nusantara pada abad ke-7. Hal itu diyakini oleh seorang sejarawan asal Belanda, Yacob Cornelius Van Leur dan juga Buya Hamka. Jejak sejarah Islam itu dapat dilihat pada tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera dan Jawa.

Pada beberapa abad kemudian, makin luas perkembangan Islam, hingga lahirlah kerajaan-kerajaan Islam yang lebih besar. Di antaranya adalah Kerajaan Demak, Kerajaan Banten, Kerajaan Mataram, Kerajaan Makassar, Kerajaan Ternate, Kerajaan Tidore dan Kerajaan Aceh Darussalam.

Rentang waktu yang sangat panjang dan penyebarannya yang masif menjadi salah satu sebab agama Islam di Indonesia lebih banyak pemeluknya dibandingkan dengan agama-agama lain, yang bahkan telah lebih dahulu masuk. Dalam konteks global saat ini, Indonesia menjadi sebuah negara dengan pemeluk agama Islam terbanyak di dunia.

Situasi dan kondisi keragaman agama yang hidup di Indonesia, berbeda dengan yang terjadi di negara-negara lain. Di beberapa negara, perbedaan agama menjadi salah satu penyebab konflik internal yang bahkan tak jarang berimbas ke negara-negara lain dalam bentuk reaksi sikap.

Indonesia dengan keragaman suku, agama dan ras, sesungguhnya sangat rentan terhadap munculnya konflik internal. Konflik yang selama ini muncul masih bersifat lokal yang kemudian mampu diredam. Memang agak mustahil jika perbedaan agama di satu negara sama sekali tidak menjadi bibit konflik. Pemahaman yang kuat atas ajaran sesuatu agama, ditambah dengan sikap yang cenderung menafikan agama lain, justru bisa menjadi bibit permusuhan.

Namun dunia mengakui situasi kondusif yang ada di Indonesia, dalam konteks keberagaman agama ini. Sistem demokrasi yang dianut dalam politik dalam negeri menjadi satu hal yang banyak dipuji oleh negara-negara lain. Sebab sistem demokrasi dimana pun seringkali menjadi penyebab perpecahan di sebuah negara.

Fanatisme yang kelewat kuat yang ada di satu golongan bisa berimbas pada sendi-sendi lain, misalnya perbedaan agama. Pada situasi seperti inilah bisa dilihat bagaimana pemeluk agama mampu berpikiran dan bersikap dewasa dalam menjalani perbedaan.

Ya, pemeluk Islam di Indonesia sesungguhnya adalah kaum yang dewasa dalam berdemokrasi. Perbedaan agama bukan menjadi sentimen utama di dalam melaksanakan demokrasi. Justru dalam sistem demokrasi di Indonesia perbedaan apa pun mendapatkan tempat, termasuk perbedaan agama.

Sebagai kalangan yang mayoritas, pemeluk agama Islam di Indonesia tidak lantas menunjukkan kekuasaannya dan mengangkangi pemeluk agama lain. Hal tersebut mungkin sangat sulit terjadi di negara-negara lain yang rasio perbedaan jumlah pemeluk agamanya signifikan.

Lalu kenapa di Indonesia, Islam bisa berperan besar bagi stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi? Hal tersebut sudah tentu tak bisa dilepaskan dari peran pemeluk Islam di dalam proses perjalanan bangsa dan negara, dari mulai masa penjajahan, kemerdekaan hingga masa modern. Islam, dalam konteks ini adalah pemeluknya, selalu ada di setiap zaman, memberikan kontribusi yang besar pula.

Para penentang penjajahan, para penggerak kemerdekaan, para pengisi zaman pembangunan, adalah mereka yang mayoritas beragama Islam. Maka Islam tidak pernah absen di setiap masa dan situasi. (***/Bersambung)

(PENULIS adalah Redaktur Senior POSBERITAKOTA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here