PosBeritaKota.com
Opini

Merasuki Hampir Semua Negara, HANYA DI INDONESIA ‘COVID-19’ Terpapar Virus Politik

OLEH : HANNOENG M. NUR

VIRUS Corona (COVID-19) memang kejam. Ia memasuki hampir semua negara, jutaan orang terpapar virus aneh itu. Korban yang meninggal menembus angka jutaan orang, termasuk yang ada di Indonesia. Di negara kita angka korban meninggal telah lebih dari 40 ribu orang.

Sejatinya, virus Corona adalah sejenis penyakit yang menyerang tubuh, orang yang terkena (bahkan meninggal) pasti salah satu sebabnya karena kalahnya daya imun yang ia miliki. Setelah muncul berbagai alternatif obat (nyata atau sekedar issue), maka para medis lalu beralih ke pencegahan, tidak lagi fokus pada ‘penindakan’. Maka saat ini vaksinasi jadi pilihan terpenting di dalam menghadapi virus Corona. Bukan hancurkan Corona tapi perkuat daya tahan tubuh supaya Corona kalah dengan sendirinya.

Di balik mewabahnya virus Corona yang amat sangat luar biasa itu, ternyata di Indonesia lahir satu fenomena baru, yaitu kebalikan dari apa yang terjadi di belahan dunia lain. Jika di negara-negara lain para politikus terpapar virus Corona, maka di Indonesia virus Corona justru terpapar virus politik. Maka disini virus Corona benar-benar tak berdaya menghadapi kehebatan para politikus menggunakan eksistensi Corona sebagai kuda tunggangan.

Ada banyak kasus soal tersebut diatas. Dari mulai kerumunan yang ditindak karena melanggar protokol kesehatan (Prokes), hingga kerumunan yang luput dari penindakan Prokes. Dari mulai korban pandemi yang hidupnya makin susah, sampai uang bantuan yang mengalir deras ke partai politik dan kantung pribadi. Dan, kehebatan politik telah mampu menggunakan issue virus Corona sebagai dasar kuat untuk melakukan tindakan atau pengambilan keputusan yang bersifat politis, yang notabene tak ada hubungan sama sekali dengan virus Corona sebagai penyakit.

Sungguh, para politikus (dan semua elemen pendukungnya) memiliki kemampuan mengagumkan dalam hal menggunakan virus Corona sebagai argumen politik. Jika ada di satu negara di Eropa yang Menteri Kesehatannya mengundurkan diri lantaran merasa gagal menuntaskan kasus pandemi COVID-19, maka itu tak terjadi di negara kita. Di negara kita para politikus dan pejabat sangat ‘bersahabat’ dengan virus Corona, maka adalah sangat sulit jika seorang sahabat menyelakai sahabatnya sendiri. Sehingga harus dicari sasaran tembak lain untuk diberi label salah atau menanggung kesalahan.

Apakah itu tidak adil? Tentu saja itu adil juga, tergantung dari sisi mana kita memandangnya. Konsep keadilan di mata pemegang kekuasaan tentu berbeda dengan konsep keadilan orang-orang yang berada di bawah kekuasaan. Hakikat keadilan sesungguhnya adalah sama di mata semua orang. Teorinya sama, nilai kesejatiannya sama. Yang membedakan adalah kepentingan.

Maka ketika bagi rakyat virus Corona dianggap penyakit, bagi para politikus virus Corona dianggap sahabat yang bisa seiring sejalan di dalam mempertahankan eksistensi politik dan ambisi. Karena itulah kenapa virus Corona terpapar virus politik. (***)

(PENULIS adalah Redaktur Senior POSBERITAKOTA)

Related posts

Ambil Pelajaran Soal Etika & Sportivitas, DARI SANTUNNYA CR-7 Hingga Kudeta Partai Demokrat

Redaksi Posberitakota

Ini Ada 6 Alasan, KENAPA ANIES BASWEDAN ‘Idola Baru’ bagi Kaum Milenial?

Redaksi Posberitakota

Harus Proforsional & Fungsional, MERASA ‘HUTANG BUDI’ Tak Dikenal dalam Tatanan Sebuah Organisasi Sosial Kemasyarakatan

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment