26.9 C
Jakarta
14 June 2024 - 06:39
PosBeritaKota.com
Syiar

Saat Khutbah Jumat di Istiqlal, DR KH ABDUL HALIM SHOLEH MM Bahas Soal Memelihara & Menumbuhkan Ukhuwah Basyariah

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Dalam konsep ukhuwah ini, umat Muslim diajarkan untuk memandang manusia lain dengan penuh kasih sayang. Juga selalu melihat ia sebagai hamba Allah SWT dan sekaligus sebagai khalifah fil ardhi. Manusia diturunkan ke dunia dalam rangka menghamba kepada Allah SWT dan atau mengemban tugas yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain, yaitu sebagai khalifah dan sebagai hamba Allah SWT.

Materi ceramah di atas disampaikan Dr KH Abdul Halim Sholeh MM selaku khotib dalam sholat Jumat di Masjid Istiqlal Jakarta, 21 Rajab 1445 H/2 Pebruari 2024 M. Namun dalam ceramahnya itu membahas soal tema : ‘Memelihara dan Menumbuhkan Ukhuwah Basyariah’ di dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang Muslim.

“Bahkan sebagai khalifah pun, manusia bertugas memakmurkan bumi dan sebagai hamba. Apalagi manusia harus mencerminkan makhluk yang taat secara total kepada Allah SWT. Jadi, manusia pada dasarnya merupakan hamba Allah SWT yang diangkat sebagai khalifahNYA di bumi. Namun pelaksanaan tugas kekhalifahan itu juga dalam rangka penghambaan terhadap-NYA,” ujarnya.

Menurut KH Abdul Halim bahwa untuk menjalankan segala tugas kekhalifahannya, Allah SWT membekali manusia dengan fitrah. Yaitu fitrah yang diturunkannya dan fitrah bawaan lahir. Terhadap fitrah yang diturunkan adalah adalah firman-firman Allah SWT yang disampaikan kepada para Rasul-NYA, sedangkan fitrah bawaan adalah berupa ruh yang didalamnya ada hawa nafsu dengan perangkatnya berupa hati dan indera sebagaimana diisyaratkan Allah SWT melalui firman-NYA dalam Al-Qur’an surat an-Nahl ayat 78:


والله أخرجكم من بطون أمهنتكم لا تعلمون شيئا وجعل
لكم السمع والأبصر والأفيدة لعلكم تشكرون –

Artinya: “Dan Allah SWT mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur“.



Juga disebutkan bahwa ayat di atas menunjukkan betapa lemahnya kita sebagai manusia selama sekitar 9 (sembilan) bulan dijaga oleh Allah SWT didalam perut ibu kita, lalu dikeluarkan oleh Allah SWT dalam keadaan tidak tahu apa-apa, tidak punya pengetahuan baik masalah dunia maupun agama, tidak mengerti mana yang membahayakan dan mana yang manfaat. Tidak mengerti apa yang terjadi di sekeliling kita. Selanjutnya, Allah SWT memberikan anugrah berupa pendengaran, penglihatan dan hati nurani agar manusia mensyukuri atas anugrah tersebut.

Manusia adalah makhluk istimewa, karena Allah SWT masih terus memberikan anugerah kemerdekaan (rasa merdeka) untuk mengatur kehidupannya. Dengan demikian manusia adalah subyek yang mempunyai kehendak. Disamping kelebihan yang dimiliki, manusia juga diingatkan akan kekurangannya sebagai makhluk yang berkemampuan terbatas, tapi tidak satupun ajaran Islam yang menyuruh manusia untuk mengingat-ingat keterbatasannya agar bisa membebaskan diri dari kewajiban berusaha. Justru keterbatasan itulah yang harus dijadikan sebagai titik tolak dari kewajiban ikhtiar, yaitu suatu rekayasa kreatif yang didasari dengan etika keagamaan,” tutur KH Abdul Halim, panjang lebar dalam khutbahnya tersebut.

Dikatakanya bahwa dalam pergulatan ikhtiar ini, manusia diperingatkan adanya ketentuan Allah SWT bukan untuk mengendorkan usahanya, melainkan agar tidak putus asa ketika gagal dan agar tidak terjerumus kepada rasa puas yang menyesatkan. Ikhtiar (usaha) yang dilakukan dimaksudkan untuk memenuhi kewajibannya mengembangkan dua potensi, jasmaniyah dan rohaniyah, secara seimbang dan menyesuaikan diri kepada ketentuan-ketentuan Allah SWT. Jasmani dan Rohani secara serentak berhadapan dengan kewajiban penghambaan kepada Allah SWT dan kewajiban memelihara martabat dirinya sebagai makhluk yang dimuliakan-NYA.


* ولقد كرمنا بني ءادم وحملتهم في البر والبحر ورزقنهم من
الطيبات وفضلتهم على كثير ممن خلقنا تفضيلاً

Artinya: “Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna” (QS. al-Isra’ /17: 70).

Menurut KH Abdul Halim bahwa ditengah alam semesta, manusia adalah makhluk penyalur rahmat dan berusaha mencegah terpotongnya jalur rahmat Allah SWT atas alam semesta. Sehingga tidak ada manusia yang terhalang mendapatkan hak-hak dasar ini. Sedangkan kasih sayang saling membantu dan berbuat baik kepada sesama manusia harus selalu kita pelihara dankita tumbuh kembangkan yang istilah sekarang kita sebut Ukhuwwah Basyariah.

Jika kesadaran ini menjadi karakter setiap manusia, insya Allah tidak akan ada konflik di kalangan masyarakat baik lingkup kecil maupun besar. Konsep Ukhuwah Basyariyah didasarkan pada firman Allah SWT pada surat Al-Qur’an al-Hujarat ayat 13 yang berbunyi:

ا الناس إنا خلقنكم من ذكر وأنثى وجعلتكم شعوبا وقبايل
لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقنكم إن الله عليم خبير –

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal (saling berbuat baik). Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti”.

Ayat di atas menunjukkan bahwa semua manusia yang ada di bumi merupakan satu keturunan dan bersaudara. Selain itu, ayat ini menegaskan bahwa semua umat manusia adalah makhluk Allah SWT. Ukhuwah Basyariyah merupakan fondasi dari segala konsep persaudaraan sesama manusia dan wujud komitmen terhadap ke-Islaman kita. Sebagaimana seruan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya pada saat Haji Wada’ ditengah hari Tashriq dalam haditsnya :
-رضي
عن جابر بن عبد الله
الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه
وسلم : يا أيها الناس! إن ربكم واحد، وإن أباكم واحد، ألا لا فضل لعربي على
تجمي، ولا لعجمي على عربي، ولا لأحمر على أشود، ولا لأسود على أحمر إلا
بالتقوى إن أكرمكم عند الله أتقاكم، ألا هل بلغت ؟ قالوا: بلى يا رسول الله
قال: فيبلغ الشاهد الغائب أخرجه أبو نعيم والبيهقي
Artinya: “Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata bersabda Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wasallam: Wahai manusia!Sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan ayah kalian juga satu. Sesungguhnya tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang ‘ajam (bukan Arab), dan orang ‘ajam (bukan Arab) atas orang Arab, dan orang kulit merah atas orang kulit hitam dan orang kulit hitam atas orang kulit merah. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah SWT adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian,waha Bukankah aku yang telah menyampaikan risalah?Mereka berkata: “Ya, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Maka saksi yang tidak hadir harus menyampaikan risalah itu”.

Dijabarkan KH Abdul Halim bahwa hadits di atas mengfokuskan pada satu hal penting yang harus diperhatikan oleh kita setiap Muslim, yaitu: menghindari fanatisme yang berlebihan dan rasisme, bangga pada kehormatan keluarga, dan merendahkan nasab orang lain, karena semua itu merupakan kebiasaan masyarakat jahiliyah. Islam datang, menghapus kebiasaan tersebut dan memerintahkan berbuat adil untuk semua, berbuat baik antar sesama umat manusia.

Keadilan antar manusia adalah salah satu prinsip terbesar yang diagungkan Islam. Tidak ada seorang pun yang mempunyai keunggulan atas orang lain kecuali melalui taqwa dan amal shaleh, taqwa diwujudkan dalam bentuk ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah SWT, sedang amalshaleh diwujudkan dalam bentuk perbuatan baik antar sesama manusia yang kita kenal dengan istilah Ukhuwah Basyariyah.

Keanekaragaman dan perbedaan yang ada pada umat manusia baik dari aspek suku bangsa, etnis, bahasa, warna kulit, agama, dan lain lain, merupakan sunnatullah yang harus kita jaga dan hormati, tidak boleh dijadikan sebagai sumber masalah, sumber pertikaian dan konflik, akan tetapi justru harus dijadikan seba sarana untuk saling mengenal kelebihan budaya, adat istiadat dan kekhususan masing – masing yang dapat dijadikan dasar membangun persaudaraan antar sesama manusia, praktek tersebut sudah diwujudkan oleh Rasulullah SAW yaitu keberhasilan beliau mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin. Selain itu, Rasulullah SAW, juga berhasil menyatukan umat Muslim dan non-Muslim hidup berdampingan dengan dasar toleransi dan saling berbuat baik yang diwujudkan dalam Piagam Madinah. © RED/AGUS SANTOSA

Related posts

Isi Kajian Tentang Sholat di Masjid Jami Al-Ikhlas RW 025 Bekasi, USTADZ HM MAKHTUM Sebut Posisi Imam Sangat Mulia

Redaksi Posberitakota

Dari Tahun ke Tahun, WAKIL GUBERNUR JAWA BARAT Sebut Islam Semakin Terpinggirkan

Redaksi Posberitakota

DEMI MENGAJAK SEKALIGUS MENEBAR KEBAIKAN, ‘SEJADAH BABE’ AKAN TERUS KONSISTEN LEWAT PROGRAM BERBAGI KE WARGA BABELAN BEKASI

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang