Soal Aksi Pembubaran Retreat Pelajar Kristen, PSI Kesal & Minta Agar Pelaku Dihukum Biar Ada Efek Jera

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI, Danik Eka Rahmaningtiyas sangat menyayangkan adanya aksi pembubaran acara retreat pelajar Kristen di Sukabumi, Jumat (27/6/2025) lalu. Karenanya, ia pun prihatin terhadap kondisi keberagaman di Tanah Air saat ini.

Lebih jauh Daniel Eka pun mengingatkan dan sekigusmeminta agar hukum segera ditegakkan dan mendesak agar pihak berwenang segera mengusut tuntas permasalahan tersebut.

“Tindakan pengusiran dan pengrusakan tempat singgah pelajar-pelajar retreat di Sukabumi itu, harus diusut secara tuntas. Aparat-aparat yang berwenang harus segera melakukan penyelidikan,” tegas Daniel Eka, Selasa (1/7/2025) di Jakarta.

Oleh karenanya, pihak PSI meminta agar pelaku-pelaku yang terbukti melakukan pengusiran dan pengrusakan dihukum agar memberikan efek jera. Juga, s5ekaligus sebagai contoh bagi kelompok intoleran di daerah-daerah lainnya.

Daniel Eka juga mendorong agar aparat-aparat keamanan menindaklanjuti hasil penyelidikannya secara tegas. Pelaku-pelaku yang terbukti melakukan pelanggaran dalam kejadian penuh kekerasan itu harus dihukum.

Diharapkan dengan ketegasan aparat menjadi penting untuk mengirimkan pesan kepada elemen-elemen ekstremis, bahwa negara tidak akan tinggal diam menghadapi perilaku seperti itu.

“Seyogyanya, intoleransi tidak memiliki tempat di negara kita yang sama-sama kita cintai ini. Dimana Bhinneka tunggal ika tidak hanya menjadi slogan, tetapi juga komitmen bersama untuk menjaga keberagaman,” tegasnya.

Sementara itu politisi PSI DKI Jakarta, Kevin Wu, juga mengungkapkan hal senada. Ia menilai kejadian itu mencemari nama baik Indonesia sebagai bangsa yang dikenal toleran oleh masyarakat internasional.

“Maka itu, kami mengecam insiden pembubaran retreat pelajar Kristen yang terjadi di Sukabumi. Tindakan penuh dengan kekerasan itu tidak bisa ditoleransi, terlebih hal itu dilakukan terhadap anak-anak muda yang hanya ingin beribadah dengan tenang di tempat itu,” ucapnya.

Selain itu Kevin Wu juga menilai bahwa kejadian di Sukabumi meninggalkan noda hitam dalam lembar sejarah Indonesia yang seharusnya menjadi bangsa toleran terhadap perbedaan sesuai dengan semangat Bhinneka tunggal ika.

“Untuk di kalangan minoritas ternyata masih belum dapat hidup aman dan tenang dalam menjalankan kepercayaannya di negara yang seharusnya menjadi contoh masyarakat toleran bagi dunia,” katanya.

Seperti diketahui bahwa sebelumnya, pelajar-pelajar beragama Kristen yang sedang melaksanakan acara retreat atau ibadah bersama di Sukabumi mengalami pengusiran dan tempat persinggahannya dirusak oleh warga setempat.

Dalam insiden tersebut menjadi pengetahuan publik dan diperbincangkan secara luas setelah video penyerbuannya diunggah ke media sosial. Salah satu akun Instagram, yaitu @sukabumisatu menyebutkan ada ratusan warga di desa Kecamatan Cidahu, Sukabumi yang berdemo.

Dari video yang beredar, terlihat ada kerumunan orang menurunkan benda-benda seperti kayu salib, lambang sakral dalam agama Kristen. Selain itu, massa juga menghancurkan beberapa objek lainnya. Baik itu kaca-kaca, meja dan kursi, kemudian sambil berteriak-teriak secara intimidatif. © RED/MP/APRILIO RIZKI /EDITOR : GOES

Related posts

Dukung Kebijakan Gubernur Pramono, Plt Sekretaris DPW PPP DKI Muhammad Hatta Siap Bantu Gencarkan Sosialisasi Program Pilah Sampah

Gubernur Bali Wayan Koster Sebut Pariwisata Bali Sumbang 55% Devisa Nasional di 2025

Di Kabupaten Badung Bali, BBTF 2026 Rampung dan Transaksi Pariwisata Capai Rp 6,9 Triliun