Di Khotbah Jumat, KYAI MUHAMMAD MAKHTUM Sebut Puasa Asyuro 10 Muharram Bakal Diberi 10 Ribu Pahala Malaikat & 10 Ribu Syuhada

BEKASI (POSBERITAKOTA) – Dalam khutbah Jumatnya di Masjid Jami Darussalam Blok AJ RW 10 dan RW 011 Perumahan Villa Gading Harapan (VGH) Desa Babelan Kota, Kabupaten Bekasi, Jumat (4/7/2025) kemarin – Drs KH Muhammad Makhtum selaku imam dan khotib menyampaikan pentingnya berpuasa pada hari ‘Asyuro (tanggal 10) Muharram.

“Niscaya Alloh Ta’ala akan memberikan 10 ribu pahala malaikat dan pahala 10 ribu syuhada. Dan, barangsiapa mengusap kepala anak yatim( menyantuni mereka ) pada hari ‘Asyuro, niscaya Alloh Ta’ala juga akan mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya,” ucap Kyai Makhtum, mengawali khutbahnya.

Disebutkan bahwa kita sekarang ini telah berada di bulan Muharram atau bulan Suro dalam sebutan masyarakat Jawa, yakni bulan yang termasuk dimuliakan oleh Alloh Ta’ala. “Dan, 2 hari lagi kita akan memasuki hari istimewa pada tanggal 10 Muharram atau biasa disebut hari ‘Asyuro,” lanjutnya.

Seperti Alloh Ta’ala telah berfirman dalam Al-Qur’an

*إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًۭا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌۭ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةًۭ كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةًۭ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ*

Yang artinya : “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh Ta’ala ialah dua belas bulan. Dalam ketetapan Alloh Ta’ala pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya adalah empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu. Dan, perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Alloh Ta’ala beserta orang-orang yang bertaqwa.”

Dijelaskan bahwa empat bulan mulia tersebut, telah dijelaskan oleh Nabi didalam sabdanya:

*الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ*

Waktu berputar sebagaimana keadaannya, sejak Alloh Ta’ala menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram. Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan Imam Fakhruddin Ar-Rozi dalam kitabnya menjelaskan bahwa setiap perbuatan maksiat di bulan haram akan mendapat siksa yang lebih dahsyat. Dan, begitu pula sebaliknya, setiap amal ibadah kepada Alloh Ta’ala akan dilipatgandakan pahalanya.

Beliau menyatakan :

*وَمَعْنَى الْحَرَمِ: أَنّ الْمَعْصِيَةَ فِيْهَا أَشَدُّ عِقَاباً ، وَالطَّاعَةُ فِيْهَا أَكْثَرُ ثَوَاباً*

Yang artinya: “Maksud dari haram adalah sesungguhnya kemaksiatan di bulan-bulan tersebut, lebih berat siksaannya dan ketaatan di bulan-bulan tersebut lebih banyak pahalanya.”

Dipaparkan Kyai Makhtum dalam khutbahnya bahwa kemuliaan bulan Muharram terletak pada hari ‘Asyuro, maka bilamana pada hari itu diisi dengan kegiatan amal ibadah tentu akan lebih dilipatgandakan pahalanya oleh Alloh Ta’ala.

Selanjutnya, Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa kemuliaan bulan tertentu tidaklah mutlak dengan kemuliaan umat Islam secara otomatis. Sebab kemuliaan umat Islam memiliki syarat. Yakni ketika mereka mau mengisi waktu-waktu khusus tersebut dengan amal shaleh dan akhlakul karimah.

Sementara pengertian amal shaleh dan akhlak mulia amatlah luas dimensinya. Yakni mencakup seluruh aspek ibadah dengan Alloh Ta’ala dan juga berkaitan dengan orang lain. Selain itu berhubungan dengan sikap kita terhadap lingkungan alam sekitar kita.

“Dan, pada bulan ini selain dianjurkan untuk meningkatkan amal ibadah, kita pun dianjurkan untuk berpuasa terutama di hari ‘Asyuro (tanggal 10 Muharram ) digandeng dengan hari Tasu’a (tanggal 9 Muharram ). Dan, juga sekaligus melonggarkan nafkah keluarga serta menyantuni yatim,” sebutnya.

Kyai Makhtum tak lupa juga menggambarkan terkait keutamaan puasa di bulan Muharram ini. Menurutnya bahwa dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

*أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ*

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Alloh Ta’ala, bulan Muharram.” (HR. Muslim).

Bahkan, Nabi Muhammad SAW juga bersabda :

*عَنْ إِبْنُ عَبَّاس قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م. صُومُوا التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ (الترمذي)*

Berpuasalah kalian pada hari yang kesembilan dan kesepuluh pada bulan Muharram ini. Dan selisihilah praktik puasa yang dilakukan orang-orang Yahudi.”

Sebab, dijabarkan Kyai Makhtum bahwa Rasulullah SAW juga pernah ditanya tentang keutamaan berpuasa pada hari ‘Asyuro, maka beliau menjawab : يكفر السنة الماضية, yakni melebur dosa-dosa setahun yang lalu.

“Kemudian juga dalam kitab Tanbihul Ghafilin bi-Ahadiitsi Sayyidil Anbiyaa-i wal Mursalin disebutkan bahwa Rasulullah SAW صلى الله عليه وسلم bersabda:

*مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَوَابَ عَشْرَةِ آلافِ مَلَكٍ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ وَعَشْرَةِ آلافِ شَهِيدٍ ، وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً*

Barangsiapa berpuasa para hari ‘Asyuro (tanggal 10) Muharram, niscaya Alloh Ta’ala akan memberikan 10 ribu pahala malaikat dan pahala 10 ribu syuhada. Dan, barangsiapa mengusap kepala anak yatim( menyantuni mereka) pada hari ‘Asyuro, niscaya Alloh Ta’ala akan mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya“.

Bahkan, lanjut Kyai Makhtum, di dalam menyantuni anak yatim tidaklah cukup hanya dengan sekedar mengusap kepalanya. Namun cara yang terbaik adalah dengan mencukupi kebutuhan mereka dengan memberinya makanan, pakaian dan juga tempat tinggal yang layak. Serta memberikan pendidikan yang memadai hingga mereka dewasa.

“Dan, kita pun paham bahwa dalam menyantuni yatim tidaklah harus di bulan Muharram semata. Namun bisa setiap saat, sesuai dengan kebutuhan. Dan, orang yang care terhadap para anak yatim selain hatinya dilembutkan oleh Alloh Ta’ala, urusan rizki dan usahanya di dunia dipermudah. Malah balasan pahala akheratnya pun luar biasa, yakni hampir setingkat dengan surganya Nabi,” urainya, panjang lebar.

Menurut Kyai Makhtum bahwa Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kedudukan orang yang care dan peduli. Mau memuliakan, menyantuni dan mengasihi anak yatim akan mendapatkan surga yang jaraknya bagaikan jari telunjuk dan jari tengah dengan Nabi, saking dekatnya. “Hal ini sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW. © RED/AGUS SANTOSA

Related posts

Di Momen Idhul Adha, Erna Santoso Berbagi Daging Qurban serta Menghibur Anak-anak Nelayan Tanjung Burung Tangerang

Dari Ciganjur Menuju ke Cibubur, Program Jumat Berkah Wartawan Ajak Berbagi BudayantaraTV Digital Network

Makna Perintah Qurban Sebagai Bagian Dimensi Spiritualitas, Membunuh Sifat Kebinatangan dari Manusia Itu Sendiri