JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Saat menggelar diskusi bertajuk ‘Kongkow Bersama Wartawan’, Forum Warga Kota (Fakta) Indonesia kembali mendesak agar Pemerintah segera menerapkan cukai pada Minuman Berpemanis dalam Kemasan (MBDK), yakni dengan pertimbangan mencegah dampak yang lebih besar lagi.
Sedangkan dalam kegiatan diskusi yang diadakan Senin (4/8/2025) di Kedai Tjikini, Jakarta Pusat, nampak dihadiri sejumlah undangan. Mereka antara lain dari Yayasan Ginjal Anak (Yagin) Indonesia, orangtua dari anak penderita gagal ginjal, penggiat kesehatan dan wartawan.
Tekad Forum Warga Kota (Fakta) Indonesia terus menggelar berbagai kegiatan serupa, yakni demi mewujudkan tujuan mulia dari bahaya konsumsi gula. Pemerintah diminta segera menerapkan cukai MBDK, karena dampaknya bakal mengganggu pencapaian target Indonesia Emas pada 2045 mendatang.

Masih dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025, Fakta Indonesia menggelar kegiatan diskusi sebagai upaya melindungi masyarakat konsumen, terutama anak-anak dari bahaya gula.
“Maka itu, kami ingin terus memperjuangkan agar MBDK dicukaikan dan memuat label peringatan sehingga dalam hal peredarannya bisa lebih terkontrol lagi,” tegas Azas Tigor Nainggolan selaku moderator diskusi tersebut.
Begitu pun yang dikatakan Ketua Fakta Indonesia, Ari Subagyo, terkait diskusi atau kongkow ini diperlukan peran media memberikan informasi masyarakat mengenai advokasi pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) dan regulasi MBDK.

“Sebab, sebagaimana kita ketahui bersama, salah satu dampak buruk sering mengkonsumsi MBDK dapat menimbulkan PTM seperti diabetes, gagal ginjal dan sebagainya,” tambahnya.
Diungkapkan Ari Subagyo, MBDK juga wajib dikenakan cukai, seperti produk rokok atau alkohol serta cantumkan label peringatan. “Padahal, perjuangannya sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Bahkan sejak 2016, Pemerintah sudah membahas masalah cukai. Tapi, anehnya sampai hari ini tak kunjung direalisasikan,” tandasnya.
Jika cukai terhadap MBDK tak kunjung diterapkan, menurut Ari Subagyo lebih lanjut, Indonesia bakal semakin sulit mewujudkan Generasi Emas. “Bahkan, generasi kita makin lemah dan sakit – sakitan. Karena, tiap hari dicekoki MBDK yang harganya sangat murah akibat tidak ada cukai,” imbuhnya.

Sedangkan Agustya Sumaryati sebagai Ketua Pengurus Yayasan Ginjal Anak Indonesia yang ikut hadir dalam diskusi, malah memaparkan dari tahun ke tahun jumlah penderita PTM yang menimpa anak-anak terus meningkat.
“Sejak beberapa tahun ini, anak yang menderita diabetes maupun gagal ginjal terus meningkat. Dari testimoni anak maupun orangtuanya karena sering mengkonsumsi MBDK yang berlebihan,” ucap Agustya Sumaryati, lagi.
Selama ini, menurutnya, yayasan nonprofit yang didirikan Syaihul Hady tersebut, sudah banyak membantu anak-anak yang mengalami gagal ginjal. Mereka bisa berobat justru atau bantuan biaya atau donasi dari masyarakat luas.

Sementara itu Ny Siti, warga Cilincing, Jakarta Utara, juga melakukan testimoni ditengah pelaksanaan diskusi. Dimana dirinya mengungkapkan alangkah sedihnya anak yang dibanggakannya itu, harus menderita gagal ginjal sejak tiga tahun lalu. Bahkan hingga sekarang terus melakukan pengobatan dan cuci darah secara rutin.
“Untuk anak saya ini, Ibrahimovic, didiagnosis ginjalnya mengecil pada umur 12 tahun. Sekarang dia sudah usia 15 tahun. Sejak tiga tahun belakangan, dalam seminggu dua tiga kali cuci darah,” ungkapnya.
Ny Siti membeberkan penyebabnya karena Ibrahimovic hampir setiap hari mengkonsumsi minuman manis dalam kemasan. “Namun diluaran sana banyak jenis MBDK yang harganya sangat murah, cuma Rp 500. Bahkan banyak anak-anak beli atau mengkonsumsi tanpa sepengetahuan orangtua,” pungkasnya. © RED/AGUS SANTOSA

