OLEH : MUTAWAKIL ABU RAMADHAN II
SAAT menulis tulisan ini, saya tengah berdiri di antara lautan manusia yang berbaris rapi, menunggu giliran untuk masuk ke Raudhah di Masjid Nabawi. Udara dipenuhi desis doa yang keluar dari hati-hati yang rindu, sementara langkah kaki terasa ringan meski antrian panjang tak kunjung surut. Di tempat inilah, antara mimbar dan makam Rasulullah SAW, doa-doa diangkat setinggi harapan dan seikhlas penghambaan. Rasulullah SAW menandaskan :
مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ
“Antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Raudhah adalah area suci yang menjadi simbol kekuatan doa, tempat di mana harapan menggantung di langit dan keyakinan menembus batas dimensi dunia.
Di titik perenungan saat mengantri ini, saya teringat pada sebuah hadis Rasulullah SAW yang menegaskan makna doa jauh melampaui sekadar arti bahasanya. Pikiran saya pun mengalir kepada hiruk-pikuk dunia modern yang terobsesi pada kepastian. Dimana sebuah kepastian yang seringkali menjadi ilusi paling besar yang kita hidupi. Di tengah obsesi modernitas itu, Rasulullah SAW sejak 1500 tahun yang lalu menyampaikan pesan yang tampak sederhana namun sesungguhnya membongkar akar kesombongan manusia terhadap takdir. Beliau bersabda :
الدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ
“Doa itu bermanfaat terhadap sesuatu yang telah turun dan sesuatu yang belum turun, maka hendaklah kalian, wahai hamba-hamba Allah, berdoa.” (HR. Al Hakim, dinilai hasan dalam Shahih Al Jaami‘ no. 3409)
Hadis ini adalah pengingat bahwa doa adalah harapan sebelum hasil, sekaligus benteng yang berdiri sebelum musibah menjemput. Do’a hadir lebih dari sekadar kata-kata yang meluncur saat hati panik Dimana do’a adalah kesadaran eksistensial bahwa kita sepenuhnya bergantung pada Allah, dalam perkara yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Imam Al Munawi dalam Faydh Al Qadir menjelaskan makna hadis ini :
يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ: يَرْفَعُهُ أَوْ يُخَفِّفُهُ، وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ: يَدْفَعُهُ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ
“Bermanfaat terhadap sesuatu yang telah turun: mengangkatnya atau meringankannya. Dan terhadap sesuatu yang belum turun: mencegahnya sebelum terjadi.”
Ibnul Qayyim menulis didalam kitabnya Al Jawab Al Kafi bahkan menyebut doa sebagai senjata yang tidak boleh dilepaskan :
وَالدُّعَاءُ مِنْ أَنْفَعِ الأَدْوِيَةِ، وَهُوَ عَدُوُّ الْبَلَاءِ، يَدْفَعُهُ وَيُعَالِجُهُ، وَيَمْنَعُ نُزُولَهُ، وَيَرْفَعُهُ أَوْ يُخَفِّفُهُ إِذَا نَزَلَ
“Doa adalah salah satu obat yang paling bermanfaat. Do’a adalah musuh bala: menolaknya, mengobatinya, mencegah turunnya, mengangkatnya, atau meringankannya jika ia telah turun.”
Di dalam teologi Asy‘ariyyah, doa adalah bagian dari القَدَر المُعَلَّق (qadar mu‘allaq) yaitu takdir yang digantungkan pada sebab tertentu. Imam Al Baqillani dan Imam Al Juwaini menjelaskan bahwa perubahan yang terlihat oleh malaikat ketika doa dipanjatkan bukanlah perubahan pada ilmu Allah, tetapi penyingkapan dari apa yang sudah tercatat sejak azali bahwa si hamba akan berdoa, lalu Allah akan menampakkan takdir yang berbeda. Al Hafizh Ibn Hajar Al ‘Asqalani dalam Fath Al Bari menegaskan :
وَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الدُّعَاءَ مِنْ أَسْبَابِ دَفْعِ الْبَلَاءِ، وَأَنَّهُ لَا يُنَافِي التَّوَكُّلَ
“Dalam hal ini terdapat dalil bahwa doa termasuk sebab untuk menolak bala, dan bahwa doa tidak bertentangan dengan tawakkal.”
Namun, dunia modern memutarbalikkan logika ini. Kita sering dijejali pikiran bahwa kalau perencanaan sudah matang dan sistem sudah terbangun dengan rapi, doa menjadi sekadar formalitas. Kita merasa aman karena ada kontrak kerja, tabungan pensiun, asuransi, undang undang dan teknologi, semua ini bagai sebuah prediksi yang seakan bisa membaca masa depan. Kita mengira semua sudah diatur, tinggal dijalani. Padahal, kepastian yang kita pegang itu rapuh.
Pandemi yang lalu membuktikan betapa rapuhnya “kepastian” itu. Satu virus yang tak terlihat mata mampu merobohkan tatanan ekonomi global, menghancurkan agenda-agenda besar, bahkan mengunci manusia di rumahnya sendiri. Seluruh jadwal yang kita anggap pasti berubah jadi lembaran kosong. Itulah saat dunia modern menelan pil pahit: sistem sebesar apa pun tidak bisa menjamin rasa aman.
Di sinilah relevansi hadis Rasulullah SAW ini menjadi nyata. Doa adalah benteng yang melampaui logika kepastian duniawi. Do’a mengajarkan bahwa kita merencanakan, kita berusaha, tapi kita tahu kendali terakhir ada di tangan Allah SWT. Doa membebaskan kita dari tirani kepastian palsu yang melatih kita berdamai dengan ketidakpastian tanpa kehilangan daya juang.
Realitas modern menunjukkan krisis yang lebih dalam : rapuhnya kesehatan mental masyarakat. Depresi, kecemasan, dan rasa hampa merajalela meski fasilitas hidup serba canggih. Ada rumah yang nyaman, pekerjaan tetap, dan hiburan yang tiada habisnya, tapi hati mereka tetap resah. Sebab jiwa mereka dididik untuk merasa aman hanya jika semua bisa diprediksi. Begitu ada yang keluar dari skenario, dunia batin mereka runtuh.
Shekh Yusuf Al Qaradhawi dalam bukunya
ملامح المجتمع المسلم الذي ننشده mengingatkan bahwa doa adalah الرَّابِطَةُ الرُّوحِيَّةُ الجَمَاعِيَّةُ” “ “pengikat spiritual kolektif” yang menjaga umat dari kesombongan system, ideologi nir-ketuhanan dan teknologi. Umat yang menjadikan doa sebagai inti kehidupannya akan membangun peradaban yang tidak bergantung pada ilusi atas manusia, tetapi berdiri kebergantungan kepada Allah SWT.
Bayangkan budaya doa mengalir di setiap sendi kehidupan. Para pemimpin memulai rapat dengan perenungan dan ketundukan dalam sujud yang panjang, menjadikan doa sebagai ruh keputusan, sementara sekolah menutup pelajaran dengan doa yang tulus, dan masyarakat memulai hari dengan doa bersama yang menautkan hati. Tatanan seperti ini akan menumbuhkan peradaban yang rendah hati di hadapan Allah, dan karenanya lebih manusiawi bagi semua.
Inilah inti perintah Rasulullah SAW: “فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ” yang artinya “Maka hendaklah kalian, wahai hamba-hamba Allah, berdoa.” Ini tidak hanya sekadar anjuran spiritual, tapi strategi peradaban. Kita boleh membangun sistem yang rapi, tetapi system itu harus berdiri di atas kesadaran bahwa kita tidak pernah benar-benar mengendalikan hidup.
Ketika manusia merasa hidupnya tidak dikendalikan Allah SWT, lahirlah kesombongan yang halus namun mematikan. Mereka mengira kekuatan, ilmu, dan sistem ada di genggaman mutlaknya sendiri, sehingga batas-batas moral pun mulai diabaikan. Dari sini muncul perilaku yang sulit dikendalikan, karena ego menjadi penguasa. Keserakahan merusak tatanan sosial, hawa nafsu meruntuhkan nilai-nilai akhlak, dan kerakusan mengeksploitasi bumi hingga lingkungan hidup hancur. Tanpa kesadaran akan kekuasaan Allah SWT, manusia menjadi penguasa yang zalim dan bukannya menjadi pemakmur yang amanah.
Doa adalah benteng terakhir di dunia yang menyembah kepastian. Do’a menegaskan bahwa kita adalah hamba, dan Allah SWT adalah Rabb yang mengatur segalanya. Dengan doa, kita tidak hanya melindungi diri dari musibah, tetapi juga membentuk masyarakat yang tidak silau pada sistem dan teknologi, karena mereka tahu bahwa semua itu hanyalah alat.
Maka mari kita hidupkan kembali budaya doa, bukan sekadar sebagai amalan pribadi, tapi sebagai denyut nadi peradaban. Jadikan doa sebagai pembuka dan penutup setiap rencana. Jadikan doa sebagai pengikat hati kita di tengah badai ketidakpastian. Sebab selama jembatan doa ini terjaga, badai sebesar apa pun tidak akan memutus langkah kita. Dan selama kita berdoa, kita tidak pernah sendirian, Allah SWT akan selalu bersama kita. (***/goes)