Kenapa? Karena saat ini bertepatan dengan bulan yang istimewa (12 Robi’ul Awwal 1447 Hijriyah), dimana mayoritas ulama mengatakan sebagai bulan kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW. Oleh sebab itu, sebagai umatnya kita wajib berbahagia dan bergembira menyambut serta mengungkapkan rasa syukur yang tak terhingga.
Katakanlah (wahai Muhammad), “Dengan karunia Alloh Ta’ala dan rahmat-NYA itu, hendaklah mereka bergembira. Maka yang demikian itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
Selanjutnya, Kyai Makhtum tak lupa menguraikan terkait hikmah dan faedah tersebut yang diantaranya adalah :
Menurut Kyai Makhtum justru dengan perayaan Maulid Nabi, In Sya Alloh akan dapat menambah mahabbah/kecintaan kita kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Bahkan di dalam perayaan Maulid Nabi, biasanya dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an, siroh Nabawiyah atau membacakan riwayat beliau. Baik itu dengan membaca kitab Al-Barzanji, Diba’i maupun atau Simthudduror, Syaroful Anam, Adl-dliyaul lami dan sebagainya.
“Terlebih lagi apabila diartikan setiap bacaannya, sungguh akan menumbuhkan rasa kagum yang luar biasa pada diri Rasulillah. Manusia sempurna yang disempurnakan oleh Alloh Ta’ala sebagai teladan dan rahmat bagi semesta alam,” urainya, lagi.
Dari situlah, lanjut khutbah Kyai Makhtum bahwa hal ini tentunya akan menggugah hati dan menumbuhkan mahabbah/kecintaan kita yang mendalam kepada beliau. “Sehingga kita benar-benar harus berterima kasih kepada Alloh Ta’ala yang telah mengutus beliau sebagai rahmatan lil alamin.
Hal tersebut, diungkapkan Kyai Makhtum bahwa di dalam sejarah bahwa dakwah dan perjuangan Nabi tidaklah semudah yang kita bayangkan. Namun beliau banyak sekali mendapatkan tantangan dan rintangan yang amat sangat berat, beliau banyak mengalami kesulitan dan permasalahan, termasuk intimidasi, embargo ekonomi dan bahkan ancaman pembunuhan.
“Malah segenap harta benda, tenaga, pikiran, do’a dan bahkan nyawa beliau menjadi taruhannya. Terutama di dalam dakwah dan perjuangan mensyi’arkan ajaran Islam, agama Alloh Ta’ala,” ungkapnya, panjang lebar.
Lebih jauh Kyai Makhtum menggambarkan bahwa di dalam berjihad memperjuangkan agama Islam, melawan musuh-musuh Alloh dan kedhaliman, Beliau Nabi Muhammad SAW tidak sekedar menyampaikan orasi dan mengobarkan semangat perjuangan.
“Bukan pula sekadar mengajak dan memerintah para sahabatnya untuk menjalankannya. Namun beliau sering juga terjun langsung ke medan perang, diantaranya beliau ikut serta memimpin langsung dalam perang Badar, Uhud dan fathu Makkah serta masih banyak lagi,” lanjut khutbahnya.
Kyai Makhtum menguraikan bahwa dengan mendengar dan membaca sejarah tersebut, rasanya kita sebagai umatnya tidak akan mungkin sanggup mengikuti Perjuangan Rasulillah dan para sahabatnya di dalam menegakkan kalimat Alloh atau Li i’laai kalimaatillah.
“Sehingga di era modern seperti sekarang ini, kiranya bagi kita cukup memperjuangkan Islam sesuai kemampuan kita yakni dengan memakmurkan masjid-masjid dan musholla-musholla yang ada. Juga rutin menggiatkan dan menyemarakkan majelis-majelis ilmu dan majelis-majelis dzikir untuk menghadirinya. Dan, diantaranya juga adalah bergembira/berbahagia dengan merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.
“Yakni dengan mencintai, meneladani dan mengikutinya serta mengajak kepada sesama umat Islam sekitar untuk melakukan hal tersebut. Tentu sana sebagai ajang memperbaiki dan mempererat tali silaturahim dengan harapan kelak pada hari kiamat, kita akan mendapatkan syafa’at dan bersama orang’ yang kita cintai. Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya,” ucapnya.
Adapun soal hikmah dan faedah selanjutnya adalah dengan mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, juga mengigat biografi, sejarah dakwah dan perjuangannya. “Kita harus benar-benar dapat menjadikan Nabi sebagai suri tauladan, panutan dan cermin terbaik/Uswatun Hasanah dalam harian kehidupan kita.
Hal tersebut sesuai dengan firman Alloh Ta’ala di dalam Al-Qur’an ;
Dikatakan Kyai Makhtum bahwa ayat tersebut menjadi dasar pokok di dalam meneladani Rasulullah. Baik itu dalam segala sifat, perkataan, perbuatan maupun perilaku yang menjadi Sunnah-sunnahnya. Menutup khutbah Jum’atnya, Kyai Makhtum, menukil :

