Pengembang PT HDP Dituding Anti Islam, WARGA CLUSTER NEO VASANA Kota Harapan Indah Didukung Ratusan Massa Bikin Aksi Demo

BEKASI (POSBERITAKOTA) – Setelah tertunda selama dua pekan, akhirnya warga Cluster Neo Vasana, Kota Harapan Indah, Kabupaten Bekasi yang didukung ratusan massa menggelar aksi demo damai, Sabtu (20/9/2025). Hal tersebut dilakukan akibat menemui jalan buntu alias penolakkan terkait permintaan akses pintu ke Mushola Ar-Rahman.

Bahkan saat aksi demo damai dilakukan juga mendapat perhatian luas dari masyarakat yang tengah melintas, baik di Bundaran Kota Harapan maupun Kantor Pemasaran PT Hasana Damai Putra (HDP) atau Damai Putra Group (DPG) selaku pengembang dari Cluster Neo Vasana.

Berdasarkan pemantauan langsung POSBERITAKOTA di lapangan, iringan (long march) peserta aksi demo damai, berlangsung tertib. Meski dari orasi yang disampaikan sempat menyebut bahwa PT Hasana Damai Putra (HDP) atau Damai Putra Group (DPG), anti Islam karena tak mau membuka akses warga ke Mushola Ar-Rahman.

Aksi demo damai itu sendiri, disebutkan koordinator melibatkan antara 200-250 massa. Hal itu merupakan puncak dari kekecewaan warga atas buntunya mediasi yang telah berlangsung selama hampir tiga tahun. Mushola yang sudah rampung 80 persen sampai sekarang belum bisa digunakan, karena pengembang tidak berkenan membongkar pagar untuk akses jalan bagi warga.

Dikatakan Bendahara Yayasan Ar-Rahman Vasana Neo Vasana, Vicky Subhata, proses mediasi resmi telah dilakukan sebanyak 3 kali. Masing-masing di Kantor Kecamatan Tarumajaya, Resto Bebek Kaleyo dan terakhir di Hotel Santika, Jumat (19/9/2025) malam.

“Sebenarnya pada tanggal 3 Oktober di tahun sebelumnya, sudah ada keputusan yang hampir disepakati tokoh dan ulama. Mereka memberikan opsi lahan 5.000 meter untuk masjid,” tutur Vicky kepada wartawan.

Meski demikian, ditambahkan Vicky lebih lanjut, saat warga menyepakati dan meminta penggunaan mushola yang sudah dibangun sambil menunggu pembangunan masjid baru, pihak DPG justru mengubah penawaran.

“Sedangkan anehnya, tiba-tiba mereka beritikad baik akan memberikan mushola sebesar 6×6 atau 10×10. Bahkan bakal dibangun mereka sendiri. Hal ini kan jadi dilema. Kenapa baru sekarang, empat tahun lalu ke mana saja?” Begitu ucap dia, lagi.

Oleh karenanya, Vicky mengajukan permohonam kepada Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunang, yakni untuk membantu permasalahan ini. Sebab, tambah dia, mungkin hanya pemerintah daerah (Pemkab Bekasi) atau pemerintah pusat yang dapat mampu membantu permohonan pembukaan akses mushola.

“Yang jelas untuk masalah tersebut, kami juga sudah menyampaikan surat ke Pak Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunang. Kami mohon suara warga Cluster Neo Vasana, supaya didengar. Justru dari Pak Bupati, diharapkan bisa membantu mencari solusi terkait permohonan warga untuk diberi akses ke Mushola Ar-Rahman,” paparnya, panjang lebar.

Pada kesempatan yang sama Ketua Orator Aksi, Arif, juga turut menegaskan bahwa warga merasa dipermainkan dalam proses mediasi yang berlarut-larut dan terkesan dipermainkan oleh pihak pengembang dari PT Hasana Damai Putra (HDP) atau Damai Putra Group (DPG).

“Pertanyaannya buat apa mereka harus mengeluarkan uang untuk bangun mushola atau masjid lagi di dalam lingkungan cluster? Kenapa tidak buka akses saja? Apapun permintaan syarat mereka, kita siap penuhi. Sebab, kami cuma minta akses pintu kecil saja,” harapnya.

Selain itu, Arif juga menuturkan bahwa pihaknya tidak lagi percaya pada janji-janji DPG, terkait pembangunan mushola dalam tiga bulan kedepan. “Sebab, sudah terlalu lama kami meminta. Malah mediasi terus, dialog terus tapi tidak ada ujungnya. Buka saja aksesnya, biar untuk kebutuhan kita ibadah,” ucapnya dengan nada kecewa.

Sedangkan Koordinator Aksi (Demo) Damai, Iwan, mengonfirmasi bahwa aksi akan berlanjut, apabila tidak mendapat respons positif dari pihakmanajemen DPG. “Kami beri deadline selama 7 hari kedepan. Jika tidak menemukan kesepakatan, kami bakal melalukan demo lagi dengan massa yang lebih besar,” tuturnya.

Selanjutnya, ditambahkan Iwan, pihaknya akan menyusun kekuatan dengan melibatkan berbagai elemen seperti Lembaga Swadaya Masyarakat, Organisasi Masyarakat dan unsur mahasiswa.

“Tuntutan bakal kita naikkan. Dari akses pintu hanya tiga bulan, maka kita akan minta permanen. Dan, aksi demo bakal terus dilakukan sampai berjilid-jilid,” janjinya.

Patut diketahui bahwa saat aksi demo damai berlangsung, tidak ada perwakilan dari pihak DPG yang berani menemui. Sehingga tuntutan disampaikan melalui orasi di depan kantor perusahaan sampai aksi demo damai selesai serta massa membubarkan diri.

Masih terkait hal itu, kalangan media siap memberitakan klarifikasi maupun tanggapan resmi dari PT Hasana Damai Putra (HDP) atau Damai Putra Group (DPG). © RED/AGUS SANTOSA

Related posts

Dukung Kebijakan Gubernur Pramono, Plt Sekretaris DPW PPP DKI Muhammad Hatta Siap Bantu Gencarkan Sosialisasi Program Pilah Sampah

Di Kabupaten Badung Bali, BBTF 2026 Rampung dan Transaksi Pariwisata Capai Rp 6,9 Triliun

Kriminologi 500 Tahun Jakarta, Agustus 1945 : Ketika Jakarta Kota Tanpa Tuan (Seri 20)