OLEH : MUTAWAKIL ABU RAMADHAN II
SAAT saya menulis artikel ini, saya menyaksikan betapa banyak pemahaman Islam yang terdengar seakan benar namun sejatinya kehilangan ruh spiritualitasnya. Dinamika modernitas masyarakat perkotaan saat ini nampaknya melahirkan dua kutub ekstrem dalam ber-Islam : satu terjebak dalam kekakuan tekstual, yang lain tenggelam dalam kebebasan tanpa batas.
Di antara dua arus besar itu, ruang bagi diskursus i‘tidal dan wasathiyah dengan kedalaman literasi semakin menyempit, seakan akal sehat dan keheningan hati menjadi barang langka di tengah gemuruh opini ofensif.
Akibatnya, Islam di ruang publik kehilangan kedalaman ruhani dan berubah menjadi panggung perdebatan dangkal antara mereka yang merasa paling suci dan mereka yang merasa paling bebas. Seruan-seruan yang seolah rasional dan simpatik namun sebenarnya miskin pemahaman, kini menjadi gema harian yang memekakkan telinga umat: “Bahaya terorisme”, “Musik adalah haram”, “Habib palsu”, “Ahli kubur dan Maulid Bid’ah” “Anti-NKRI dan pro-khilafah”, “Bukan takdir tapi dosa konstruksi” “Bukan agama tapi kemanusiaan” “Feodalisme pesantren” “LGBT Adalah manusia juga” dan seribu jargon lain yang memperlihatkan betapa agama telah direduksi menjadi pertarungan egoisme, simbolisme, kedangkalan mantiq dan kekeringan spritual, bukan perjalanan kematangan ber-Islam. Inilah wajah baru masyarakat modern yang penuh dengan wacana keagamaan bombastis.
Sejarah sebenarnya sudah menulis kisah memilukan ini. Satu milenium lalu, umat Islam pernah terperosok ke titik yang hampir sama seperti sekarang. Ketika Masjid Al Aqsha jatuh ke tangan pasukan Salib, kekalahan itu bukan sekadar kekalahan militer, tetapi kekalahan akal dan iman, ilmu dan amal. Perpecahan tumbuh subur karena munculnya pemahaman ekstrem, kebatinan yang berlebihan, dan kebebasan akal yang kehilangan batas. Kini, ketika kesalahan sejarah itu terulang serupa, Masjid Al-Aqsha kembali berada di bawah penjajahan musuh-musuh umat.
Para ulama seperti Imam Abu Al Ma‘ali Al Juwaini dan Fakhruddin Ar Razi menyaksikan bagaimana saat itu nalar teologis umat berubah menjadi kaku dan literal, hingga membawa agama pada tasybih dan tajsim. Imam Al Juwaini menulis dalam kitabnya Al-Irsyad :
لا يجوز إثبات صفة لله على ظاهرها، لأن ذلك يؤدي إلى التشبيه، بل الواجب التفويض أو التأويل بما يليق بجلاله.
“Tidak boleh menetapkan sifat bagi Allah dengan makna lahirnya, karena itu membawa kepada tasybih. Wajib menyerahkan maknanya kepada Allah atau menakwilkannya sesuai keagungan-NYA.”
Kata-kata itu ditulis seribu tahun lalu, tapi terasa seperti kritik untuk zaman ini. Ketika sebagian orang menafsirkan agama sebatas kulitnya, dan sebagian lain menelanjangi agama atas nama kebebasan berpikir, keduanya sama-sama menutup pintu akal sehat. Dalam situasi kekalahan yang sama disaat itu, Imam Ghazali menulis dalam Ihyaa’ Uluumuddiin :
قد أغلق الناس باب الاجتهاد مع أن الله لم يغلقه، ورضوا بالتقليد حتى جمد الشرع.
“Manusia (saat itu) menutup pintu ijtihad padahal Allah tidak menutupnya. Mereka rela dengan taqlid hingga syariat membeku.”
Ketika ijtihad mati, syariat membeku, dan hati mengering, maka peradaban pun ikut membusuk. Umat yang dulu memimpin dunia kehilangan ruh tafakkur dan berpaling pada perdebatan kecil. Di satu sisi lahir kaum tekstualis yang sibuk menuduh bid‘ah, di sisi lain muncul kaum liberal yang menertawakan agama. Dua-duanya lahir dari akar yang sama: hilangnya hubungan akal dengan adab.
Krisis seperti ini dahulu diperbaiki oleh generasi seperti Nizam al-Mulk, Imam Ghazali, dan Shalahuddin Al Ayyubi. Mereka memulihkan Islam dari dalam dengan menata ulang tiga sendi peradaban : akidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy‘ariyyah) yang menjaga rasionalitas iman, fiqih Syafi‘i yang menegakkan disiplin hukum dan menjawab masalah masalah dinamika kemasyarakatan, dan tasawuf al-Ghazali yang menanamkan adab hati dan tujuan hidup. Dari sinilah lahir kebangkitan yang melahirkan kemenangan didua peperangan paling bersejarah bagi umat Islam dalam satu milnium terkahir : perang Hittin (Al Aqsha direbut kembali) dan Ain Jalut (kedigdayaan pasukan Mongol dihancurkan).
Kebangkitan yang dahsyat ini tidak hanya lahir dari kekuatan militer, akan tetapi lahir dari kekuatan akal yang tunduk kepada wahyu dan hati yang hidup oleh zikir. Shalahuddin mendirikan madrasah dan ribaath, para sufi menanamkan mujahadah an nafs, dan ulama menulis kitab bukan untuk menghakimi, tapi untuk menuntun ilmu dan hati manusia. Ketika ilmu, iman, dan akhlak kembali bersatu, peradaban pun bangkit dari kehancuran.
Kini, satu Milenium kemudian, sejarah itu terulang. Bedanya, penjajahnya bukan lagi sekedar pasukan bersenjata, melainkan suatu entitas ideologi dan algoritma. Umat Islam kini terjajah bukan oleh bangsa asing, tapi oleh narasi yang membuat mereka kehilangan arah berpikir dan tujuan hidup. Di kampus, kebebasan berpikir berubah menjadi pembenaran bagi nihilisme. Di masjid, semangat dakwah sering berubah menjadi ajang ego kelompok dan golongan dan kultus diri.
Kaum liberal mengganti Tuhan dengan akal, sementara kaum puritan mengganti akal dengan emosi. Padahal keduanya, tanpa kesadaran adab, hanya dua wajah dari penyakit yang sama. Liberalisme mengajarkan manusia untuk berpikir tanpa batas, sedangkan puritanisme (pemurnian agama) mengajarkan manusia untuk berhenti berpikir. Islam kehilangan posisi tengahnya.
Kita menyaksikan generasi yang tahu banyak tentang agama tapi kehilangan rasa takut kepada Allah SWT, dan generasi lain yang bicara kebebasan tapi takut kepada kebenaran. Keduanya lupa bahwa Islam tidak pernah menghapus peran akal, melainkan mengarahkannya. Rasulullah SAW bersabda :
لا عقل كالتدبير، ولا ورع كالكف، ولا حسب كحسن الخلق
“Tidak ada akal seperti kemampuan menimbang, tidak ada wara’ seperti menahan diri, dan tidak ada kemuliaan seperti akhlak yang baik.”
Akal yang sejati selalu menimbang dengan takwa yang tidak tunduk kepada logika massa, tapi tunduk pada kebenaran. Dalam masyarakat modern, kita diajarkan untuk berpikir cepat, tapi tidak diajarkan untuk berpikir dalam. Akibatnya, Islam dijadikan alat untuk memukul atau untuk ditinggalkan, tapi jarang dijadikan jalan untuk mengenal Tuhan.
Satu Milenium yang lalu, umat bangkit ketika menghidupkan kembali pertemuan antara ilmu dan ruh. Kini, kebangkitan hanya mungkin terjadi jika kita berani menyalakan kembali akal sehat yang bersujud, akal yang berpikir karena takut kepada Allah. Seperti dalam khutbah Imam Abdul Qadir Al Jilani yang tertulis dalam kitab Al Fathurrabbani :
جاهد نفسك بسيف الأدب، فإنها عدوك الأكبر
“Perangilah nafsumu dengan pedang adab, karena ia adalah musuh terbesarmu.”
Tanpa adab maka ilmu akan menjadi racun. Begitu pun debaliknya, tanpa ilmu mana adab akan menjadi buta. Dua sayap inilah yang membuat umat Islam dahulu bisa terbang tinggi dengan cahaya wahyu. Kini dua sayap itu patah. Sebagian terbang dengan akal tanpa iman, sebagian berjalan dengan iman tanpa akal. Akibatnya, langit peradaban kembali gelap.
Kita harus terus sadar bahwa saat ini umat Islam berada dalam keadaan lemah. Untuk membela Gaza saja, kita serba terbatas. Dalam ekonomi dunia, kita tertinggal dalam penguasaan teknologi dan sumber daya manusia. Sekolah-sekolah Islam banyak yang hanya mencetak buruh murah, sementara mereka (para penguasa dunia modern) mendirikan sekolah untuk mencetak pemilik modal dan pemimpin besar.
Kini tugas kita adalah menjaga agar sejarah tidak menulis bab kehancuran yang sama. Karena setiap kali umat ini membunuh akal sehatnya sendiri, sejatinya mereka sedang menggali kuburnya di bawah bayang – bayang peradaban yang dulu pernah menjulang tinggi, dan kini hanya tinggal gema di antara reruntuhan waktu. (***/goes)
(PENULIS : MUTAWAKIL ABU RAMADHAN II adalah Ulama Besar, kini tinggal di Jawa Timur)

