JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Sungguh memprihatinkan! Insiden kecelakaan yang melibatkan kendaraan operasional pemerintah kembali terjadi di lingkungan sekolah. Sebuah mobil pengangkut Makanan Bergizi Gratis (MBG) dilaporkan menabrak siswa-siswa SDN 01 Cilincing, Kalibaru, Jakarta Utara, Kamis (11/12/2025) kemarin sekitar pukul 07.00 WIB.
Padahal di saat kejadian, para siswa tengah mengikuti kegiatan baris-berbaris di halaman sekolah. Beberapa siswa dikabarkan terpental dan tergeletak setelah tertabrak kendaraan tersebut. Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum merilis data resmi jumlah korban maupun kondisi terkini para siswa.
Setidaknya dari peristiwa tersebut, jelas menambah kekhawatiran publik setelah sebelumnya SMAN 72 Jakarta Utara diguncang ledakan bahan peledak. Dua kejadian dalam waktu berdekatan membuat pertanyaan besar muncul: seberapa aman lingkungan sekolah di Jakarta bagi anak-anak?
INI KRISIS KEAMANAN SEKOLAH
Direktur Jakarta Institute, Agung Nugroho, menilai insiden di Cilincing tidak dapat dipandang sebagai kecelakaan tunggal. Ia menyebut kejadian ini sebagai sinyal bahwa sistem perlindungan siswa di sekolah-sekolah Jakarta tengah berada dalam kondisi genting.
“Jadi, ini bukan sekadar human error. Ini bukti bahwa sekolah-sekolah di Jakarta sedang menghadapi krisis keamanan yang serius,” tegas Agung saat dihubungi POSBERITAKOTA, Kamis (11/12/2025) sore kemarin.
Menurutnya, insiden itu menunjukkan lemahnya pengawasan mobilitas kendaraan di kawasan sekolah. “Kendaraan logistik masuk ke area siswa beraktivitas tanpa pengamanan ketat. Itu menunjukkan ada celah besar dalam tata kelola keselamatan,” ujarnya.
Di sisi lain lagi, Agung juga menambahkan bahwa dua insiden beruntun dalam waktu dekat harus dibaca sebagai kegagalan sistemik. “Ketika ledakan terjadi di satu sekolah dan kecelakaan fatal terjadi di sekolah lain, itu tanda sistemnya tidak bekerja,” katanya.
PROGRAM PEMERINTAH HARUS DISERTAI PROTOKOL KESELAMATAN
Dalam penilaian Agung bahwa program-program pemerintah seperti MBG harus dilengkapi dengan standar keselamatan operasional yang ketat agar tidak menciptakan risiko baru di lingkungan sekolah.
“Distribusi MBG tidak boleh dilakukan pada jam aktivitas siswa. SOP harus diubah total. Program gizi tidak boleh berubah menjadi ancaman,” ujarnya.
Selanjutnya, Agung juga menyoroti minimnya petugas keamanan terlatih di banyak sekolah. “Kebanyakan sekolah hanya punya satu atau dua penjaga. Itu tidak cukup untuk sekolah dengan aktivitas harian yang sangat padat,” ungkapnya.
REKOMENDASI PERBAIKAN YANG MENDESAK
Oleh karenanya, Agung mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk segera melakukan langkah-langkah konkret, di antaranya:
Penerapan Zona Aman Sekolah (ZAS) yang melarang kendaraan masuk halaman sekolah pada jam masuk, istirahat, dan pulang.
Audit keselamatan menyeluruh di semua sekolah, dan hasilnya diumumkan ke publik.
Pelatihan dan sertifikasi keselamatan bagi seluruh pengemudi operasional pemerintah yang membawa logistik ke sekolah.
Penataan ulang jalur kendaraan agar sepenuhnya terpisah dari area kegiatan siswa.
SOP kegiatan luar ruang yang wajib diterapkan di seluruh sekolah.
PENANGANAN MASIH BERLANGSUNG
Polisi masih melakukan penyelidikan di lokasi kejadian. Pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan DKI Jakarta belum mengeluarkan keterangan resmi terkait kondisi para korban.
Agung berharap pemerintah bertindak cepat dan transparan. “Keselamatan anak harus menjadi prioritas. Jika sekolah tidak aman, seluruh agenda pendidikan kita kehilangan landasannya,” pungkasnya.
Sejumlah media masih berupaya memperoleh informasi lebih lanjut dari kepolisian, pihak sekolah, dan orang tua siswa terkait jumlah korban serta penyebab pasti kecelakaan tersebut. © RED/AGUS SANTOSA