JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Setiap menjelang Ramadhan tiba, warga Ibukota Jakarta disibukkan untuk mendatangi makam – makam keluarga. Bahkan mereka menjadikan sebagai tradisi kuat yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Datang ziarah kubur untuk memanjatkan doa kepada orang – orang yang dicintai dan telah meninggalkan dunia fana lebih dulu.
Bukan hanya itu saja. Dari tradisi ziarah ke makam keluarga itulah, tak sedikit pedagang di sekitar TPU (tempat pemakaman umum) yang bertebaran di seantero Ibukota Jakarta, jadi panen rejeki. Terutama bagi penjual kembang atau air mawar dalam bentuk botolan. Termasuk penjual makanan dan minuman.
Sejumlah warga yang tinggal di sekitar TPU, juga ikut memanfaatkan situasi untuk meraih rejeki. Tentu saja dengan bermodalkan sapu lidi dan air di ember, mereka menawarkan ke para peziarah. Tak masalah bagi mereka jika harus menerima pemberian uang seikhlasnya, mulai dari Rp 5000 – 10.000 dan bahkan sampai ada yang memberi amplop hingga Rp 50.000,-.
Dari pantauan Tim Wartawan POSBERITAKOTA. COM sejak libur Sabtu (14/2) kemarin dan diperkirakan bakal sampai Rabu (18/2) mendatang sebelum Ramadhan 1447 H tiba, TPU-TPU di Jakarta bakal terus dipadati pengunjung yang berniat ziarah kubur.
Sri Murniati dan Sri Marlina, nampak berziarah kubur di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Bersama keluarga besarnya, mendatangi makam orangtua, kakak tertua dan mendiang suaminya. Mereka ternyata telah dipisahkan hampir 20-an tahun lamanya, namun tetap ziarah kubur setiap tahunnya.
Gambaran ramai para peziarah juga terlihat di TPU Prumpung (Jaktim), Mampang Prapatan (Jaksel), Semper (Jakut), Kembangan (Jakbar) dan Petamburan (Jakpus). Sejak dua hari lalu, setidaknya 100 peziarah mendatangi makam-makam keluarganya.
Perlu diketahui sebenarnya bagaimana hukum ziarah kubur yang selalu dilakukan warga masyarakat setiap menjelang atau memasuki Ramadhan? Sebab, Islam mengajarkan ziarah kubur pada dasarnya diperboakhirat
Bahkan Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berziarah karena dapat mengingatkan pada kematian dan kehidupan akhirat. Sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa ziarah kubur dapat mengingatkan kepada akhirat.
Dari situ dapat diartikan secara umum bahwa ziarah kubur hukumnya sunnah, tentu saja selama tidak disertai perbuatan yang dilarang, seperti meminta kepada penghuni kubur atau melakukan ritual yang menyimpang dari ajaran tauhid.
Sementara itu tentang mengkhususkan ziarah menjelang Ramadhan, para ulama berbeda pandangan. Sebagian melarang, tapi ada pula membolehkan. Karena dianggap sebagai bagian dari tradisi (urf) yang baik selama tidak diyakini sebagai kewajiban syar’i. Namun sebagian yang lain, juga mengingatkan agar tidak meyakini ada keutamaan khusus ziarah di waktu tersebut tanpa dalil yang jelas.
Disebutkan pula bahwa ziarah kubur menjelang Ramadhan boleh dilakukan. Tentu selama diniatkan untuk mendoakan almarhum dan mengingat kematian. Jadi, bukan karena keyakinan bahwa ada kewajiban atau ritual khusus yang harus dilakukan sebelum puasa.
Namun diluar perdebatan hukum, suasana TPU menjelang Ramadhan selalu menghadirkan potret humanis yang sama setiap tahun. Anak-anak kecil berlarian di antara makam, para ayah membersihkan rumput liar serta para peziarah menabur bunga/kembang dan air mawar sambil melantunkan doa. © RED/RAMADHAN ALDIANSYAH/ APRILIO RIZKY/ DAMAR NOVRIZAL / EDITOR : GOES