PosBeritaKota.com
Opini Syiar

Tahu Hakekat Filosofi Puasa Lebih Penting, RAMADHAN & Krisis Cara Berpikir Umat Modern

OLEH : MUTAWAKIL ABU RAMADHAN II

DITENGAH malam ketiga Ramadhan ini saya merasa ada yang kurang sreg setelah melihat dan mendengar banyak penceramah di media mainstream, terutama di televisi, yang rata-rata hanya membahas fadilah ibadah puasa Ramadhan secara kasat mata, seolah puasa cukup dipahami sebagai hitungan pahala dan balasan belaka.

Padahal, sebagian besar umat hari ini hidup dalam pola pikir transaksional dan logika dangkal yang dibentuk oleh sistem pendidikan yang cenderung sekuler yang mereka dapatkan sejak kecil, sementara masyarakat berhak mendapatkan kajian yang menyentuh akar sejarah dan hakikat filosofi puasa dalam Islam, maka dari kegelisahan itulah tulisan ini saya lanjutkan.

Ramadhan selalu datang setiap tahun, tetapi cara kita memahaminya sering kali terlalu dangkal. Banyak orang yang melakukan pendekatan ibadah ini dengan pola pikir transaksi. Hitung pahala, kejar target, kumpulkan amal sebanyak mungkin.

Seolah hubungan dengan Allah SWT seperti hubungan dagang, dimana saya memberi, lalu saya harus mendapat. Padahal kalau kita kembali ke awal sejarah Siyam (puasa) manusia dalam ajaran tauhid, pelajaran Ramadhan jauh lebih dalam dari sekadar hitungan pahala.

Kisah Nabi Adam عليه السلام adalah titik awalnya. Manusia pertama ini diciptakan dalam kemuliaan sebagai khalifah, sampai sampai iblis terjangkit penyakit hasad akibat kemuliaan beliau itu. Lalu Allah mengajarkan kepadanya nama-nama (Al Asmaa yaitu ilmu pengetahuan). Karena kemuliaan dan keilmuannya, para malaikat diperintahkan Allah SWT untuk melakukan sujud respek sebagai bentuk penghormatan (bukan sujud sembah).

Lalu terjadi kesalahan, Nabi Adam AS melakukan perbuatan yang dilarang Allah SWT di surga, beliaupun memasuki hari hari di titik terendahnya, namun beliau kembali bangkit, dan yang membuat beliau mulia adalah cara beliau bangkit, yaitu dengan bertaubat dan menghindari perilaku dendam dan mengkambing hitamkan Iblis, Allah berfirman :

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Maka Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 37)

Disebut dalam sebagian atsar dan tafsir klasik yang menyebutkan pandangan sahabat Rasulullah SAW Abdullah bin Abbas رضي الله عنه disebutkan bahwa enga Nabi Adam AS diturunkan ke bumi, warna tubuhnya sempat menggelap karena pengaruh dosa dan kesedihan, lalu beliau berpuasa tiga hari sebagai bentuk taubat hingga Allah mengembalikan kecerahannya.

Riwayat ini sering dikaitkan enga nasal-usul puasa tiga hari setiap bulan, Ayyamul Bidh. Rasulullah SAW bersabda:

صَوْمُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ

“Puasa tiga hari setiap bulan seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Bukhari dan Muslim). Pesannya jelas, bahwa puasa adalah jalan pemulihan dan jalan kembali kepada cahaya setelah sempat tertutup oleh kesalahan.

Allah SWT juga menegaskan bahwa puasa sudah ada sejak umat-umat terdahulu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Tujuan puasa adalah taqwa, dan taqwa adalah kesadaran bahwa manusia lemah dan bergantung penuh kepada Allah.

Dalam konteks output puasa adalah taqwa, Imam Al-Ghazali menulis didalam kitabnya Ihya Ulumuddin tentang kedudukan ibadah puasa dihadapan Allah SWT:
الصوم سرٌّ بين العبد وربه

“Puasa adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya.”

Di zaman sekarang hampir semua hal ingin dipamerkan. Ibadah pun sering menjadi tontonan pameran diri manusia. Puasa justru mengambil arah yang berlawanan dengan melatih kejujuran ditengah kesendirian dan kesunyian. Saat sendirian, seseorang bisa saja makan dan minum, tidak ada seorangpun yang melihat. Namun dia tetap menahan diri karena sadar Allah SWT itu melihat.

Imam Fakhruddin Ar Razi menjelaskan didalam tafsir karya beliau yaitu Tafsir Mafaatiihul Ghayb bahwa puasa melemahkan syahwat, dan syahwat adalah pintu banyak dosa. Sementara tatanan dunia modern justru membesarkan syahwat, seperti keinginan konsumsi tanpa batas, ambisi jabatan, obsesi status sosial, citra di media sosial, pengakuan orang lain. Puasa datang untuk mengerem semuanya.

Nabi Adam jatuh karena mendekati yang dilarang. Puasa melatih kita menahan untuk melakukan sesuatu yang halal. Makan dan minum itu pada dasarnya halal. Akan tetapi dari pagi,siang dan sore hari di bulan Ramadhan, semuanya ditahan. Kalau yang halal saja bisa ditahan, tentu yang haram lebih mudah dijauhi. Inilah pendidikan Ramadhan yaitu pendidikan jiwa, tidak sekadar latihan fisik.

Saat ini, banyak orang terdidik oleh sistem pendidikan nasional yang secara mainstream memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, Ramadhan dipahami sebatas ritual dan seremonial belaka. Padahal Ramadhan adalah proses pembersihan hati dan cara berpikir dengan menggeser manusia dari rasa berhak terhadap imbal balik dari Allah SWT menjadi rasa butuh kepada Allah SWT secara totalitas, dari merasa mampu sendiri menjadi sadar bahwa hidup ini sepenuhnya dalam kuasa Allah SWT.

Jika Ramadhan hanya membuat kita lapar, kita kehilangan intinya. Jika Ramadhan membuat kita lebih sadar, lebih tenang, lebih mampu menahan diri, berarti cahaya hidup itu mulai kembali ke diri kita. Nabi Adam AS memulai sejarah manusia di bumi dengan taubat. Ramadhan mengajak kita mengulang momen itu setiap tahun, bukan sekadar menambah amal, tetapi memulihkan hati, karena yang menyelamatkan manusia pada akhirnya adalah hati yang kembali bersih dan tunduk kepada Allah SWT. (***/goes)

(PENULIS : MUTAWAKIL ABU RAMADHAN II adalah Ulama Senior, kini tinggal di Surabaya, Jawa Timur)

Related posts

Tetap Eksis di Usia 42 Tahun, YAYASAN WAKAF BAITUSSALAM Kini Berganti Pengurus & Banyak Diisi Kader Muda

Redaksi Posberitakota

Mulai 4 Oktober, ARAB SAUDI Secara Berkala Buka Lagi Bagi Umat Muslim untuk Ibadah Umrah

Redaksi Posberitakota

Selain Tetap Keliling Berbagi, PJBW di Pekan ke-26 Sambangi Yayasan Cahaya Alam Duren Sawit Jakarta Timur

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang