Membaca Arah Konflik Berkepanjangan di Gaza, JAKARTA INSTITUTE Sebut Arah Politik Luar Negeri Amerika Serikat Ditentukan Israel

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Perdebatan mengenai arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Timur Tengah kembali mencuat di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan konflik berkepanjangan di Gaza. Sejumlah pengamat menilai hubungan strategis antara Washington dan Tel Aviv membuat kebijakan Amerika kerap bergerak sejalan dengan kepentingan politik Israel.

Direktur Jakarta Institute, Agung Nugroho, menilai dinamika tersebut menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat dalam isu Timur Tengah tidak sepenuhnya ditentukan oleh aspirasi publiknya.

“Dalam banyak kasus, kebijakan Washington terhadap Timur Tengah terlihat sangat dipengaruhi oleh kepentingan politik pemerintah Israel,” kata Agung Nugroho dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, figur Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memiliki pengaruh politik yang cukup besar dalam dinamika hubungan kedua negara. Kedekatan strategis antara Amerika Serikat dan Israel, kata dia, tidak hanya terbentuk melalui kerja sama militer dan keamanan, tetapi juga melalui jaringan politik yang kuat di Washington.

Agung menilai salah satu faktor yang memperkuat hubungan tersebut adalah pengaruh kelompok lobi pro-Israel di Amerika Serikat. Organisasi seperti American Israel Public Affairs Committee selama ini dikenal memiliki jaringan politik yang luas di Kongres Amerika Serikat.

“Dukungan politik terhadap Israel di Washington hampir selalu menjadi konsensus bipartisan. Ini membuat kebijakan luar negeri Amerika terhadap kawasan Timur Tengah relatif stabil, bahkan ketika opini publik mulai berubah,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir muncul kritik dari sejumlah politisi Amerika mengenai kebijakan pemerintah yang terus memberikan bantuan militer kepada Israel. Salah satu kritik datang dari Senator Amerika Serikat Bernie Sanders.

Melalui media sosial, Sanders pernah menulis bahwa Netanyahu menuntut miliaran dolar untuk menghancurkan Jalur Gaza dan permintaan tersebut dipenuhi oleh Washington. Ia juga menyinggung bahwa ketika Netanyahu mendorong konfrontasi dengan Iran, respons dari pemerintahan Amerika sering kali bergerak cepat menyetujui langkah tersebut.

Menurut Agung, kritik dari politisi seperti Sanders menunjukkan bahwa perdebatan mengenai hubungan Amerika Serikat dan Israel juga berkembang di dalam negeri Amerika sendiri.

“Di satu sisi ada aliansi strategis yang sangat kuat antara kedua negara. Tapi di sisi lain, masyarakat Amerika, terutama generasi muda, mulai mempertanyakan dampak kebijakan tersebut terhadap stabilitas kawasan dan krisis kemanusiaan di Gaza,” kata dia.

Agung menilai perdebatan ini kemungkinan akan terus berkembang seiring perubahan dinamika politik global. Namun selama hubungan strategis antara Washington dan Tel Aviv tetap berada pada tingkat yang sangat dekat, kebijakan Amerika terhadap Timur Tengah diperkirakan tidak akan mengalami perubahan besar dalam waktu dekat.

“Relasi politik dan keamanan antara Amerika Serikat dan Israel sudah terbentuk sangat lama. Karena itu, perubahan kebijakan biasanya berjalan sangat gradual,” ujarnya. © RED/RAMADHAN ALDIANSYAH/EDITOR : GOES

Related posts

Dukung Kebijakan Gubernur Pramono, Plt Sekretaris DPW PPP DKI Muhammad Hatta Siap Bantu Gencarkan Sosialisasi Program Pilah Sampah

Di Kabupaten Badung Bali, BBTF 2026 Rampung dan Transaksi Pariwisata Capai Rp 6,9 Triliun

Hindari Perilaku Seks Menyimpang, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan Nikahkan Pasangan Pemulung di Kota Bekasi