PosBeritaKota.com
Opini Syiar

Tentang Arti Kesabaran sampai Kerendahan Hati, BELAJAR HIKMAH HIDUP dari Filosofi Pohon Bambu

OLEH : TAUFAN HIDAYAT

Di ALAM, Allah SWT sering menaruh pelajaran hidup yang sangat dalam melalui makhluk yang tampak sederhana. Bambu adalah salah satunya. Ia tumbuh tenang di pinggir sungai, di lereng bukit, atau di halaman desa, tetapi menyimpan hikmah tentang kesabaran, kekuatan, kebersamaan, dan kerendahan hati. Dari bambu kita belajar bagaimana menjadi manusia yang kuat tanpa kehilangan kelembutan hati.

Di antara ciptaan Allah SWT yang sering kita lewati tanpa banyak perhatian adalah bambu. Ia berdiri tegak, sederhana, tidak pernah menuntut untuk dipuji. Namun jika kita mau merenung sejenak, bambu sesungguhnya menyimpan pelajaran kehidupan yang sangat dalam. Bambu tidak pernah tergesa-gesa tumbuh tinggi. Ia memulai hidupnya dengan membangun akar yang kuat di dalam tanah.

Inilah pelajaran pertama tentang kesabaran. Dalam kehidupan manusia, sering kali kita ingin cepat terlihat berhasil. Kita ingin segera dipuji, segera diakui, segera terlihat tinggi. Padahal Allah SWT mengajarkan bahwa sesuatu yang besar selalu diawali dengan fondasi yang kuat.
Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا
ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا

“Dan Allah SWT menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baik pertumbuhan, kemudian Dia akan mengembalikan kamu ke dalamnya dan mengeluarkan kamu kembali.(QS Nuh: 17–18)

Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan manusia pun seperti tanaman. Ada proses tumbuh yang tidak selalu terlihat. Ada masa ketika kita menanam amal, menata niat, memperbaiki hati, memperdalam ilmu. Semua itu seperti akar bambu yang diam di dalam tanah, tetapi justru menjadi penopang bagi pertumbuhan yang tinggi kelak.

Rasulullah SAW ﷺ juga mengingatkan tentang pentingnya kesabaran dalam proses kehidupan. Beliau bersabda:

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Barang siapa berusaha bersabar maka Allah SWT akan menjadikannya sabar. Dan tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR Bukhari dan Muslim)

Filosofi bambu yang kedua adalah tentang kebersamaan. Bambu tumbuh berdekatan. Ia tidak hidup sendirian. Dalam satu rumpun, banyak batang bambu berdiri berdampingan. Mereka tidak saling mencekik, tidak saling menjatuhkan. Mereka justru saling menopang ketika angin kencang datang.

Begitulah seharusnya manusia hidup dalam masyarakat. Dekat tetapi tidak menindas. Bersama tetapi tidak saling menyakiti. Islam mengajarkan bahwa umat ini harus menjadi satu tubuh yang saling menjaga.
Rasulullah SAW ﷺ bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi seperti satu tubuh.” (HR Muslim)

Bambu tidak saling berebut cahaya. Ia memberi ruang satu sama lain untuk tumbuh. Ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan, kita tidak perlu iri pada keberhasilan orang lain. Setiap manusia memiliki waktunya masing-masing.
Allah SWT berfirman:

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS Az-Zukhruf: 32)

Filosofi bambu berikutnya adalah kelenturan. Ketika badai datang, bambu tidak melawan dengan kekakuan. Ia menunduk, mengikuti arah angin, tetapi setelah badai berlalu ia kembali tegak. Ia tidak patah.

Ini adalah pelajaran besar tentang kerendahan hati. Dalam kehidupan, manusia yang terlalu kaku sering kali justru mudah patah. Orang yang mau menundukkan ego, mau mendengar nasihat, mau memperbaiki diri, justru akan lebih kuat menghadapi ujian.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati.” (QS Al-Furqan: 63)

Bambu juga terkenal dengan kesabarannya. Ada jenis bambu yang bertahun-tahun tidak terlihat tumbuh tinggi. Namun selama itu ia membangun jaringan akar yang luas. Ketika waktunya tiba, ia dapat tumbuh sangat cepat dan menjulang tinggi.

Begitu pula kehidupan manusia. Ada orang yang tampaknya lambat. Ada yang perjuangannya panjang. Ada yang kesuksesannya tidak datang cepat. Namun Allah SWT tidak pernah menyia-nyiakan kesabaran hamba-NYA.
Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS At-Taubah: 120)

Satu lagi pelajaran indah dari bambu adalah tentang keberlanjutan kehidupan. Satu akar bambu dapat melahirkan banyak tunas baru. Dari satu rumpun, kehidupan terus berkembang. Apa yang dirawat hari ini akan menjadi kehidupan bagi masa depan.

Dalam Islam, setiap amal kebaikan yang kita tanam juga akan terus berbuah, bahkan setelah kita meninggal dunia. Rasulullah SAW ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ

“Jika anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim)

Maka kehidupan ini sejatinya seperti menanam bambu. Kita menanam iman, menanam ilmu, menanam kebaikan, menanam akhlak. Mungkin hasilnya tidak selalu terlihat hari ini. Namun suatu hari, tunas-tunas kebaikan itu akan tumbuh, memberi manfaat bagi banyak orang.

Dari bambu kita belajar bahwa kekuatan tidak selalu harus keras, keberhasilan tidak selalu harus cepat dan kebersamaan tidak harus saling mengalahkan. Bambu berdiri sunyi di tepi sungai, tetapi ia mengajarkan manusia tentang sabar, rendah hati, kuat dalam kebersamaan dan tetap tegak dalam iman kepada Allah SWT. (***/goes)

(PENULIS : TAUFAN HIDAYAT adalah Pemerhati Masalah Keagamaan dan Kehidupan, kini tinggal di Jakarta)

Related posts

Rekening Dormant Diblokir, POTENSI ABUSE OF POWER & Ancaman Rush Money: Presiden Prabowo Harus Evaluasi Kepemimpinan Kepala PPATK

Redaksi Posberitakota

Goresan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, KEDUDUKAN Hurup ‘Ba’ dalam Basmalah

Redaksi Posberitakota

Meski Pilpres 2024 Masih Dua Setengah Tahun Lagi, MANUVER POROS UMAT Akankah Digjaya?

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang