JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Dengan Total melibatkan 180 personel gabungan dan juga melibatkan peran warga, Camat Pangestu Aji Swandhanu memimpin langsung kegiatan kerja bakti serentak terpadu pada saluran Penghubung (PHB) Jalan KH Moh Mansyur atau tepatnya di depan Pasar Mitra, Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Minggu (12/4/2026).
Sedangkan kegiatan kerja bakti serentak terpadu itu sendiri, menyasar saluran sepanjang kurang lebih 450 meter dengan lebar sekitar 4 meter. Begitu pula untuk kedalaman idealnya sampai 2 meter. Tujuannya adalah sebagai upaya mengantisipasi banjir dan sekaligus penanganan terhadap penumpukan sampah yang telah terjadi selama bertahun-tahun.
Seperti diketahui, menurut Camat Tambora Pengestu Aji Swandhanu, kondisi saluran PHB di lokasi tersebut mengalami pendangkalan cukup parah. Hal itu akibat penumpukan sampah dan lumpur. Bahkan, kedalaman saluran yang idealnya mencapai dua meter, saat ini hampir tertutup material sedimen hingga menyerupai tanah.
”Saluran ini panjangnya kurang lebih 450 meter dengan lebar sekitar 4 meter. Namun untuk kedalaman, idealnya harus 2 meter. Tetapi, saat kami turun ke dalam saluran, airnya tidak sampai menenggelamkan. Kenapa? Karena sudah dipenuhi sampah dan lumpur,” katanya saat ditemui di lokasi kegiatan.
Lebih jauh, Camat Tambora Pengestu Aji Swandhanu, mengutarakan bahwa kerja bakti terpadu yang dilaksanakan serentak di wilayah Jakarta Barat tersebut, juga difokuskan pada pembersihan saluran. Sebab, hal itu sebagai bagian dari upaya mitigasi banjir, meskipun wilayah Tambora tidak termasuk daerah prioritas banjir. Hanya saja, genangan air masih kerap terjadi di sejumlah gang-gang atau pemukiman warga saat hujan deras.
”Sebetulnya, wilayah Tambora bukan wilayah prioritas banjir. Tetapi, saat hujan tetap ada genangan hingga setinggi lutut. Dan, bahkan sampai setinggi paha untuk di beberapa titik. Karena itu, saluran PHB ini menjadi urat nadi aliran air yang harus dijaga dan agar tetap berfungsi,” imbuhnya.
Tidak hanya untuk pembersihan saluran, Pemerintah Kecamatan Tambora juga menjalankan program TAMPAN (Tambora Tertib, Terpadu, Aman dan Nyaman) yang mencakup 5 aspek penataan wilayah. Antara lain meliputi ketertiban saluran, jalan, taman, kesehatan, keamanan serta pengelolaan sampah.
Masih menurut keterangan Aji bahwa persoalan sampah menjadi tantangan utama di wilayahnya. Berdasarkan data Suku Dinas Lingkungan Hidup, sekitar 70 persen sampah di Kecamatan Tambora merupakan sampah residu yang sulit diolah kembali.
”Maka itu, kami terus mengedukasi masyarakat agar memilah sampah dari sumbernya. Sampah organik bisa diolah menjadi pupuk, sementara sampah anorganik, dapat dimanfaatkan melalui bank sampah atau program 3R (reduce, reuse, recycle),” bebernya.
Selanjutnya, ditambahkan Aji, pemerintah wilayah juga tengah menjajaki kerjasama pengelolaan limbah minyak jelantah dengan pihak swasta untuk mengurangi volume sampah residu rumahtangga.
Diharapkan Camat Tambora bahwa melalui, kegiatan kerja bakti terpadu yang melibatkan unsur kelurahan, PPSU, Satpol PP, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Sumber Daya Air hingga mengajak peran masyarakat. Dari situ dapat menjadi langkah awal dalam mempercepat normalisasi saluran serta meningkatkan kesadaran warga menjaga kebersihan lingkungan.
Dalam kesempatan yang sama Legislator (Anggota DPRD) DKI Jakarta dari Komisi D, Husen Ishaq menilai bahwa kondisi saluran PHB di kawasan tersebut sudah lama tidak tertangani secara optimal. Lalu, berdasarkan hasil peninjauan lapangan, bagian hulu saluran diperkirakan tidak dibersihkan selama sekitar 16 hingga 17 tahun.
”Malah dari pengamatan kami, kedalaman sampah di dalam saluran hampir mencapai dua meter. Jika pengerukan dilakukan secara menyeluruh, prosesnya bisa memakan waktu berbulan – bulan dan harus dilakukan secara bertahap,” ujarnya.
Di sisi lain lagi, Husen mengungkapkan bahwa sumber utama sampah di saluran tersebut, diduga berasal dari aktivitas pasar di sekitar lokasi, termasuk Pasar Mitra. Jika sampah yang tidak segera diangkut dan kemudian terbawa aliran air, maka bakal menumpuk di saluran.
Dikatakan politisi dari PAN tersebut, volume sampah yang harus diangkut sangat besar dan diperkirakan mencapai ratusan karung. Karena itu, Husen menekankan pentingnya perawatan rutin saluran agar permasalahan serupa tidak kembali terjadi.
”Jika perawatan dilakukan secara berkala, misalnya setiap minggu atau setiap bulan, maka kondisi seperti ini tidak akan terulang. Saluran harus tetap difungsikan dan tidak boleh ditutup,” urainya.
Adapun di tingkat kebijakan, Husen menyebut DPRD DKI Jakarta saat ini tengah membentuk panitia khusus (Pansus) untuk merumuskan solusi penanganan sampah secara komprehensif. Hal ini mengingat produksi sampah di Jakarta mencapai hampir 11 ribu ton per hari, sementara kapasitas pengolahan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang hanya sekitar 7.500 ton per hari.
”Dari fakta itu, artinya masih ada sekitar 3.500 hingga 4.000 ton sampah yang belum tertangani secara optimal setiap hari. Jadi, hal tersebut menjadi tantangan besar yang membutuhkan kerjasama semua pihak,” tutup Husen. © RED/AGUS SANTOSA