BALI (POSBERITAKOTA) – Bali resmi menjadi pilot project nasional pengolahan sampah pirolisis. Metode inovatif ini mengubah sampah menjadi BBM, dengan target operasi April 2027. Pernyataan ini disampaikan pada 22 Mei 2026, guna mengatasi volume sampah di pulau ini.
Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menyampaikan informasi ini. Ia bertemu Gubernur Bali Wayan Koster di Kaya Sabha, Denpasar. Jenderal Maruli menekankan efektivitas metode pirolisis tersebut.
“Pirolisis efektif dan ramah lingkungan tanpa emisi terbuka, serta cepat,” kata Jenderal Maruli. Ia menambahkan, proyek ini ditargetkan dapat beroperasi pada April 2027. Metode ini tidak memerlukan investasi pemerintah.
TNI AD mendukung penuh proyek ini. Mereka juga membantu pengambilan dan pengelolaan sampah terpadu di Bali. Dukungan datang dari tim terpadu lintas Kementerian dan Lembaga.
Metode pengolahan sampah ini memerlukan lahan seluas lima hektar. Kapasitasnya mencapai 100 ton sampah per hari. Hasilnya berupa BBM, gas sintetis, dan arang.
Ada jaminan penjualan BBM solar yang dihasilkan. Ini menjadi sumber energi terbarukan. Kerja sama ini direncanakan berlangsung selama 30 tahun.
Secara nasional, teknologi pirolisis juga diterapkan di beberapa wilayah. Ini termasuk Jakarta, Surabaya, dan Bekasi. Bali menjadi salah satu fokus utama.
Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Nani Hendiarti turut memberikan keterangan. Ia berasal dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di Bali juga berjalan.
“PSEL yang sedang dibangun di Bali akan mengurangi beban TPA Suwung,” ujar Nani. Ia menyoroti kondisi darurat sampah di kawasan Denpasar Raya. Pemilahan sampah harus dilakukan sejak dari sumbernya.
Gubernur Bali Wayan Koster mengakui peningkatan volume sampah. Sampah berasal dari masyarakat dan sektor pariwisata. Namun, Bali harus tetap bersih dan lestari. Ekosistem juga harus berkelanjutan.
“Yang kami upayakan selama ini adalah menertibkan pengelolaan sampah mulai dari rumah tangga,” kata Gubernur Koster. Ini menjadi langkah awal yang penting.
Dalam 18 bulan ke depan, Bali akan memiliki PSEL. Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi Desember 2027. PSEL ini menjadi solusi jangka panjang.
Ini mengatasi masalah sampah di Bali. Sekaligus mendukung ketahanan energi. Inisiatif pengolahan sampah pirolisis dan PSEL ini diharapkan membawa dampak positif bagi lingkungan dan energi Bali. ® RED/BALI 01