Prof Dailami Firdaus: Hilangnya Syiar Islam Saat Idhul Fitri 1438 H

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Prof Dr H Dailami Firdaus secara tegas mengaku prihatin terhadap hilangnya Syiar Islam disaat momentum perayaan Hari Raya Idhul Fitri 1438 H (Lebaran) yang baru saja berlalu.

Indikasi hilangnya Syiar Islam tersebut sangat terasa, karena Pemerintah melakukan pelarangan terhadap Takbir Keliling bagi umat Islam di DKI Jakarta untuk merayakan kemenangan setelah satu bulan penuh melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan.

“Jadi, kurang tepat apabila Pemerintah menyebut atau mengkhawatirkan mereka, karena dianggap bakal mengganggu ketertiban umum,” ucap Prof Dr H Dailami Firdaus, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI kepada POSBERITAKOTA, Jumat (30/6).

Sebagai umat Islam secara umum dan juga sebagai pribadi, tambah Prof Dailami, dirinya benar-benar sangat terusik. “Sepertinya, negara dan bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tak lagi bisa memaknai secara benar dan pas bentuk-bentuk Syiar Islam yang sudah menjadi tradisi,” tegas dia.

Takbir keliling, sejauh penilaian dan sepemahaman Senator DKI Jakarta tersebut, justru dapat memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan. Termasuk memperkuat tali silaturahmi. “Islam adalah agama yang sempurna dan agama yang tidak membalas atau melakukan hal-hal yang diluar koridor hukum,” paparnya.


Prof Dailami
menyebut sejak zaman Presiden Soeharto hingga Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), pelaksanaan Takbir Keliling begitu semarak dan tak bergejolak yang dapat mengganggu keamanan di masyarakat. “Artinya seluruh pemimpin negara di dunia, tak ada yang melakukan pelarangan terhadap Takbir Keliling. Baru di rezim sekarang ini, justru melarang dan mengkhawatirkan secara berlebihan terhadap Takbir Keliling dan Syiar Islam,” tutur Bang Dailami, panggilan akrab Prof Dr H Dailami Firdaus yang juga dikenal sebagai putra dari almarhumah Prof Dr Hj Tutty Alawiyah AS.

Pada bagian lain, ia juga menyinggung adanya upaya mendiskriditkan Islam. Mulai dari maraknya kriminalisasi gerakan ulama yang meminta penegakan hukum, teror bom di Kampung Melayu serta teror di Sumatera Utara yang secara tidak langsung diopinikan dengan gerakan Islam.

Baca Juga:  Aksi Nasional, PRESIDEN JOKOWI : Canangkan Pemberantasan Obat Ilegal di Buperta Cibubur

Ditambahkan Prof Dailami bahwa sekarang malah hadir kembali sebuah video dengan judul Kau adalah Aku yang lain dan diunggah Divisi Humas Mabes Polri. Di situ dengan begitu jelas mempertontonkan, seolah-olah umat Islam intoleran, pengajian yang merupakan bagian dari Syiar Islam yakni pengajian mengganggu ketertiban umum dan semena-mena! 

“Yang sangat miris dan membuat saya kecewa, karena video tersebut diungah oleh instansi yang seharusnya memberi rasa aman, nyaman dan tenteram. Instansi yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat, tapi kok  justru malah berbuat sebaliknya. Karena itu sebagai Senator dan Putra Daerah Jakarta, saya sangat menyayangkan segala bentuk tindakan yang jelas-jelas mendikreditkan dan melemahkan Syiar Islam,” ucapnya, panjang lebar.

Terkait dengan itu semua, Prof Dailami berharap agar Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, nantinya mampu memberikan rasa keadilan dan tidak melarang takbir keliling lagi. Sebab, itu merupakan bentuk Syiar Islam. Umat Islam sangat yakin dapat menjaga ketertiban. “Lihatlah bagaimana Aksi 212 yang diikuti jutaan orang, rumput pun tidak rusak. Tanaman terawat! Kebersihan terjaga!” Begitu paparnya.

Khusus untuk Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, harap Prof Dailami, jangan sampai mengeluarkan instruksi atau peraturan yang seolah-olah lebih berpihak kepada salah satu golongan (pihak) dan akhirnya menimbulkan kecemburuan sosial bagi pihak lainnya. Buntutnya dapat merugikan, terutama dalam perayaan hari besar lainnya.

“Saya punya keyakinan, segala bentuk ketidak-adilan akan menjadikan celah untuk sebuah kehancuran. Point ini harus menjadi catatan agar kenyamanan dan kententraman serta keamanan masyarakat Jakarta dapat tercapai.

“Marilah kita saling bahu-membahu dan bergandengan tangan, menuju Jakarta yang religius dan humanis serta menatap Indonesia sejahtera dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyatnya,” tutupnya. ■ Red/Goes

2 KOMENTAR

  1. benar sekali, kita harus saling menghormati sesama anak bangsa. adalah tugas aparat keamanan terutama Polri utk mengamankan dan mensukseskan kegiatan rutin Islami ini sebagaimana jg utk kaum sahabat non muslim dlm mengadakan acara keagamaan. Bukankah ini juga merupakan kekayaan Kebhinekaan NKRI ini. Mhn dg segala kerendahan hati pihak Polri memberikan Nuansa keamanan yang menyejukan dan rakyat banyak. Kedepannya kami mhn pihak yg berwenang tidak melarang lagi sub-kegiatan Keagamaan ini. Dan Sebaliknya memberikan rasa aman, nyaman dlm mendukung kegiatan seperti ini. Salam hormat kami, Alex Pozsla

Beri Tanggapan