Miris Punah, Keroncong Musyawarah Coba Eksis Dimotori Enam Anak Muda

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Musik keroncong makin nyaris dijauhi anak muda. Karena itulah grup Keroncong Musyawarah merilis single keroncong pop ciptaan Ana Achjuman berjudul Tradisi, di bawah label #MusikBagus.

“Sebagai perusahaan rekaman, #MusikBagus terpanggil untuk memperkenalkan dan melestarikan aliran musik keroncong yang sejatinya melegenda. Kami memulainya dengan Keroncong Musyawarah. Ini musik bagus dan radio harus membantu untuk memperkenalkannya kepada pendengar,” kata Glenn Fredly sebagai pendiri #MusikBagus.

Eksistensi Keroncong Musyawarah adalah sebuah kelompok musik yang anggotanya berasal dari Yogyakata maupun Jakarta dan terbentuk resmi pada 15 Mei 2016. Diawaki 6 musisi muda, yaitu Anton (Violin), Amel (Cuk), Ava (Cak), Angga (Cello), Dessy (Bass) dan Candra (Flute).

Mayoritas personil Keroncong Musyawarah, memiliki latar belakang menguasai musik klasik Barat dan pop. Namun Keroncong Musyawarah selalu berusaha ekspresif dalam mengeksplorasi irama musik keroncong agar bisa diaplikasikan terhadap genre musik lain.

“Tradisi adalah hasil dari keisengan, keusilan dan kejenakaan kami dalam bermusik dengan melaraskan harmoni tanpa muatan tertentu,” terang Ava, yang juga personel dari trio violin-vocal bernama Kamila.

Sebagai anak muda yang memainkan musik keroncong, otomatis target pendengar utama Keroncong Musyawarah adalah anak muda lain yang sebelumnya tidak mengenal atau skeptis terhadap musik keroncong.

Skeptisme tersebut dapat dipahami muaranya yaitu mata rantai musik keroncong yang perlahan menipis karena tergerus zaman. Oleh sebab itu, maka banyak orang yang tidak mengetahui dimensi kesulitan dan kemudahan dalam memainkan musik keroncong.

Melalui rilisan ini perspektif tersebut diharapkan dapat mencairkan kekakuan cara pandang yang ada. “Banyak cara yang bisa dilakukan ke depan, diantaranya adalah mengemas aransemen musik keroncong menjadi lebih muda dan mengusung tema-tema yang sedang hits di kalangan anak muda sekarang. Bahkan bisa juga dengan melakukan workshop keliling ke berbagai komunitas anak-anak muda untuk menumbuhkan level of interest,” tambah Angga yang aktif bergabung di beberapa orkestra ternama.

Keroncong Musyawarah sadar betul bahwa perjalanan mereka adalah refleksi atas konsistensi komunitas musik keroncong di Indonesia yang tidak mengenal lelah. Menjadi aliran musik yang ‘niche’ tidak lantas harus pasrah menerima stereotipe miring yang meruang di percakapan umum.

“Kami berharap komunitas musik keroncong tidak pernah lelah dalam menginspirasi musisi baru dan dapat selalu bekerja sama untuk menghadirkan karya dalam bentuk apapun,” imbuh Desy Saptani Puri yang juga anak dari biduan keroncong ternama di Yogyakarta.□ Red/Ang

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here