Awas, Ada 14 Juta Orang Penderita Gangguan Jiwa di Indonesia

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Gejala depresi dan gangguan kejiwaan banyak dialami orang Indonesia yang berusia diatas 15 tahun. Bahkan menurut data yang dipunyai Kementerian Kesehatan RI, kini ada 14 juta orang dari seluruh Tanah Air, terindikasi sudah mengalami kedua hal tersebut di atas.

Untuk prevalensi ganguan jiwa berat, seperti halnya skizofrenia sudah mencapai 400.000-an orang. Sedang kategori itu dapat mencuatkan masalah pada produktifitas menurun dan pada gilirannya dapat mengakibatkan kerugian dari segi ekonomi.

“Dan, estimasinya (perkiraan-red) dampak komulatif global masalah kesehatan jiwa, karena kehilangan output ekonomi dapat mencapai USD 16,3 trilliun antara tahun 2011 dan 2030,” kata dr Fidiansjah SpKJ, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan RI di Jakarta.

Terkait ancaman alias dampak gangguan jiwa yang berimplikasi pula pada produktifitas kerja, karenanya di Tahun Kesehatan Dunia 2017 ini sengaja mengambil tema adalah ‘Kesehatan Jiwa di Tempat Kerja’. Itu demi tercapainya harapan usia produktif dapat memaksimalkan potensinya.

Ditambahkan dr Fidi bahwa gangguan kejiwaan tak melulu disebut sebagai gangguan jiwa berat seperti skizofrenia. Bentuk stress, depresi serta kecemasan juga masuk kategori gangguan kejiwaan,” paparnya.

Pada bagian lain dr Eka Viora SpKJ yang merupakan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengungkapkan banyak pemicu seseorang mengalami gangguan jiwa di lingkungan kantor.

“Dari mereka justru tak menyadari sedang mengalami depresi. Jangan heran jika sering absen atau tak masuk kerja, pekerjaan tidak tuntas serta kerapkali pindah kerja,” tutup dr Eka seraya menyarankan setiap perusahaan memiliki klinik yang rutin menangani masalah psikologis karyawannya. ■ Red/Goes

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here