Ajak Jamaah Merenungi Fenomena yang Ada, USTADZ ABDUL ROSYID Bilang Wafatnya Banyak Ulama Pertanda Akhir Zaman

POSBERITAKOTA (JAKARTA) – Usia peradaban manusia dimuka bumi ini setelah zaman ke-Nabi-an terbilang sudah cukup tua. Saat ini saja sudah memasuki tahun penanggalan Islam yakni 1442 Hijriah (1442 H). Berarti, usianya sudah seribu empat ratus tahun lebih. Lantas, melihat fenomena yang ada sekarang, mungkinkah apa yang terjadi belakangan ini benar-benar sebagai pertanda sudah memasuki akhir zaman?

Dalam ceramahnya mengisi ta’lim ba’da Subuh pada Ahad (18/1/2021) di Masjid Jami Al-Ikhlas RW 025 Perumahan Villa Gading Harapan (VGH) Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Kabupate Bekasi – Ustadz Abdul Rosyid S.Ag justru ingin mengajak puluhan jamaah yang hadir untuk sama-sama ikut merenung.

“Ketika banyak ulama wafat, ahli fiqih atau orang-orang sholeh dipanggil satu-persatu – dikhawatirkan musibah besar bakal terjadi. Bahkan hal tersebut pernah digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW/Rassulullah, bisa disebut sebagai pertanda akhir zaman,” urainya membuka isi ceramah.

Kenapa disebut sebagai pertanda akhir zaman bakal segera terjadi, kata Ustadz Rosyid lebih lanjut, ketika Allah SWT mewafatkan (memanggil pulang) para ulama yang kompeten. Konsekuensi logisnya adalah dunia ini diisi oleh orang-orang bodoh yang tidak memiliki peradaban akhlak. “Kita hidup kayak di hutan. Yang ada malah hukum rimba,” ucap dia.

Ustadz Rosyid pun menukil sebuah hadits yang berbunyi :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-NYA, akan tetapi Allah SWT mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan”.

Ditambahkannya bahwa adanya ulama-ulama besar harus menjadi kebutuhan kita. Jadi memang harus ada orang-orang yang berilmu itu tadi. Kenapa? “Ulama itu fungsinya laksana lampu. Menerangi yang gelap. Seperti halnya hadir di majelis ta’lim setiap pekan, kita ini ibaratnya sedang menuntut atau membingkai ilmu,” papar Ustadz Rosyid seraya menukil contoh atas wafatnya Syekh Ali Jaber yang baru tiga hari lalu.

Tidak cuma berperan sebagai penerang kehidupan, keberadaan ulama juga sebagai penyanggah bumi ini. Dunia pun akan semakin kokoh, manakala ada peran ulama. Apalagi bicara soal dunia, butuh keseimbangan. “Bayangin kalau rumah nggak ada poros tiangnya. Pasti roboh,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Ustadz Rosyid juga ingin sekaligus mengajak para jamaah memanfaatkan di usia tua. Berbuat apa? “Ya untuk mencari ilmu. Sebab, kalau umur kan semakin berkurang. Besok-besok nggak akan balik lagi. Hidup itu nggak ada yang mundur. Makanya, jangan tunda berbuat kebaikan untuk besok,” paparnya, panjang lebar.

Pada bagian akhir ceramahnya, Ustadz Rosyid menyebutkan sedikit keprihatinannya, terkait bahwa ulama jauh dari masyarakat. Padahal, tambah dia, antara keberadaan ulama dengan masyarakat itu merupakan satu-kesatuan. “Ulama itu ya legalisasi dari masyarakat,” pungkasnya. ■ RED/AGUS SANTOSA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here