Akibat Masa Perkuliahan Mahasiswa Diliburkan, RUMAH KOS-KOSAN di YOGYAKARTA Kini Sepi Ditinggal Penghuni

POSBERITAKOTA (YOGYAKARTA) – Sebagai ‘Kota Pelajar‘ dengan puluhan perguruan tinggi (PT) dan universitas, Yogyakarta bak lampu yang dikerumuni oleh laron. Ribuan pelajar yang lulus dari sekolah menengah atas (SMA) di daerahnya masing-masing berduyun-duyun untuk mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di perguruan tinggi atau universitas pilihannya masing-masing.

Kehadiran calon mahasiswa dan bahkan ribuan mahasiswa lainnya yang sudah lebih dahulu berada di Yogyakarta itu, ternyata berdampak positif bagi peningkatan ekonomi warga masyarakat sekitar. Tak hanya bisnis kuliner dan tempat wisata, usaha pemondokan atau kos-kosan (rumah indekosan) bagi mahasiswa pendatang dari seluruh penjuru Nusantara itu, termasuk memberi keuntungan yang paling menjanjikan.

Tak sedikit bagi pemilik kocek tebal, kemudian berinvestasi atau menanam modalnya untuk membangun rumah kost-kosan. Bahkan hampir di setiap penjuru kota Yogyakarta bisa ditemui tempat kos-kosan khusus untuk kalangan mahasiswa. Mulai dari kelas yag sederhana hingga yang tergolong mewah dengan kamar yang dilengkapi pendingin ruangan (AC), fasilitas komplit berupa kulkas serta kamar set plus kamar mandi di dalam.

Nah, soal harga sewa kamar kos-kosan per bulannya, tentu sangat bervariatif. Bisa ditentukan oleh kondisi fisik bangunannya serta seberapa jauh jarak dari kampus tempat kuliah si mahasiswa ke rumah kos-kosan itu sendiri. Dari situlah akan sangat berpengaruh pada harga sewa yang harus dibayar.

Semakin bagus bangunan serta tambahan fasilitas lengkal tempat kos-kosan dan juga semakin dekat ke kampus, maka akan semakin mahal harga sewa nya. Jadi, harga sewa kisaran Rp 500 ribu per bulan merupakan yang terendah untuk bisa menghuni sebuah kamar indekos yang sangat sederhana. Namun jika memilih yang mewah dengan fasilitas yang serba komplit termasuk cuci sterika pakaian, bisa mencapai jutaan rumah atau kisaran Rp.5 juta setiap bulannya.

Manisnya keuntungan yang bisa diraih dari bisnis rumah kos-kosan tersebut, semakin membuat sejumlah ‘Taipan‘ dan ‘Sultan‘ dari Jakarta dan kota-kita besar lainnya, berbondong bondong memborong tanah dan mendirikan rumah indekos di berbagai sudut kota Yogyakarta yang juga dijuluki juga sebagai ‘Kota Sejuta Kampus‘ itu.

Yang jelas dengan menjamurnya bisnis kos-kosan tersebut, berdampak piositif pula bagi bisnis lainnya yang masih berkaitan dengan kehadiran para mahasiswa tersebut. Mulai dari jasa laundry atau binatu, caffe, angkringan dan warung ‘Burjo‘ semacam Warteg ala Yogya – juga kecipratan rejeki nomplok.


Dari pemantauan POSBERITAKOTA selama berada di Yogyakarta di sejumlah pelosok yang terdapat banyak rumah kos-kosan, suasananya sungguh berbeda dari sebelumnya. Sepi dan lenggang. Jika masih ada penghuninya, tidak lebih hanya 4 atau 6 kamar yang terisi dari 20-an yang tersedia. Faktor utamanya, lagi-lagi karena masa pandemi COVID-19 yang belum reda atau hilang dan menjadi momok menakutkan bagi masyarakat luas.

“Sejak ada virus Corona, masa perkulihan mahasiswa dan mahasiswi di Yogya, diliburkan. Akibatnya ya kayak begini, kamar kos-kosan ditinggal pulang para penghuninya. Ya, sudah ada hampir setahun, kosong,” keluh Warsito, pengurus tempat indekos yang ditemui di wilayah Monjali, Yogyakarta.

Sedangkan Firman, mahasiswa asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengaku sebaliknya. Ia bertahan di tempat indekosnya di kawasan Lempuyangan, karena jika harus pulang kampung, makan biaya yang tidak kecil. Sementara dirinya sekarang sudah bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah perusahaan percetakan di Yogyakarta.

“Alhamdulilah, gaji atau honor yang saya dapat lumayan. Bisa buat biaya hidup, bayar indekos plus makan sehari-harinya. Selebihnya, ada sedikit saya tabung,” cerita mahasiswa sebuah universitas negeri di Yogyakarta tersebut.

Sementara itu Bu Moeldiman, pemilik kos-kosan yang memiliki 8 kamar, mengaku mengalami penurunan dalam hal penghasilan setiap bulannya. Kenapa? “Masa pandemi COVID-19, bikin kamar kos-kosannya, kini ditinggal para penghuni. Mereka kan dari kalangan mahasiswa dan mahasiswi yang merantau kuliah di Yogya,” tutur janda Pejuang Kemerdekaan itu saat ditemui di kawasan Kaliurang, Yogyakarta.

Kondisi sekarang sangat berbeda dengan lima atau sepuluh tahun lalu. “Saya ini kan, cuma makan dari uang pensiunan almarhum Bapak. Kalau punya kamar kos-kosan, ndak ada penghuninya, ya ndak ada pemasukan tambahan setiap bulannya,” kisah perempuan sepuh yang akrab dipanggil ‘Eyang Putri Moeldiman’ tersebut menyudahi obrolan santainya. ■ RED/TB DEVI IRAWAN SHY/GOES

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here