Tak Cuma ‘Simpang Lima’ & Kantor Gubernur Jateng, JALAN-JALAN PROTOKOL DI KOTA SEMARANG Masih Terendam Banjir

SEMARANG (POSBERITAKOTA) – Banjir masih belum surut dan menimpa Ibukota Jawa Tengah (Jateng), Semarang. Tak cuma di ‘Simpang Lima‘ serta Kantor Gubernur saja, sejumlah jalan-jalan protokol juga terendam air setinggi antara 30 sampai 60 Cm. Malah masih ada yang mencapai 1 meter.

Dari hasil pantauan POSBERITAKOTA sejak Selasa (23/2/2021) sore kemarin ternyata hujan deras masih mengguyur Kota Semarang. Hal itu membuat situasi pada Rabu (24/2/2021) pagi sampai siang ini, air masih tergenang. Bahkan ikut memperparah atau membuat banjir semakin meluas. Karenanya, sejumlah jalan-jalan protokol tak bisa dilalui kendaraan roda 2 (sepeda motor) maupun roda 4 atau lebih (bus dan truk).

Sedangkan sejumlah jalan-jalan protokol yang masih terendam banjir meliputi kawasan Simpang Lima, Jalan A Yani dan Jalan Gajah Mada. Tentang ketinggian air sangat bervariasi. Namun, rata-rata ketinggian air sebatas lutut orang dewasa, sehingga sulit dilalui motor dan kendaraan roda empat lain.

Ada memang beberapa kendaraan bermotor roda dua yang coba-coba melintas. Namun mengalami mesin mati, sehigga harus berbalik arah dengan cara menuntun. Mereka khawatir kedalaman air, jika memaksa untuk melewatinya.

Sejumlah warga yang ditemui mengutarakan bahwa banjir di tahun 2021 demikian dahsyat. Belum pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Penyebabnya, kata mereka, karena air hujan tidak bisa mengalir melalui gorong-gorong atau saluran. Itu disebabkan puka akibat curah hujan cukup tinggi dan berjam-jam.

Supriyono, warga asli Semarang, mengaku terpaksa menunda untuk berangkat kerja di pabriknya yang berada di pinggiran kota. “Cuacanya masih seperti ini dan air masih belum surut,” tegas pria berusia 42 tahun itu dengan kalimat pasrah.

Aparat atau instansi terkait dari Provinsi Jawa Tengah, nampak ikut memantau kondisi banjir ditengah kota tersebut. Mereka dibuat tak berdaya, karena air lama surutnya. Mesin-mesin pompa air, dikatakan petugas dari penanggulangan bencana alam daerah setemlat yang bernama Dariman, baru akan dioperasikan secara maksimal.

Tak salah jika menyebut Kota Semarang dan sekitarnya, bak terhenti aktifitasnya untuk sementara. Banyak warga justru ingin menonton para pengendara motor yang mogok dan menuntunnya. Jumlah mereka mencapai puluhan orang. Ada pula yang menawarkan jasa perbaikan motor, tentu saja dengan cara meminta upah. ■ RED/MM LASIYONO/EDITOR : GOES

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here