Jauhi ‘Penyakit Hati’, USTADZ GURU H AANG KUNAEFI Beberkan Surat Al-Ashr Agar Saling Menasehati untuk Kebenaran & Kesabaran

BEKASI (POSBERITAKOTA) – Atas pertanyaan jamaah saat memberikan Kajian Ba’da Maghrib pada Ahad (7/3/2021) kemarin di Masjid Jami Al-Ikhlas RW 025 Perumahaan Villa Gading Harapan (VGH) Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi – Ustadz Guru H Aang Kunaefi Soprih S.Pd.I menukil berikut memaparkan tafsir Surat Al-Ashr secara detail.

Hal tersebut di atas disampaikan untuk menjawab pertanyaan jamaah terkait adanya seseorang yang bersikap mau ‘mengingatkan‘ atau ‘mengoreksi‘ saudaranya sesama Muslim. “Mengingatkan atau mengkritik (koreksi-red) untuk saling nasehat-menasehati, ya harus didengarkan atau diterima. Yang penting tujuan menyampaikan hal itu, bukan atas dasar kebencian,” terangnya.

Dai kondang yang akrab dipanggil Ustadz Guru Aang dan juga dikenal sebagai Pimpinan Majelis Silaturahim (MS) wilayah Babelan (Bekasi), memaparkan bahwa tidak kemudian memunculkan ‘penyakit hati‘ sebagai dampak terhadap seseorang yang punya niat baik untuk saling nasehat-menasehati.

“Lantas, diri kita juga tidak boleh anti kritik atau sekadar ingin dikoreksi atau dinasehati. Hal tersebut berarti masih ada orang lain yang sayang atau memperhatikan diri kita, karena adanya niatan untuk menyampaikan kebenaran itu sendiri. Maka, jauhilah penyakit hati,” ulasnya.

Dipaparkannya bahwa Surat Al Ashr merupakan salah satu surat dalam juz 30. Surat Al Ashr terdiri dari tiga ayat yang berisikan peringatan Allah SWT tentang keadaan yang merugi, kecuali beramal soleh. “Allah SWT pun meminta supaya umat Islam saling berbuat kebaikan dan bersabar agar tidak masuk dalam golongan yang merugi,” katanya, lagi.

Menurut Ustadz Guru Aang di dalam Surat Al Ashr pada ayat pertama berbunyi sebagai berikut : Arab: وَالْعَصْرِۙ. Latin: Wal-‘aṣr. Artinya: Demi masa. Dan, isi kandungan Surat Al Ashr ayat 1: Allah SWT bersumpah demi masa yang dimaksud sebagai umur. Sebab, umur merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada manusia.

Pada ayat kedua, Surat Al Ashr berbunyi sebagai berikut: Arab: اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ. Latin: Innal-insāna lafī khusr. Artinya: Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Tafsir Surat Al Ashr ayat kedua ini adalah peringatan Allah SWT mengenai kerugian yang dialami oleh manusia bila tak beriman kepada Allah SWT.

Sedangkan terakhir di dalam Surat Al Ashr ayat ketiga berbunyi sebagai berikut : Arab: اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. Latin: Illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr. Artinya: Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Jadi, dalam tafsir Surat Al Ashr ayat ketiga dijelaskan bahwa ada empat (4) golongan orang yang tak merugi. Di antaranya yakni orang yang beriman, orang yang beramal soleh, orang-orang yang saling menasihati dalam kebenaran dan orang yang menasihati dalam kesabaran.

Pada bagian lain ceramah Ustadz Guru Aang yang mengangkat Kitab ‘Nashoihud Diniyah’, juga mengupas soal Mursyid. Dan, perkataan Mursyid berasal dari kata Irsyada, yakni memberi tunjuk-ajar. Dengan kata lain, Mursyid berarti seseorang yang ahli dalam memberi tunjuk-ajar terutama dalam bidang spiritual.

“Nah, pada saat ini peran Mursyid, justru diabaikan. Sementara banyak orang yang nggak tahu jalan, nggak punya tujuan. Maka itu, semua orang harus punya Mursyid, karena bisa memberikan motivasi bagi dirinya” ucap dia.

Sementara itu disinggung pula tentang Ratibul Haddad yang merupakan amalan berisi doa dan dzikir. “Dari bacaan Ratibul Haddad sendiri yang kerap dibacakan atau dipakai di Indonesia adalah yang paling sering dan paling baik,” pungkas Ustadz Guru H Aang Kunaefi Soprih S.Pd.I, menyudahi ceramahnya yang penuh keakraban bersama puluhan jamaah rutin. RED/AGUS SANTOSA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here