Kecuali Rasa Lapar & Dahaga, USTADZ HM MAKHTUM Sebut Ada 13 Golongan yang Merugi Setiap Kali Bertemu Ramadhan

BEKASI (POSBERITAKOTA) – Peristiwa datangnya Ramadhan selama sebulan penuh dari 12 bulan dalam kalender di Tahun Hijriyah (Islam), jelas sangat ditunggu-tunggu oleh jutaan atau bahkan milyaran umat Islam dibelahan dunia manapun. Mereka benar-benar merindukannya dan sekaligus memanfaatkan momentum tersebut agar dapat lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta (Allah SWT).

Simbolis faktualitas dari Ramadhan itu sendiri, tergambar bahwa di mana diri kita sebagai umat Islam, diwajibkan menjalankan perintah berpuasa untuk tidak makan dan minum sepanjang hari sejak Imsak jelang sholat Shubuh hingga terbenamnya matahari jelang sholat Maghrib tiba.

Dalam wawancara khusus dengan POSBERITAKOTA, Selasa (20/4/2021) diminta untuk mengupas terkait hakekat dan filosofis Ramadhan 1442 H/Tahun 2021 M ini, Ustadz Drs HM Makhtum menyebutkan ada 13 golongan yang merugi setiap kali bertemu Ramadhan. Siapa saja, mereka? Berikut ini pemaparannya.

“Golongan pertama adalah mereka yang Allah SWT panjangkan umurnya sampai ke akhir Ramadhan, tetapi membiarkan hari-hari Ramadhannya berlalu begitu saja tanpa amal yang bermanfaat,” ucap Ustadz HM Makhtum menjawab pertanyaan yang dikirim lewat surat elektronik, Selasa (20/4/2021).

Sedangkan golongan yang kedua, menurut Ketua Umum Yayasan Jami Al-Ikhlas RW 025 Perumahan VGH Kebalen, Babelan, Bekasi satu ini, yaitu mereka yang menunggu-nunggu waktu berbuka puasa, “tanpa” mengambil kesempatan untuk berdoa kepada Allah SWT di saat-saat mustajab doa. Begitu pula untuk golongan ketiga adalah mereka yang bangun untuk bersahur semata-mata, “tanpa” beramal dan mendirikan sholat sunat sekurang-kurangnya sebanyak 2 rakaat.

“Berikutnya yang keempat termasuk golongan yang merugi, karena mereka yang dikurniakan Allah SWT nikmat yang berlebihan, “tetapi” bakhil untuk bersedekah dan menjamu orang berbuka puasa. Termasuk juga mereka yang mampu membaca Al-Quran dan memiliki masa lapang yang panjang untuk mempelajari, “tetapi” membiarkan dirinya jauh dari Al-Quran sebagai golongan kelima,” katanya.

Untuk golongan keenam dan ketujuh, dijelaskan Ustadz HM Makhtum, mereka yang sering menghadiri majelis ilmu (ta’lim) dan memahami agama, “tetapi” kekal bermusuhan, berbencian dan memutuskan silaturrahim sesama Muslim. Selanjutnya, mereka yang mengetahui bahwa Ramadhan adalah bulan Rahmah dan Maghfirah, “tetapi” tidak mengambil kesempatan memohon pengampunan dari Allah SWT.

Namun untuk golongan kedelapan dan kesembilan, tambahnya, mereka yang menyadari bahwa sepanjang Ramadhan doa diqabulkan, “tetapi” malah membiarkannya berlalu tanpa serius munajat. Termasuk, mereka yang bersungguh-sungguh memelihara puasa dari perkara yang membatalkan, “tetapi” berterusan mengumpat dan menabur fitnah sesama Muslim.

Dikatakan Ustadz HM Makhtum melanjutkan pemaparannya untuk golongan kesepuluh dan kesebelas yang merugi setiap bertemu Ramadhan. “Mereka yang sampai umurnya ke penghujung Ramadhan, “tetapi” tidak berusaha untuk memburu kebaikan malam AL QADAR. Dan, mereka yang durhaka kepada kedua orangtuanya atau salah satunya,” urainya.

“Juga untuk golongan keduabelas adalah mereka yang malas bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW saat mendengarnya. Sementara golongan ketigabelas atau pamungkas adalah mereka yang tidak memelihara panca inderanya dari berbuat maksiat,” tutupnya.

Menukil hadis riwayat (HR Thabrani), Ustadz HM Makhtum menyebutkan bahwa betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya ‘kecuali‘ cuma rasa lapar dan dahaga. □ RED/AGUS SANTOSA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here