Dalam Kuliah Romadhon, KH M MAKHTUM : Ayo Beningkan Hati & Bersihkan Jiwa di Akhir Puasa Agar Dapat ‘Lailatul Qodar’

BEKASI (POSBERITAKOTA) – Di dalam bulan suci Romadhon ini, kita benar-benar dilatih untuk bersabar. Sabar untuk taat kepada Allah SWT, sabar menghindari kemaksiatan dan sabar untuk tidak berbuat keburukan. Sungguh berat sekali memang, tapi kalau kita mampu melakoni, justru di bulan Ramadhon ini bakal mendapat ‘Lailatul Qodar‘.

“Dalam diri kita ini masih kotor. Makanya, ayo beningkan hati dan bersihkan jiwa. Apalagi di malam-malam ganjil pada akhir Romadhon ini, agar kita mendapatkan kemuliaan, yaitu Lailatul Qodar,” ucap Drs KH M Makhtum saat mengisi Kuliah Romadhon di Masjid Jami Al-Ikhlas RW 025 VGH Kebalen, Babelan, Bekasi, Sabtu (8/5/2021).

Sebelum KH M Makhtum tampil dalam Kuliah Romadhon, digelar pula sholat Shubuh berjamaah. Tidak kurang dari 100-an jamaah hadir dan selanjutnya mengikuti Kuliah Romadhon yang hampir memakan waktu sampai 1,5 jam (90 menit). Selain kajian umum soal malam-malam akhir Romadhon terkait datangnya ‘Lailatul Qodar’, juga dibahas fiqih tentang ‘Zakat Fitrah‘.

Masih menyinggung terkait dalam diri kita yang masih kotor, KH M Makhtum mengingatkan agar jangan menonjolkan sifat sombong. Karena apa? “Itu merupakan warisan atau sifat Iblis. Buang pula sifat dendam. Jika sifat itu masih ada, kita tidak akan dapat Lailatul Qodar. Jadi, buang jauh-jauh, apalagi ini dalam bulan suci Romadhon,” paparnya.

Melanjutkan kajiannya, KH M Maktum yang juga dikenal sebagai Ketua Umum Yayasan Jami Al-Ikhlas satu ini, mengajak jamaah supaya kembali lagi bisa menjaga hati dengan baik, meski susah. “Demen memaafkan orang lain. Bodoh kalau tidak pemaaf. Allah SWT saja punya sifat pemaaf. Demikian pula Rassulullah, Baginda Nabi Muhammad SAW,” ungkapnya, panjang lebar.

Pada bagian lain, disebutkan pula oleh KH M Maktum, bahwa kita ini merupakan saudara seiman. “Kita seringkali maksa, mau dioyok-oyok sama syetan. Keblinger, karena mencari jeleknya, minusnya. Yang dicari itu seharusnya kebaikan orang lain atau kelebihannya. Bahkan, antar suami dan istri di dalam rumahtangga saja, banyak kurangnya. Sering tidak akur,” ungkapnya, memberi contoh.

Di bagian akhir Kuliah Romadhon, KH M Makhtum, tak cuma mengulas tentang kewajiban membayar zakat fitrah. Namun juga membuka sesi tanya jawab kepada sejumlah jamaah. Termasuk membenarkan dilematisnya panitia penerima dan penyalur zakat fitrah kepada orang-orang yang benar-benar berhak.

“Makanya, panitia perlu mendapat data atau mempunyai data yang akurat. Maksudnya supaya penyaluran zakat fitrah tidak salah sasaran. Jadi, penerima harus disamaratakan. Penerima adalah perjiwa. Termasuk perlu diperhatikan ada 8 asnaf dan juga difinisi fuquroh,” tuturnya.

Bagaimana jika zakat fitrah dibayar dobel, kata KH M Makhtum, khusus untuk yang satunya masuk dalam kategori sedekah biasa. Jadi, tetap mempunyai nilai ibadah yang ada pahalanya.

Bahkan untuk pembayar zakat fitrah, tidak harus diri sendiri yang datang mengantar ke panitia penerima atau yang menyalurkan. Bisa diwakili oleh kepala keluarga, baik untuk zakat fitrah atas nama istri maupun anak-anaknya. ■ RED/AGUS SANTOSA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here