Khotbah di Masjid Jami Nurul Yaqin Kebalen Bekasi, USTADZ HM MAKHTUM : Idhul Fitri adalah Hadiah Istimewa bagi para Muttaqien

BEKASI (POSBERITAKOTA) – Gema takbir yang mengagung-agungkan kebesaran asma Allah SWT sebagai pencipta langit dan bumi beserta seluruh isinya (umat manusia), berkumandang dan bertalu-talu dari keberadaan masjid di seantero negeri dan bahkan dunia. Mereka juga bersyujud untuk menyambut datangnya 1 Syahwal 1442 H dengan menggelar ritual pelaksanaan sholat Idhul Fitri, dimana masjid-masjid atau lapangan terbuka dibanjiri oleh ratusan dan bahkan jutaan umat Islam yang merayakannya.

Tak terkecuali sholat Idhul Fitri 1442 H yang dilaksanakan di Masjid Jami Nurul Yaqin, Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Kamis (13/5/2021) kemarin. Tak kurang dari ratusan jamaah warga sekitar memadati masjid yang menghadirkan imam dan pengkhotbah Ustadz Drs HM Makhtum yang menyampaikan materi ceramah dengan menyebutkan bahwa Idhul Fitri adalah ‘Hadiah Istimewa bagi para Muttaqien‘.

“Kaum muslimin muslimat jama’ah sholat Idhul Fitri yang dimuliakan Allah Ta’ala. Alhamdulillah wasysyukru Lillaah, ditengah-tengah hiruk pikuk wabah Corona yang masih merajalela dan belum juga mereda, padahal sudah setahun lebih wabah ini melanda dunia. Oleh karenanya, kita harus tetap waspada dan banyak berdoa. Barangkali hal ini merupakan ujian terindah dari Alloh Ta’ala bagi setiap hamba-NYA,” ucap Ustadz HM Makhtum membuka awal khotbahnya di pagi yang cerah tersebut.

Ditambahkannya sambil mengucap syukur alhamdulillah dan atas izin dan Qudroh Alloh Ta’ala, sampai saat ini kita masih diberikan kehidupan, masih diberikan berbagai macam kenikmatan. “Baik itu nikmat iman dan nikmat Islam, karunia panjang umur sehat wal’afiat maupun kesempatan, sehingga pada pagi hari ini 1 Syahwal 1442 H, kita bisa berkumpul bersilaturahim dan bersama-sama melaksanakan sholat Idhul Fitri di masjid Nurul Yaqin,” ucapnya.

Menurut Ustadz HM Makhtum lebih lanjut bahwa ini semua adalah bukti bahwa Alloh Ta’ala masih menyayangi diri kita sebagai makhluk ciptaannya. Bahkan hal ini sudah tersebut didalam Al-Qur’an. Banyaknya oksigen yang kita hirup, derasnya darah yang mengalir dalam tubuh kita, jantung yang setiap saat berdenyut dan memompa serta seluruh yang menempel dan berada pada diri kita. Semuanya tidak luput dari perhatian dan kasih sayang Alloh Ta’ala.

“Jama’ah sholat Idhul Fitri yang berbahagia. Kita tentu amat berbahagia karena telah sukses dalam menjalankan ibadah puasa sebulan penuh yang disertai dengan Qiyamullail dan berbagai kegiatan amal sholeh lainnya. Kesemuanya bisa kita lakukan berkat pertolongan dan RahmatNYA. Dan, harapan besar kita adalah diterimanya segala amal ibadah kita selama bulan Romadhon, memperoleh Rahmat, Maghfiroh serta ‘Itqum minan naar. Kemudian, disertai penyempurnakan dengan membayar Zakat Fitrah,” urainya.

Setiap memasuki bulan Syahwal, kata Ustadz HM Makhtum, kita pun merasa bahagia sebab bulan Syahwal adalah babak baru bagi kita untuk meningkatkan level ketaqwaan kita. Kita naikkan ketaatan, kita naikkan kualitas keimanan dan kepatuhan kita secara totalitas tanpa batas atas segala perintah Allah Ta’ala.

Pada hari yang Fitri ini saya ucapkan:

جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين المقبولين
كل عام وانتم بخير

الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

Disebutkan bahwa Hari Raya Idhul Fitri adalah momentum kemenangan untuk meraih kembali ‘Fitroh‘ kesucian diri kita. Apabila diibaratkan kita sekarang adalah seperti bayi yang baru saja dilahirkan dari rahim ibu kita yang masih bersih, suci tanpa noda dan dosa

Setelah lepas dari bulan suci Romadhan, setelah sukses dalam Tarbiyah, tempaan dan gemblengan maka hari ini bukanlah saat untuk melampiaskan nafsu dan balas dendam. Bukan pula untuk bermewah-mewahan dan pesta pora, bukan pula harus berbaju baru, berkendaraan baru dan menempati rumah baru. “Namun hakekat Idhul Fitri adalah sebuah hadiah istimewa bagi para hamba Mukmin yang telah bersungguh-sungguh berjuang beribadah di bulan suci Romadhan,” tuturnya.

Disampaikan Ustadz HM Makhtum bahwa Al-Imam Ibnu Qayyim mengatakan :
ليس العيد لمن لبس الجديد وإنما العيد لمن طاعته تزيد

ليس العيد لمن تجمل باللباس و الركوب
وإنما العيد لمن غفر له الذنوب

Karena itu tanamkanlah rasa takut kita hanya kepada Alloh Ta’ala, bukan kepada Corona atau yang lainnya. Bergantunglah dan berharaplah hanya kepada Alloh Ta’ala bukan kepada manusia atau penguasa. “Saat kita bertakbir, maka hanya Alloh Ta’ala yang Maha Besar dan Maha Kuasa, Alloh SWT-lah tempat kita menghamba dan memuja, Allah SWT-lah tempat kita bermohon segala permintaan,” ucapnya.

Dalam khotbahnya, Ustadz HM Makhtum menyebutkan bahwa pada saat bertakbir, kita hanya takut kepada Alloh Ta’ala. Takut berbuat maksiat, takut berbuat yang diharamkan, takut makan barang haram. Sebab, akan mendarah daging. Bahkan makanan haram menjadi penghalang diterimanya do’a. Makanya, hasil haram jangan sekali-kali diberikan kepada anak, istri dan keluarga. Kenapa? Karena akan menjadi sebab terlempar ke lembah api neraka.

“Begitulah hakekat taqwa, dimanapun kita berada ketaqwaan selalu ada di dalam dada,” paparnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah

إتق الله حيثما كنت و اتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن. الحديث

Di dalam Al-Qur’an, Alloh Ta’ala telah berfirman

يا ايها الناس إنا خلقناكم من ذكر وانثى وجعلناكم شعوباً وقبائل لتعارفوا إن اكرمكم عند الله اتقاكم إن الله عليم خبير

الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

Hari ini kita telah kembali kepada fitrah manusia sejati, Fitrothul Islam, kesucian Islam, oleh sebab itu wajib bagi kita untuk terus menerus menjaga dan memeliharanya, jangan sampai mudah terkotori dan ternodai oleh noda dan dosa

قد افلح من تزكى وذكر اسم ربه فصلى
قد افلح من زكىها وقد خاب من دسىها

Mari kita jaga kesucian hati kita, kebersihan jiwa dan kejernihan akal kita, kita raih Maghfiroh Alloh, kita raih surganya Allah Ta’ala dengan berinfaq dan bershodaqoh baik dalam keadaan senang maupun susah, lapang maupun sempit, kita hilangkan rasa dendam dan amarah dengan saling memberi dan meminta maaf antar sesama.

Tebarkan salam, kedamaian, tumbuhkan kepekaan sosial, kokohkan tali silaturahim, budayakan adab kesopanan, perbaikilah hubungan antar tetangga, tegakkan sholat malam, maafkan orang-orang yang telah berbuat aniaya. Niscaya kampung-kampung atau kota-kota akan lebih semarak dan berkembang serta kebaikan-kebaikan pun akan dikenang oleh generasi mendatang.

“Mari kita jaga dan kuatkan Hablum minan naas kita dengan baik. Jangan sampai melukai atau menyakiti dan jangan pula gemar mendholimi. Sebab, hal tersebut bukan ciri seorang muslim. Disebutkan bahwa seorang muslim bilamana ia mampu memberikan rasa aman nyaman, kedamaian dan ketentraman dalam lingkungan hidup kita.

“Pada hari yang Fitri ini, kita saling memaafkan satu sama lainnya. Kita raih tangan orang tua kita, kerabat dan saudara kita, sahabat dan tetangga kita yang barangkali pernah berseteru dan berselisih paham dengan kita. Jadikan goresan dan luka hatinya sirna dengan permohonan maaf kita,” ucapnya.

Saat menutup khotbahnya, Ustadz HM Makhtmum menyarankan ketuklah pintu-pintu langit agar Allah Ta’ala senantiasa mencurahkan rahmat dan keberkahan pada kita. “Semoga pada hari ini kita betul-betul menjadi manusia paripurna yang telah mendapatkan predikat Muttaqien dan berusaha melanjutkan spirit nilai-nilai Tarbiyah selama bulan suci Romadhan,” pungkas Ustadz HM Makhtum. □ RED/AGUS SANTOSA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here