PosBeritaKota.com
Syiar

PUNYA NILAI HUMAN INTEREST, PROGRAM BERBAGI JUM’AT BERKAH ‘SEJADAH BABE’ KETEMU 2 BOCAH PEMULUNG

BEKASI (POSBERITAKOTA) – Boleh jadi jika masa pandemi COVID-19 tak menimpa kehidupan kita selama dua tahun berjalan belakangan ini, kedua sosok bocah kakak beradik yang bernama Aliyah (10 tahun) dan Wisnu (9 tahun), juga tak harus hidup sebagai pemulung alias pencari barang-barang bekas.

Sebab, dalam kesehariannya selama ini, keduanya mengaku kadang harus bolos dari sekolah demi membantu kehidupan orangtuanya. Sedangkan yang ada dalam pikirannya, bagaimana kehidupan keluarga mereka tak mengalami kesulitan ekonomi atau setidaknya setiap hari bisa makan?

Keduanya pun harus keliling dari perumahan ke perumahan hanya untuk mencari barang-barang bakas. Dari barang bekas yang didapat, bisa berupa kardus maupun gelas dan botol plastik serta barang tak bermanfaat lain, nantinya bisa dijual ke pengepul. Bahkan, diakui keduanya, belum tentu dalam seharian bisa dapat penghasilan (uang).

Begitulah sosok Aliyah dan Wisnu yang ditemui Tim SEJADAH BABE saat keliling wilayah Babelan, Bekasi. Program Berbagi Jum’at Berkah di pekan ke-24 (Jum’at 21/1/2022), mendistribusikan sebanyak 40-an nasi boks dan Vit botol yang merupakan donasi dari anggota komunitas SEJADAH BABE dari warga dan jamaah masjid di lingkungan RW 025 VGH maupun luar (eksternal).

Berkat POSBERITAKOTA sebagai media partner yang juga rutin mempublish kegiatan, SEJADAH BABE pun mulai dikenal luas oleh publik (masyarakat) diluar wilayah Babelan, Bekasi. Sampai akhirnya ada dari kalangan personal artis, tokoh politik, pejabat, pengusaha maupun kalangan wartawan mulai tertarik untuk ikut berpartisipasi.

Program syiar keagamaan atau ingin mengajak berbuat kebaikan lewat sedekah/amal jariyah dan sosial kemasyarakatan satu ini, filosofinya ingin berjalan seperti air yang terus mengalir. Bahkan konsistensi atau kesinambungannya ingin terus ada dan eksis ditengah-tengah kehidupan masyarakat di wilayah Bebelan, Bekasi.

Bapak Pei (48 tahun) dan ibu Yanti (62 tahun), juga ditemui secara acak di wilayah Babelan, Bekasi. Kedua kerja sebagai pemulung. Bicara soal penghasilan, menurut keduanya, masih tak menentu. Kadang baru dapat duit antara Rp 50 atau Rp 100 ribu dalam 2 hari sekali.

“Ibu kerja memulung, karena anak-anak nggak bisa bantu lagi. Mereka sudah pada menikah dan kerjanya juga serabutan. Jadi, ibu harus cari uang sendiri, ya buat makan sehari–hari,” jelas perempuan berstatus janda dan ibu dari 2 anak tersebut.

Tim SEJADAH BABE pun mendapat respon positif manakala menemui tidak kurang dari 10-an tukang ojek pengkolan di Pintu Gerbang VGH Barat, Kebalen, Babelan. Mereka dengan senang hati menerima distribusi nasi boks/Vit botol. Ada dari mereka yang menikmati langsung untuk sarapan pagi.

Kang Dhani (35 tahun), penjual jemuran besi yang sedang keliling di wilayah RW 025 Perumahan VGH Kebalen, Babelan, juga disasar program SEJADAH BABE. “Sehari-harinya harus keliling cari pembeli. Kadang laku dan sering juga dua atau hari, nggak ada yang beli,” ucap pria perantau asal Garut, Jawa Barat tersebut.

Ada pula Pak Yanto (64 tahun), Pak Ipin (38 tahun) dan ibu Fitri (34 tahun) – dalam kesehariannya bergelut dengan barang-barang bekas. Mereka selain memulung, juga sebagai penampung. Jika dihitung-hitung, penghasilan setiap bulan agak lumayan. Bisa untuk biaya hidup keluarganya.

Pak Untung Mulyono (62 tahun) dan Rio (20 tahun), juga ditemui Tim SEJADAH BABE di Perumahan VGH Gerbang Timur. Keduanya bekerja sebagai tukang cuci motor dan mobil serta tukang kayu.

Saat melintas di Perumahan Taman Kebalen, Babelan, Bekasi – program SEJADAH BABE juga berbagi kepada dua orang penjaga keamanan yang masing-masing bernama Bapak Zulkarnaen (54 tahun) dan Bapak Arfan (48 tahun). Keduanya melakoni pekerjaannya tersebut, sudah lebih dari 5 tahun.

Bapak Mardikun (62 tahun) dan Bapak Azil (38 tahun), keduanya pedagang buah-buahan yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan raya di Kelurahah Bahagia (Masjid At-Taqwa Pusat), Babelan, Bekasi. Hampir setiap hari menjajakan dagangannya demi mengais rejeki. Jika mereka dapat untung dalam sehari antara Rp 75 sampai Rp 100 ribu, sudah sangat disyukuri.

Bapak Parno (55 tahun), pedagang air bersih, mengaku sudah 10 tahun menjalani pekerjaan tersebut. Beruntung sudah punya banyak langganan. Makanya dalam setiap seharinya bisa dapat penghasilan antara Rp 50 sampai Rp 100 ribu.RED/AGUS SANTOSA

Related posts

Isi Kultum ‘Malam ke-14 Taraweh’, USTADZ HM MAKHTUM Ajak Jamaah Menjaga & Merawat Amalan Ibadah hingga Hari Kiamat

Redaksi Posberitakota

ACARA MAULID NABI MUHAMMAD SAW, BAH KASPIN ISI TAUSIYAH DI MASJID AL-MUNA DESA CENGKONG PURWASARI KARAWANG

Redaksi Posberitakota

Gelar Buka Bersama, SEDULUR JOKOWI Ajak Yatim Piatu dan Kaum Dhuafa

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang