29.9 C
Jakarta
5 October 2022 - 12:14
PosBeritaKota.com
Syiar

Khutbah Jum’at di Istiqlal, PROF DR KH MIFTAH FARIDL Kupas Tema ‘Islam Rahmatan Lil’alamin’

JAKARTA (POSBERITAKOTA) □ Dalam khutbah Jum’at di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, selaku khotib Prof Dr KH Miftah Faridl mengupas tema bertajuk ‘Islam Rahmatan Lil’alamin‘, Jumat 24 Dzulqaidah 1443 Hijriyah/24 Juni 2022 Masehi. Seperti biasa tidak kurang dari puluhan ribu jamaah sholat Jum’at yang datang dari segala penjuru Ibukota dan sekitarnya – nampak khusuk menyimak materi yang disampaikan.

Sebagai pembuka khutbahnya, KH Miftah mengucapkan puji dan syukur kita panjatkan kekhadirat Allah subhanahu wata’ala, shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah shallalahu’alaihi wasallam beserta segenap keluarga dan para pengikutnya hingga akhir zaman. Allah subhanahu wata’ala mengutus Beliau untuk menebar kasih sayang kepada seluruh alam.

Artinya: “Dan, Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (QS.Al-Anbiya: 107).

“Kepada umatnya beliau menyampaikan pesan-pesan moral agar ummatnya menjadi umat yang berakhlak mulia, membangun kasih sayang sesama mereka dan kasih sayang kepada seluruh alam semesta. Beliau dengan semangat kasih sayang berusaha keras agar umatnya membangun budaya kasih sayang. Kasih sayang tidak hanya untuk keluarga, tidak hanya untuk teman-teman seiman tapi kasih sayang terhadap semua makhluk Allah subhanahu wata’ala,” tuturnya.

Menurut KH Miftah dalam menyikapi, Allah subhanahu wata’ala menyampaikan pesan : “Janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah bumi itu baik”. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

Artinya : “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik(QS. Al-A’raf : 85).

Allah subhanahu wata’ala juga berfirman : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah SWT merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar” (QS. Ar-Rum/30 : 41).

Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

“Alam ini rusak karena tangan-tangab jahat manusia. Untuk itu manusia perlu disadarkan agar mereka tidak merusak alam. Sebab, kalau alam dirusak maka pada saatnya alam akan merusak manusia,” paparnya, lagi.

Digambarkan KH Miftah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pernah mengutuk seorang Wanita yang mengurung kucing sampai mati lantaran tak diberi makan. Sebaliknya, Beliau pernah memuji seorang wanita yang akhlaknya tidak baik, tapi sempat menolong memberi minum seekor anjing yang hampir mati karena kehausan.

Selanjutnya, Beliau juga melarang memotong atau menyembelih hewan dengan pisau yang tumpul atau batu. Beliau juga melarang mengakiti hewan-hewan lainnya. Terhadap mereka yang melakukan pelanggaran umum hendaklah diberi hukuman yang adil dan penuh kasih sayang dan kalau mungkin masih bisa dimaafkan, maka sikap memaafkan itu sikap yang paling baik.

“Mereka yang didzalimi dijanjikan bahwa doa mereka akan dikabulkan. Allah subhanahu wata’ala mengutuk mereka yang memberikan hukuman yang berlebih-lebihan atau menghukum seseorang karena dendam atau karena marah,” ulas KH Miftah, panjang lebar.

Masih dalam khutbahnya, disebutkan pula bahwa proses pendidikan baik yang dilakukan oleh orangtua sendiri atau oleh seorang pendidik hendaknya dilakukan dengan semangat kasih sayang. Jadi, bukan karena densam atau karena emosi kemarahan.

Menebar semangat kasih sayang antara sesama manusia antara lain dikemas dalam pesan-pesan moral Beliau. Antara lain terbagi melalui 5 hal. Pertama, membuat orang lain gembira adalah shadaqah. Kedua, menampakan wajah yang cerah dan menyenangkan adalah bagian dari shadaqah.

Sedangkan hal ketiga, ucapan yang baik itu lebih baik daripada shadaqah yang disertai ucapan-ucapan yang menyakitkan atau Beliau berpesan “berucaplah dengan ucapan yang baik-baik atau diam tidak berucap”. Keempat, orang yang baik diantara kamu adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Terakhir yang kelima. Doa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam ketika Beliau disakiti dan didzalimi orang-orang jahat : “Allahummaahdi qaummi’innahum qaumum la ja’lamun” (Ya Allah berilah mereka petunjuk karena mereka orang yang belum tahu).

Menurut KH Miftah dalam menyikapi perbedaan keyakinan Al-Qur’an mengajarkan antara lain :

  1. Siap untuk berbeda menghargai ritual agama orang lain dengan tanpa mencampur-adukan dengan bentuk-bentuk ibadah masing-masing agama (QS. Al-Kafirun).
  2. Setiap muslim wajib menyebarluaskan Islam dengan cara yang baik, tidak dengan penghinaan, ejekan-ejekan dan tidak boleh ada paksaan (QS. An-Nahl : 125, Ali Imran : 159).
  3. Seorang muslim tidak boleh menghina Tuhan agama lain (QS. Al-An’am : 108).
  4. Berdakwah hendaknya dengan cara penuh hikmah dan pesan-pesan yang mengesankan (QS. An-Nisa : 63).
  5. Menyadarkan orang lain hendaknya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Kalau tidak bisa sabar tinggalkan sementara dengan cara baik (QS. Al-Muzzammil : 10).
  6. Berbuat kebaikan kepada siapapun hendaknya dilakukan dengan ikhlas agar dapat bernilai sebagai ibadah.
  7. Islam mengajarkan akhlak mulia untuk terciptanya suasana kehidupan yang indah, nyaman, harmonis seperti yang dipesankan oleh QS. Al-Hujurat ayat 6 – 13.

7.1. Tabayyun (mengecek sumber informasi.

7.2. Islah (meluruskan dan mendamaikan).

7.3. Hindari Tasyiriyah (memperolok-olokan).

7.4. Hindari Talamuz (penghinaan).

7.5. Hindari Tanabazu bil Aqob (memanggil seseorang dengan gelar-gelar yang menyakitkan).

7.6. Hindari Tajazzus (mencari-cari kesalahan orang lain)

7.7. Hindari Suudzhan (berburuk sangka)

7.8. Hindari Ghibah (menggunjing, membuka ‘aib orang lain).

7.9. Menyadari adanya perbedaan jenis kelamin, suku, bangsa sebagai takdir dari Allah SWT untuk melahirkan semangat Ta’aruf, semangat kompetitif dalam ketaqwaan.

Kemudian, menurut KH Miftah, ada 6 (enam) pesan Rasulullah dalam pergaulan sesama muslim membangun dan merawat komunikasi yang baik dan harmonis :

  1. Menjawab salam apabila orang lain mengucapkan salam
  2. Memenuhi undangan apabila diundang
  3. Memberikan solusi kalau diminta saran/pendapat
  4. Menjawab bersin kalau orang lain bersin mengucapkan Alhamdulillah
  5. Mengunjungi dan mendoa’kan orang lain yang sakit
  6. Mengkafani, menyolatkan dan mengantarkan yang wafat ke kuburan

“Perbuatan-perbuatan itu termasuk yang disukai Allah SWT. Islam itu bersinar kalau umatnya dengan ikhlas melaksanakan ajaran Islam. Islam itu bisa tercoreng karena perilaku yang tidak baik dari umatnya,” ucapnya.

Ditambahkan KH Miftah bahwa da’wah dengan teladan itu sering-sering berkesan dan tidak membuahkan dendam dibandingkan dengan da’wah hanya dengan lisan, himbauan-himbauan atau seruan-seruan. Kesuksesan da’wah Rasulullah shallalahu ‘alaihi wassalam dan Ulama para pengikutnya tidak hanya karena luasnya wawasan ilmu, kefasihan lidah, ketajaman uraian dan tulisan, tapi terutama karena akhlak keteladanan yang syarat dengan kasih sayang.

“Kita yakin dan harus yakin bahwa Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat berhasil membangun masyarakat yang ideal selain karena ajarannya yang benar dan agung juga karena akhlak dan pribadi beliau-beliau yang mulia dan agung yang rahmatan lil’alamin,” jelasnya.

Karena itulah, lanjut KH Miftah, mari kita buktikan dengan amal dalam kehidupan kita. Bahwa Islam itu benar, baik dan indah. Jangan sampai terjadi orang lain benci, sinis, phobia, takut kepada Islam karena perilaku kita yang sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kita harus bekerja keras dengan ikhlas agar Islam nampak sebagai ajaran yang penuh kasih sayang. Seperti pesan moral seorang tokoh : “Al-Islam mahjubun bil muslimin. Tarakal masihiyun adyanahum fattakiddamu wa tarakal muslimin adyanahum fattakharu”.

Islam, ditambahkannya, terhalang oleh perilaku umat Islam sendiri, orang-orang Masehi meninggalkan agamanya, mereka menjadi maju dan orang-orang muslim meninggalkan agamanya, mereka menjadi tertinggal. “Isyhadu bi anna Muslimin“. Buktikan bahwa kita adalah Islam dengan akhlak Islam. Yakni, Islam rahmatan lil’alamin.

Dengan indah Al-Qur’an menggambarkan hamba-hamba Allah SWT yang disayang, Allah SWT sebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Furqan ayat 63 – 75.

Hamba-hamba Allah SWT yang berjalan di atas bumi dengan penuh wibawa. Kalau ada orang yang memperolok-olokan mereka membalas dengan salam. Mereka yang membiasakan sujud di shalat malam, mereka berdoa agar dijauhkan dari Adzab Jahannam, kalau berinfaq tidak berlebihan dan tidak pula kikir. Tidak membunuh manusia, fidak zinah, rajin beribadah, tidak bersaksi palsu. Kalau lewat mereka dengan kemulyaan tanpa kepalsuan, mereka tersentuh dan tidak sombong ketika dibacajan ayat-ayat Allah. Mereka semua biasa berdoa untuk kebaikan diri, keluarga dan keturunan.

“Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita sebagai ibadurahman yang istiqomah dan ikhlas mewujudkan Islam Rahmatan lil ‘alamin. Aqulu qauli hadza, fa astaqfirullahal adzim innahu huwal ghafurururahim,” tutup KH Miftah dalam khutbah Jum’atnya. ■ RED/AGUS SANTOSA

Related posts

Penerimaan ZIS Meningkat, PENGURUS YAYASAN Masjid Al-Furqan 2019-2024 Dikukuhkan

Redaksi Posberitakota

SELAIN KESADARAN INKLUSIVITAS MASYARAKAT, PONDOK PESANTREN AL-INAYAH AJARKAN PENTINGNYA MEMBANGUN KEKUATAN EKONOMI

Redaksi Posberitakota

Bukber ala RT 05/RW 25 VGH, MERAJUT SILATURAHMI WARGA di Bulan Suci Ramadhan

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang