Ibadah Umroh Bersama Keluarga, HENDARDJI SOEPANDJI Menempuh Perjalanan Sufistik ke Tanah Suci Makkah

ARAB SAUDI (POSBERITAKOTA) – Bisa menempuh perjalanan atau mendatangi Tanah Suci (Makkah) merupakan dambaan bagi siapapun. Apalagi maqam makrifatnya menawarkan pengalaman spiritual dan budaya dengan tingkatan tinggi. Dimana Tanah Suci memiliki banyak tempat yang kaya makna.

Bahkan dari setiap lokasi memiliki sejarah mendalam dan menjadi jantung bagi jutaan peziarah setiap tahunnya. Dari mulai masjid al-Haram di Makkah al-Mukarramah hingga masjid Nabawi di Madinah al-Mukarramah.

Sementara umat Islam dari berbagai penjuru dunia, selalu ingin ke Tanah Suci untuk melakukan ibadah haji atau umrah. Hal tersebut sebagai bentuk muhasabah (introspeksi) mendalam untuk mengenal diri sendiri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Begitu pun upaya perenungan hakikat dan menjadikan setiap langkah sebagai dzikir.

Bertepatan dengan penutup tahun 2025 ini, Ketua Umum Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), Mayjen TNI (Purn) Drs Hendardji Soepandji SH kembali menunaikan ibadah umrah bersama keluarga.

“Dulu, saya pertama kali melakukan ibadah umrah di tahun 1996 dan sudah haji tahun 2004. Bahkan, saya sudah beberapa kali umrah yang jumlahnya tidak terhitung,” cerita Hendardji Soepandji kepada wartawan yang menghubunginya visa WhatApps (WA), Sabtu (27/12/2025) malam.

Seperti diketahui bahwa Hendardji Soepandji beserta keluarganya berada di Tanah Suci Makkah dan Madinah al-Mukarramah, sejak Jum’at 19 Desember 2025 lalu hingga Sabtu, 27 Desember 2025 kemarin.

JADI ARENA MUJAHADAH (PERJUANGAN) RUHANI

Diakui Hendardji bahwa ibadah umrah atau haji merupakan bagian dari makrifatullah (mengenal Allah SWT) dan makrifaturrasul (mengenal Rasullullah SAW). Pengalaman metafisik yang membersihkan jiwa. Makkah sebagai arena mujahadah (perjuangan) ruhani evolusi eksistensial menuju Allah.

“Karena itulah, saya fokus selama 10 hari di Tanah Suci, guna menyempurnakan ibadah yang masih compang-camping,” ucap tokoh militer dan penggiat budaya ini.

Dikatakan Hendardji lebih lanjut bahwa dimensi hakekat harus menjadi tolok ukur derejat ibadah. Keunggulan ibadah, lanjut dia, adalah sepulang dari tanah suci terjadi evolusi dalam pola pandang dan perilaku. Lahir kesadaran keberagamaan yang tak hanya berhenti pada ritual, melainkan menghayati maknanya. Menjadi pribadi yang memiliki empati.

“Ibadah umrah pun juga dapat dikaitkan dengan implementasi kehidupan sehari-hari. Karena ibadah itu tidak hanya hablumminallah, tetapi juga hablumminannas. Al-Qur’an mengajarkan semua itu,” urainya, panjang lebar.

KELUARGA ‘MADRASAH’ UTAMA PEMBENTUKAN KARAKTER

Disebutkan Hendardji bahwa keluarga adalah “madrasah” utama pembentukan karakter spiritual yang berorientasi mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Miniatur semesta tempat ma’rifatullah (mengenal Allah SWT) dimulai.

Kemudian, berfokus pada penyucian jiwa, pengembangan akhlak mulia (kasih sayang, empati, keikhlasan), dan membangun hubungan yang harmonis dengan pasangan, anak, dan seluruh anggota keluarga.

“Saya ke Tanah Suci dengan seluruh keluarga. Delapan orang, bersama istri, anak, mantu, dan cucu. Harapannya mereka semua memiliki bekal yang cukup dunia dan akhirat untuk kehidupan yang lebih baik,” ungkapnya.

Keberadaan keluarga, menurut Hendardji, bukan hanya soal cinta duniawi. Tapi, sarana mencapai ma’rifatullah. Setiap anggota keluarga harus saling menuntun menuju keridhaan-NYA, menjadikannya ‘rumah’ ibadah dan perjuangan spiritual bersama.

BEKAL KEHIDUPAN SESUDAH KEMATIAN

Pada bagian lain, Hendardji juga menegaskanbahwa keberadaan Tanah Suci Makkah al-Mukarramah – dimana Ka’bah menjadi simbol spiritual utama — harus menjadi pintu gerbang kesadaran akan kebenaran Illahi. Mempersiapkan bekal taqwa untuk kehidupan abadi – hidup sesudah mati.

“Untuk persiapan pulang kepada Allah SWT. Sehingga ketaatan menjalankan syariat agama menjadi hal penting dalam hidup ini. Karena pada akhirnya semua orang akan meninggal. Ingat akan mati itu penting bukan berarti kita ingin cepat-cepat mati. Karena ini akan mendorong kita taat menjalankan perintah agama,” tegasnya.

TADABBUR ALAM DI OLD TOWN AL-ULA BERSAMA KELUARGA

Bersama anggota keluarganya, Hendardji melawat ke Kota Tua Al Ula situs bersejarah di Arab Saudi. Situs reruntuhan peninggalan sejarah kuno, termasuk 800 bangunan bata lumpur dan situs Madain Saleh (Al-Hijr). Peninggalan peradaban Nabatea dan kaum Tsamud yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

Ketika masa Nabi Saleh AS sekitar abad delapan sebelum Masehi, cerita Hendardji, penduduk kota ini pernah dilaknat Allah SWT berupa bencana alam, hujan dan petir. Seluruh penduduk tewas kecuali pengikut Nabi Saleh AS.

“Dilaknat, karena Allah SWT memberikan anugerah kemakmuran tapi penduduknya hidup dengan kesombongan dan tidak mau mengikuti perintah agama. Mereka menentang peringatan Nabi Saleh AS agar berhenti menyembah berhala,” cerita Hendardji mengenai fenomena Kota Tua Al Ula.

Di kota tua ini menyajikan pengalaman unik untuk menjelajahi bangunan kuno yang terbuat dari batu pasir serta pasar tradisional, yang masih mempertahankan suasana Arab autentik. Tahun 2018 pemerintah Arab Saudi mengembangkan kota tua ini sebagai kota wisata dunia.

“Bahkan di Kota Tua Al Ula ini nilai-nilai tradisi masih dipertahankan. Semua bangunan berasal dari tanah, batu, dan pasir, tidak ada bata dan semen. Penduduk kota ini makmur karena kawasan ini berada di lalu lintas perdagangan antar negara dan kaya sumber daya alam, terutama minyak,” kata Hendardji, lagi.

ALAM JADI RUANG KONTEMPLASI BAGI CIPTAAN-NYA

Pada setiap ciptaan dari partikel terkecil hingga galaksi, adalah pantulan dari Sifat-Sifat Allah SWT (Asmaulhusna). Semesta adalah cerminan (tajalli) dari wujud Mutlak (Allah SWT), sebuah “teater” Ilahi penuh simbol — di mana manusia (salik) menempuh perjalanan kembali menuju kepada-NYA (sangkan paraning dumadi).

Menurutnya lagi bahw alam semesta merupakan manifestasi nyata dari Sang Maha Pencipta, sebuah cermin yang memantulkan keindahan dan keagungan-Nya.

“Hal ini menjadi pengalaman spiritual saya. Di atas tanah yang gersang dan tandus itu, Allah SWT memberikan anugerah luar biasa berupa kemakmuran bagi penduduknya yang taat menjalankan ibadah,” jelasnya. .

UMROH SIMBOL TRANSFORMASI SPIRITUAL

Sedangkan ibadah umrah pada akhirnya, dikatakan Hendardji, lebih dari sekadar ritual. Melainkan juga perjalanan spiritual mendalam menuju Allah SWT (Mahabbah Ilahi).

Menjadi proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan pendekatan diri dengan meninggalkan sifat tercela serta memperkuat kualitas batin. Menjadikan setiap rukunnya sebagai simbol transformasi spiritual dari kekotoran duniawi menuju kesucian hakiki.

Labbaika allahumma labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syariikalaka : “Aku penuhi panggilan-MU, ya Allah SWT. Aku penuhi panggilan-MU. Tidak ada sekutu bagi-MU. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milik-MU, begitu juga kerajaan adalah Milik-MU. Tiada sekutu bagi-MU”. © RED/EDKAR /AGUS SANTOSA

Related posts

Dukung Kebijakan Gubernur Pramono, Plt Sekretaris DPW PPP DKI Muhammad Hatta Siap Bantu Gencarkan Sosialisasi Program Pilah Sampah

Di Kabupaten Badung Bali, BBTF 2026 Rampung dan Transaksi Pariwisata Capai Rp 6,9 Triliun

Hindari Perilaku Seks Menyimpang, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan Nikahkan Pasangan Pemulung di Kota Bekasi