PosBeritaKota.com
Nasional Opini

Jadi Tulang Punggung Ekonomi Rakyat, PASAR TRADISIONAL Terancam Punah & Negara Tidak Boleh Tinggal Diam

OLEH : MEL SOFYAN

PASAR tradisional adalah tulang punggung ekonomi rakyat Indonesia. Di sanalah jutaan pedagang kecil bertahan hidup, dan jutaan keluarga menggantungkan masa depan mereka. Namun hari ini, sebuah kenyataan pahit harus diakui secara jujur: pasar tradisional sedang berada di ambang kepunahan.

Bukan karena pasar tradisional kehilangan relevansi.
Bukan pula karena pedagangnya malas, kolot atau menolak perubahan. Pasar tradisional terancam mati karena perubahan zaman melaju terlalu cepat, sementara sistem dan kebijakan negara tertinggal jauh di belakang.

Pola konsumsi masyarakat telah berubah secara drastis. Hampir semua kebutuhan – mulai dari sandang, elektronik, hingga sayur-mayur dan bahan pokok – kini dapat dibeli hanya melalui layar ponsel. Cepat, praktis dan efisien.

Namun di sisi lain, sebagian besar pasar tradisional masih dipaksa bertahan dengan cara lama. Tanpa digitalisasi. Tanpa sistem pemasaran daring. Tanpa integrasi teknologi. Akibatnya, pasar rakyat tertinggal bukan karena kalah kualitas, tetapi karena kalah sistem.

Ironisnya, beban perubahan ini seolah sepenuhnya dipikul oleh pedagang kecil. Mereka yang sejak subuh hingga malam bekerja keras, kini harus berhadapan dengan revolusi digital tanpa pendampingan, tanpa perlindungan dan tanpa strategi kolektif.

Padahal pasar tradisional bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah ruang hidup ekonomi rakyat kecil, simpul sosial dan benteng terakhir ekonomi informal. Ketika pasar mulai sepi dan kios tutup satu per satu, persoalannya tidak lagi sederhana.

Yang terjadi bukan hanya penurunan transaksi, tetapi hilangnya mata pencaharian, runtuhnya ekonomi keluarga dan munculnya ancaman serius: potensi jutaan pengangguran baru.

Menyelamatkan pedagang pasar tradisional dan pedagang kecil sejatinya bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal mencegah ledakan masalah sosial. Ketika pedagang kehilangan penghasilan, daya beli keluarga ikut runtuh. Ketika daya beli runtuh, perputaran uang di tingkat bawah mengering. Dan ketika uang berhenti beredar di masyarakat bawah, krisis akan menjalar ke mana-mana.

Ini bukan alarm palsu. Ini adalah risiko nyata yang sedang terjadi di depan mata. Jika kondisi ini terus dibiarkan, pasar tradisional akan benar-benar tergilas oleh teknologi, dan negara akan mewarisi masalah sosial yang jauh lebih mahal untuk diselesaikan.

Di titik inilah, negara tidak boleh cuci tangan.

Pemerintah harus hadir secara serius untuk membenahi pasar tradisional, bukan sebatas membangun gedung atau mengganti atap. Yang dibutuhkan adalah regulasi dan kebijakan yang berpihak, yang melindungi pedagang kecil agar mampu beradaptasi dan tetap memiliki ruang hidup di tengah perubahan.

Pasar tradisional harus diperlakukan sebagai bagian strategis dari sistem ekonomi nasional. Artinya, diperlukan kebijakan yang memastikan uang tetap beredar di tingkat masyarakat bawah. Tanpa perputaran uang di tangan pedagang kecil, mustahil daya beli rakyat bisa meningkat.

Ketika daya beli melemah, pasar sepi.
Ketika pasar sepi, pedagang tumbang.
Dan, ketika pedagang tumbang, pengangguran tak terelakkan.

Solusinya sebenarnya tidak rumit. Pasar tradisional harus masuk ke ekosistem digital secara kolektif, bukan dibebankan secara individual. Pedagang kecil perlu difasilitasi dengan sistem pemasaran bersama, pembayaran non-tunai yang sederhana, serta distribusi yang efisien dan terjangkau.

Dengan cara ini, pedagang kecil tidak kehilangan identitas, tidak tersingkir, dan tetap memiliki daya saing. Digitalisasi bukan musuh pasar tradisional. Justru itulah satu-satunya jalan agar pasar rakyat tetap hidup.

Transformasi pasar tradisional bukan tentang menolak modernitas, melainkan tentang menjemput masa depan dengan cara yang lebih adil dan beradab.

Jika kita sungguh ingin pasar tradisional tetap menjadi penopang ekonomi rakyat, maka perubahan harus dimulai sekarang. Karena menunda berarti membiarkan pasar rakyat mati perlahan.

Dan, itu adalah harga sosial yang terlalu mahal untuk dibayar oleh bangsa ini. (***)

(PENULIS : MEL SOFYAN adalah Pemerhati Pasar Tradisional dan Pedagang Kecil, kini tinggal di Jakarta)

Related posts

JELANG HUT KE-76 KEMERDEKAAN RI, BUNDA MILENIAL BIKIN GERAKAN TUKAR 1000 BENDERA MERAH PUTIH SECARA GRATIS

Redaksi Posberitakota

Komunitas X-Kalonk Serbu Slawi Bagi-bagi Sembako Kunjungi Panti Asuhan

Redaksi Posberitakota

Beri Kemudahan Layanan Zakat, BAZNAS Gandeng OY! Bantu Korban Sulteng Rp 58 Juta

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang