JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Dengan menyalakan 1000 lilin sebagai simbol cahaya atau harapan serta panjatkan doa bersama, begitulah cara yang dilakukan perancang busana Migi Rihasalay dalam berempati terhadap bencana banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatera (Aceh, Sumut, Sumbar).
Momentum tersebut dilaksanakan saat dirinya dan keluarga yang dihadiri para undangan dari kerabat dekatnya, menggelar acara Malam Tahun Baru 2026. Bahkan, perayaannyan pun secara bergiliran dilakukan di 2 tempat eksotis. Masing-masing di Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah dan Kampung Joglo Kabupaten Pandeglang, Banten.
“Tentu, saya pun tak lupa harus menyampaikan terima kasih khususnya kepada suami Andrew James, keluarga, kerabat serta teman-teman yang turut berpartisipasi dalam mensukseskan perayaan Malam Tahun Baru,” ungkap Migi Rihasalay kepada wartawan di Jakarta, Kamis (1/1/2025).
Dikatakan Migi bahwa perayaan pelepasan tahun 2025 dan penyambutan 2026 memang sengaja diadakan dalam suasana berbeda. Maksundya adalah supaya menjadi kenangan tersendiri bagi Migi dan keluarga.
Namun untuk perayaan kali ini jauh lebih sederhana jika dibandingka tahun sebelumnya. Kenapa? Ia bilang karena Ibu Pertiwi saat ini sedang berduka atas musibah bencana alam di Sumatera yang sangat memilukan.
“Makanya dalam perayaan kali ini, kami lebih fokus pada pembacaan doa untuk saudara-saudara kita di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat. Juga untuk daerah lain yang saat ini masih berjuang mengentaskan diri dari musibah banjir bandang,” papar Migi, seorang perancang busana yang juga menguasai berbagai jenis seni lainnya.
Adapun selama berlangsungnya acara perayaan Malam Tahun Baru, tidak ada kesan hura-hura maupun foya-foya. “Jadi, perayaan dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka, dilanjutkan dengan doa, menyalakan 1.000 lilin serta hiburan seadanya. Karena saat ini masih dalam rangka berbelasungkawa,” ucap Migi lagi yang juga dikenal sebagai sosialita dan sering terlibat dalam kegiatan sosial maupun pelestarian lingkungan.
Perlu diketahui bahwa Migi dan suami sengaja memilih lilin karena punya banyak simbol. Antara lain seperti kedamaian, keikhlasan, cahaya, harapan, kehidupan dan lainnya.
“Harapannya, semoga simbol ini memotivasi saudara-saudara kita yang tengah tertimpa musibah agar senantiasa ikhlas, punya harapan kedepan dan sebagainya,” imbuh Migi yang setia didampingi Andrew James (suami) yang merupakan arsitek asal Australia.
Sedangkan soal pemilihan lokasi perayaan di Karimunjawa maupun Kampung Joglo, keduanya punya kesan mendalam bagi Migi dan Andrew. Karimunjawa yang berada di Kabupaten Jepara, merupakan daerah yang paling sering dikunjunginya untuk berburu kayu Rumah Joglo sebagai cikal bakal pembangunan Kampung Joglo yang merupakan komplek dari enam unit rumah joglo di Pantai Tanjung Lesung.
Tidak kurang dari delapan tahun lamanya, pasangan suami-istri ini berburu mengumpulkan bahan-bahan kayu jati dari Jepara diboyong ke Tanjung Lesung untuk dibangun Kampung Joglo. Untuk pembangunan rumah kreatif seni sekaligus tempat pelesiran heritage ini diharapkan turut berkontribusi pada nilai wisata di Pandeglang. © RED/AGUS SANTOSA