JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Film ‘The Bell: Panggilan untuk Mati’ yang merupakan karya terbaru hasil koloborasi produksi Sinemata Buana Kreasindo bakal menghadirkan teror hantu ‘Panebok‘ tanpa kepala ke penonton di Tanah Air. Dan, seperti diketahui bahwa hantu tersebut menjadi mitos di Pulau Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Setelah merilis secara resmi poster utamanya (Selasa7 April 2026), film ‘The Bell: Panggilan untuk Mati’ itu sendiri siap edar pada 7 Mei mendatang di bioskop-bioskop.
Seperti diketahui pula bahwa ditengah trend film horor lokal yang terus mendominasi pasar, ‘The Bell : Panggilan untuk Mati‘ justru hadir dengan pendekatan berbeda. Yakni mengangkat folklore yang masih jarang tereksplorasi ke layar lebar.
Bahkan, sosok Penebok alias hantu tanpa kepala, bukanlah sekadar figur menyeramkan. Tetapi, juga merupakan representasi dari cerita rakyat yang hidup ditengah masyarakat.
Adapun untuk poster yang dirilis memperlihatkan atmosfer gelap dan mencekam, dengan visual Penebok sebagai pusat ancaman. Sosok hantu tanpa kepala berbalut gaun merah ini menghadirkan rasa tidak utuh yang justru memperkuat elemen teror sekaligus membangun identitas horor baru yang kuat.
Lewat karyanya tersebut, Jay Sukmo yang dipercaya sebagai sutradara film ‘The Bell : Panggilan untuk Mati’, ingin menyampaikan bahwa film ini ingin memperluas cara pandang penonton terhadap horor Indonesia.
“Kenapa? Karena, film horor Indonesia sedang berada di fase yang sangat menarik. Penonton pun bukan hanya mencari rasa takut. Tetapi, juga cerita yang punya akar budaya. Yang jelas, Penebok di sini, kami hadirkan sebagai representasi dari kekayaan cerita lokal yang belum banyak diangkat,” terang Jay Sukmo.
Sedangkan produser Rendy Gunawan berkolaborasi dengan Aris Muda Irawan yang juga sebagai produser, menekankan pentingnya membangun karakter yang ikonik dalam lanskap horor saat ini.
“Tentunya, kami ingin menghadirkan sesuatu yang bukan hanya menakutkan, tapi juga punya identitas kuat. Penebok adalah upaya kami menciptakan ikon horor baru yang lahir dari budaya sendiri. Selain bisa diingat penonton dalam waktu lama,” ungkap Rendy Gunawan.
Disebutkan bahwa dengan mengambil latar serta nuansa urban dan mistis khas Belitung, film ‘The Bell: Panggilan untuk
Mati’, benar-benar ingin menghadirkan pengalaman horor yang baru plus segar. Dan, sekaligus memperkuat posisi
cerita lokal ditengah persaingan industri film nasional.
Sementara itu film ‘The Bell : Panggilan untuk Mati’ antara lain melibatkan pemain : Ratu Sofya, Bhisma Mulia, Shaloom Razade, Givina Dewi, Mathias
Muchus, Septian Dwi Cahyo, Nabil Lunggana dan Maulidan Zuhri.
Untuk Eksekutif Produser : Budi Yulianto dan Avesina Soebli – Produser : Aris Muda Irawan dan Rendy Gunawan – Sutradara : Jay Sukmo – Penulis : Priesnanda – Co-Produser : Agus Suhardi – Lini Produser : Purwono serta DoP : Indra Suryadi. © RED/AGUS SANTOSA