Setelah Berhasil di Sunter, PEMPROV DKI Rencana Bangun Lagi 3 ITF

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Dalam upaya mengurangi ketergantungan buang sampah ke TPST Bantar Gebang, Bekasi, Pemprov DKI Jakarta berencana membangun empat lokasi pengolahan sampah modern. Namanya Intermediate Treatment Facility (ITF) yang mana pembangunan yang pertama ajan dilakukan di Sunter, Tanjung Priok, selanjutnya menyusul di Marunda, Cakung dan Duru Kosambi.

Peletakan batu pertama ITF Sunter akan dilakukan pada Desember oleh Gubernur DKI Jakarta. Sedangkan tiga lokasi lainnya masih dalam tahap pengkajian. Dengan adanya ITF Sunter nantinya bisa mengurangi pembuangan sampah ke Bantar Gebang karena fasilitas ini diprediksi mampu mengolah sampah sekitar 2.000 ton/hari. Sedangkan volume timbulan sampah di Ibukota berkisar 7.500 ton sehari.

Direktur Proyek ITF, Aditya Laksana, menuturkan bahwa wacana pembangunan ITF di tiga wilayah tersebut adalah Marunda, Cakung-Cilincing, dan Duri Kosambi. Artinya, selama proses pengerjaan ITF Sunter, PT Jakpro bakal melakukan kajian dan pendalaman lagi untun menambah jumlah ITF.

“Setelah groundbreaking bulan depan kita akan langsung mengejar kemungkinan ITF di tiga wilayah itu. Jadi kita bekerja secara simultan,” kata Aditya, di Jakarta, Jumat (2/11).

Menurutnya kondisi lahan di tiga wilayah tersebut harus memenuhi syarat seperti ITF Sunter yang luasnya minimal 3 hektar agar masing-masing bisa menampung serta mengolah 2.000 ton sampah setiap harinya.

ITF Sunter, ujar dia, merupakan kunci dari pembangunan ITF penghasil energi (waste to energy). Teknologi daur ulang sampah yang digunakan diharapkan mampu menghasilkan listrik dengan kapasitas 40 megawatt. “Kami juga mendapatkan subsidi dari PLN mengenai listriknya. Bahkan, kami dibebaskan dari pajak selama 7 tahun pengoperasian awal,” tuturnya.

Dalam merealisasikan teknologi ITF yang diinginkan, Jakpro mengadopsi sistem di Eropa yang telah terbukti ramah lingkungan. “Atas dasar itu, pihak Jakpro menjalin kerja sama dengan Fortum, perusahaan konstruksi ITF dari Finlandia,” jelas Aditya sambil menambahkan limbah sampah yang bisa diolah di ITF Sunter dikecualikan untuk limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari barang elektronik.

Sedangkan limbah tembaga, alumunium atau besi-besi untuk bahan kunci bisa diolah menjadi bahan aspal maupun batu bata. Pihaknya optimistis pengerjaan ITF Sunter tidak akan mengalami penundaan lagi meskipun dari dulu pengerjaannya masih sebatas wacana.

Dengan berhasilnya ITF dibangun di Jakarta, maka Indonesia bakal memiliki contoh teknologi pengolahan sampah untuk pertamakalinya. “Idealnya DKI Jakarta memiliki lima ITF yang bisa mengolah limbah sampah mencapai 10.000 ton per hari,” terangnya. □ RED/JOKO.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here